Saban sore, Lestari (53) memungut sampah terutama botol plastik di sekitaran Stasiun Klaten menggunakan sepeda ontel. Biasanya ia mengayuh sepeda dari Pasar Srago dan memarkirkannya di dekat kafe yang jaraknya hampir 1 kilometer.
Sembari membawa karung goni, Lestari mulai berjalan untuk mencari botol plastik di sekitaran Stasiun Klaten sebelum diangkut duluan oleh petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Berdasarkan pengalaman Lestari, ia tak pernah diusir oleh petugas berbaju oranye dan justru dianggap membantu mengurangi volume sampah, yang timbunannya diperkirakan mencapai 300 ton per hari.
Guna menangani masalah sampah, Klaten telah mendirikan sejumlah tempat pengolahan sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle (TPS 3R), serta sekitar 80 bank sampah. Namun, upaya ini tak bisa diselesaikan satu pihak.
Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) Jawa Tengah, Suyanto menegaskan persoalan sampah harus dimulai dari hulu yakni individu dan rumah tangga, termasuk pemulung. Sebab, kata dia, pemulung selama ini masih menjadi kelompok masyarakat yang terpinggirkan.
“Selama ini pemulung masih dianggap kaum marginal, disisihkan, padahal punya kontribusi besar untuk pengurangan dan pemanfaatan sampah. Di dunia bahkan sejak 2023 pemulung sudah memisahkan diri dari ILO (organisasi buruh internasional) dan berdiri sendiri,” kata Suyanto dikutip dari Detik Jateng, Senin (25/5/2026).
Upah yang didapat dari memulung
Setelah mengumpulkan sampah selama kurang lebih 2 jam, Lestari akan membawanya dengan mengikat sampah di sepedanya untuk dibawa ke pengepul. Kebetulan jarak pengepul dari Stasiun Klaten tak terlalu jauh.
Lestari menjelaskan satu kilogram botol plastik tanggung (600 mililiter) dihargai Rp1.200 oleh pengepul. Menurutnya, harga ini jauh lebih murah dibandingkan dulu yang bisa mencapai Rp3.500 per kilogramnya.
Sementara satu kilogram gelas plastik harganya lebih mahal, yakni Rp2 ribu per kilogram. Namun, Lestari tetap merasa bersyukur karena Klaten kini sudah ramai dikunjungi wisatawan. Terlebih karena banyaknya kafe dan rumah makan yang mulai buka di sekitar Stasiun Klaten.
Saat libur lebaran Idul Fitri 2026 kemarin, Kabupaten Klaten menempati posisi ke-2 di Provinsi Jawa Tengah sebagai tempat yang banyak digandrungi wisatawan. Lebih eksis dari kota tetangga seperti Jogja dan Solo.
Ikut berkontribusi mengurangi sampah di Klaten
Peningkatan jumlah wisatawan di Klaten nyatanya turut mempengaruhi ekonomi warga lokal, termasuk Lestari yang sehari-hari mencari botol plastik.
Sayangnya, Lestari berujar tak banyak botol plastik yang ia kumpulkan dari sampah-sampah di kafe secara langsung, sebab mereka lebih banyak menggunakan gelas kaca untuk diminum di tempat.
Salah satunya Juli Bakery & Cafe yang lokasinya hanya 200 meter dari Stasiun Klaten. Manajer Operasional Juli Bakery & Cafe, Hafid (27) menjelaskan kafenya memiliki limbah botol kaca premium yang seharusnya bisa dikumpulkan ke fasilitas penampungan di Solo atau Jogja.
Namun, hal itu belum berjalan karena biaya logistik dan bensin yang ternyata lebih besar daripada uang ganti daur ulang botol. Mengingat kafenya yang baru buka, Hafid juga belum punya kendaraan khusus untuk mengantar limbah tersebut ke luar kota.
“Akhirnya cuma kami buang ke satu tong sampah tapi kami masukkan dalam kardus untuk isolasi agar petugas pemungut sampah tidak terluka saat mengambilnya,” kata Hafid.
Hal yang sama juga dilakukan pemilik Kopi Bingah di Klaten. Supervisor Kopi Bingah, Theo (31) berujar kafenya juga memakai gelas kaca dan hanya memakai gelas plastik untuk pembeli yang ingin membawa pulang.
Meski hanya bisa mengumpulkan 1-2 kilogram botol plastik dalam sehari, Lestari tetap bersyukur karena jadi tak perlu pulang-pergi dari Klaten ke Jogja, sehingga bisa menghabiskan waktunya bersama keluarga.
“Saya lahir di sini dan sudah kerasan. Bersyukur Klaten sekarang sudah ramai,” ucap Lestari ditemui secara terpisah, Sabtu (25/4/2026).
Memulung sebagai kerja sampingan, asal bisa kerja di Klaten
Lestari sendiri belum sampai satu tahun mencari botol plastik. Dulu, ia menjadi petani melon di Gamping, Kabupaten Sleman dan harus pulang pergi memakai commuter line dari Klaten. Setelah 15 tahun, Lestari memutuskan kembali ke Klaten alias kampung halamannya karena menganggur.
“Saya sudah nggak kerja dari Oktober 2025 kemarin. Sudah tua, makanya saya cari sampah. Lumayan untuk makan dan nyambung hidup,” kata Lestari.
Selain mencari botol plastik di sore hari, Lestari juga memiliki toko kelontong di rumahnya untuk biaya sekolah kedua anaknya yang masih SMP dan SMA. Namun, Lestari berujar jika akhir-akhir ini tokonya sepi pembeli.
“Sekarang cari uang susah, apa-apa mahal. Jualan juga nggak laku,” kata Lestari.
Oleh karena itu, kegiatan memulung sejatinya menjadi harapan baru bagi Lestari. Ia berharap pemulung bisa memiliki kesejahteraan dan ikut andil dalam menangani sampah di Klaten.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Cerita Ibu Tunggal di Kota Semarang: Putus Kerja usai 14 Tahun Jadi Buruh, Kini Jadi Penyapu Jalan demi Sekolahkan Kedua Anak atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
