Gelar sarjana cumlaude awalnya terdengar prestisius. Seolah dengan gelar tersebut jalan untuk mendapat pekerjaan di bursa kerja otomatis terbuka lebar. “Sarjana cumlaude” dibayangkan sebagai satu hal dalam CV yang bisa membuat silau dan memikat HR perusahaan.
Bayangan tersebut tidak sepenuhnya salah. Tapi yang dialami oleh alumnus PTS di Jogja ternyata berbanding terbalik dengan apa yang ia bayangkan perihal gelar sarjana cumlaude yang ia sandang.
Tutup sebagian wajah karena malu sebagai jobless
Ada satu ciri yang umum ditemukan di setiap job fair: banyak orang datang dengan mengenakan masker. Begitu juga pemandangan yang saya dapati saat mendatangi Job Fair 2026 di Kota Jogja pada Rabu (15/7/2026) lalu.
“Kalau aku pribadi jujur pakai masker karena malu aja. Apalagi kalau ketemu sama orang yang kenal kita,” ujar Patel, bukan nama asli, saat akhirnya mau berbincang kalau identitasnya tidak dibeberkan terang-benderang.
Patel mengaku menanggung malu sekaligus gengsi karena beban status yang ia sandang, yakni sebagai seorang sarjana cumlaude. Terlebih jika mengingat omongan-omongan besarnya sejak awal lulus dari sebuah PTS di Jogja.
Bagi pemuda asli Jogja tersebut, rasanya rendah sekali menjadi sarjana cumlaude yang harus lontang-lantung bawa berkas lamaran kerja di job fair. Sementara selama ini ia punya anggapan bahwa orang yang datang ke job fair adalah orang-orang jobless yang benar-benar mentok.
“Sombongkan” gelar sarjana cumlaude ke teman dan orang tua
Lulus kuliah dari sebuah PTS di Jogja pada 2025 lalu, Patel mengaku larut dalam euforia gelar sebagai sarjana cumlaude yang ia sandang. Setiap kali ada teman yang mengajaknya berfoto, selempang wisuda bertuliskan “cumlaude” tidak akan ia lepaskan. Bahkan pasti ia memasang pose jari telunjuk menunjukkan selempang tersebut.
Jujur saja, Patel mengakui kalau gelar tersebut membuatnya merasa lebih unggul dari teman-temannya. Gelar tersebut seolah menjadi legitimasi bahwa dirinya adalah salah satu sarjana terbaik di PTS Jogja tersebut.
“Ya itu kesombongan yang diam-diam ada di diriku. Karena dengan label sarjana cumlaude, aku juga berpikir, ah sepertinya gampang buat cari kerja nanti,” ujarnya. “Padahal itu paradigma lama, menganggap HR perusahaan akan silau dengan predikat cumlaude dan IPK tinggi.”
Gelar sarjana cumlaude itu pada awalnya memang membuat orang tua Patel bangga. Karena artinya biaya pendidikan mahal yang dikeluarkan orang tua tidak sia-sia.
Itulah kenapa Patel sempat sangat percaya diri. Belum lama setelah wisuda, Patel selalu update ke orang tuanya kalau ia tengah melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan incaran di luar Jogja: paling banyak di Bandung dan Jakarta.
“Pernah ada yang sampai tahap interview. Baru di tahap interview, tapi aku bilang ke orang tua kalau selangkah lagi keterima. Padahal ending-nya nggak ada balasan lagi,” ucap Patel sembari membenarkan masker yang menutup sebagian wajahnya.
Jadi canggung dengan ortu, hindari nongkrong karena malu
Orang tua Patel sebenarnya tidak mempermasalahkan amat kondisi Patel yang sampai saat ini tidak kunjung bekerja. Karena memang belum ada yang nyantol.
Setidaknya kesan itulah yang diperlihatkan orang tuanya di hadapan Patel. Patel kerap berprasangka buruk, jangan-jangan orang tuanya memendam kecewa.
Tapi Patel kepalang malu karena selama ini terkesan memberi harapan palsu ke orang tuanya: selalu bilang punya potensi diterima kerja di perusahaan incaran di Ibu Kota, tapi ujung-ujungnya tetap nganggur juga.
“Rasanya kayak canggung gitu ke orang tua. Karena akhirnya aku kan masih minta uang dari mereka. Buat bensin, buat paket internet, buat jajan,” ungkap Patel.
Karena uang saja masih minta orang tua, Patel pun menghindari ajakan nongkrong dari teman-teman kuliahnya dulu.
Beberapa teman Patel memang masih kerap mengagendakan nongkrong seminggu sekali di akhir pekan. Patel kerap absen dengan beragam alasan. Meski alasan sebenarnya adalah malu.
“Malu lebih tepatnya, karena beberapa dari mereka, meski bukan sarjana cumlaude, sudah pada kerja,” ujar Patel.
Gengsi kalau kerja UMK Jogja dan pilihan terakhir jika mentok
Sebenarnya Patel menyadari, salah satu faktor yang membuat ia masih nganggur adalah karena terjebak gengsi. Sebagai sarjana cumlaude dari sebuah PTS di Jogja, ia merasa gengsi kalau kerja dengan UMK Jogja. Masa iya gajinya sebagai sarjana cumlaude sama dengan gaji temannya yang IPK-nya biasa-biasa saja?
Namun, kini ia mencoba membuang jauh-jauh faktor yang menghambat peluang kerjanya tersebut. Apalagi setelah ia berbincang dengan salah satu sahabatnya. Patel diingatkan, in this economy kalau memelihara gengsi ya mati kelaparan.
“Ya itu kenapa aku ikut job fair. Masih malu, makanya pakai masker. Tapi aku sadar harus kulakukan kalau memang pengin dapat kerjaan,” ungkap Patel.
Bahkan, Patel sempat berpikir ngurir paket atau ngojol menjadi pilihan terakhir jika memang ia benar-benar mentok. “Kayaknya itu ada di pikiran banyak orang kalau mentok: jadi ojol aja, nggak ada syarat macam-macam,” tutup Patel sebelum akhirnya pamit meninggalkan Auditorium LPP Agro Nusantara saat matahari tengah terik-teriknya.
IPK dan gelar sarjana cumlaude sudah tidak penting-penting amat di mata HR?
Apa yang terjadi pada Patel sebenarnya sudah dilaporkan oleh Coursera dan Rep Data: bahwa saat ini IPK tinggi tidak menentukan seorang sarjana bisa lantas dengan mudah mendapat kerja.
Dalam Laporan Dampak Micro Credentials 2026 yang diterbitkan Coursera itu disebutkan, perusahaan kini lebih mengutamakan bukti keterampilan yang dimiliki pelamar dibandingkan indikator tradisional, seperti indeks prestasi kumulatif (IPK) maupun nama perguruan tinggi.
Hasil survei menunjukkan 98 persen perusahaan di tujuh negara (Amerika Serikat, Inggris Raya, India, Arab Saudi, Meksiko, Indonesia, dan Filipina) telah menerapkan perekrutan berbasis keterampilan (skill based) untuk posisi entry level.
Khusus dalam konteks Indonesia, tercatat hampir 100 persen pemberi kerja yang disurvei menyatakan telah menerapkan perekrutan berbasis keterampilan. Sebanyak 97 persen mengaku menggunakan pendekatan tersebut secara luas untuk posisi entry level.
Sebanyak 96 persen perusahaan di Indonesia bahkan menyatakan bahwa karyawan entry level yang memiliki micro credentials menunjukkan kinerja lebih baik pada tahun pertama.
Laporan itu semakin menguatkan betapa IPK dan gelar cumlaude tidak punya daya tawar kuat jika tidak dilengkapi dengan micro credentials. Coursera pun mencatat, 67 persen pimpinan perguruan tinggi di Indonesia menilai kampus yang tidak mengintegrasikan micro credentials ke dalam program pendidikan menghadapi risiko strategis pada tingkat sedang hingga tinggi.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














