Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

ilustrasi - Gen Z tinggalkan kerja bergaji puluhan juta untuk merawat ibu di desa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Ketika banyak orang memutuskan kerja jauh dari rumah, sebagian gen Z ada yang memilih stay di desa atau kampung halamannya agar bisa merawat orang tua mereka yang kian hari kian menua. Sebagai anak, merawat orang tua adalah tanggung jawab moral, terutama saat mereka sudah lanjut usia atau sakit.

Namun, seiring perkembangan zaman, tugas ini seolah sulit dilakukan karena kesibukan, gaya hidup serba cepat, dan tempat tinggal atau “rumah” yang tak lagi aman. Tak sedikit pula gen Z yang sibuk meniti karier dan sengaja meninggalkan rumah mereka demi menata hidup yang lebih baik. Sementara, sebagiannya lagi rela menetap agar bisa merawat orang tua mereka.

#1 Tolak tawaran kerja di Dubai dan pilih tinggal di desa

Misalnya, Hanif Panji (26). Gen Z asal Klaten ini dulunya sempat mendapat tawaran kerja di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), tapi ia tolak setelah mendengar kabar ibunya didiagnosis diabetes melitus. Kurang selangkah lagi, Hanif bisa meraih mimpinya dan mendapat gaji lebih besar dibandingkan kerja dan tinggal di desa.

“Penawaran gaji awalnya sekitar Rp25 juta dan menurutku masih aman, terus jenjang kariernya juga menjanjikan. Aku juga sudah wawancara, tes kerja, dan diterima sebetulnya tapi aku nggak tega meninggalkan ibu dan harus jauh dari rumah,” kata Hanif kepada Mojok, Kamis (9/4/2026).  

Di saat bersamaan, Hanif merasa tak boleh egois karena tak ada lagi yang bisa merawat ibunya yang tinggal di desa kecuali dirinya. Meski sekilas terlihat sebagai anak yang berbakti, sejujurnya Hanif mengaku hubungannya dengan keluarganya dulu tidak sedekat itu.

Namun setelah dewasa, Hanif berinisiatif untuk mengubah suasana keluarganya sekarang. Walaupun tidak bisa secemara keluarga lain, setidaknya ia ingin membahagiakan ayah dan ibunya selagi bisa. Paling tidak, dengan meluangkan waktunya bersama keluarga

“Aku yakin untuk membahagiakan orang tua nggak melulu soal kirim uang ke rumah. Kadang mereka cuma ingin kehadiran anaknya di antara mereka,” jelas Hanif.

Untungnya, rencana Hanif itu dipermudah sehingga ia bisa mendapatkan kerja di sebuah agensi di Jogja sembari merawat ibunya. Meski harus pulang-pergi dari Jogja–Klaten sekitar 45 menit, menurutnya itu tak jadi soal. Karena dengan begitu, ia masih bisa merawat ibunya sekaligus meniti kariernya pelan-pelan. 

#2 Resign dari bank dan tinggal di desa 

Jika Hanif rela meninggalkan peluangnya kerja di luar negeri, Fani Brahmantio (26) memutuskan resign sebagai pegawai bank agar bisa tinggal serumah lagi dengan orang tuanya. Kini, ia pun membuka usaha toko kelontong di desa daerah Sumatera Selatan.

“Aku pingin banget keluargaku dekat dan akrab, apalagi ibuku juga baru pensiun,” kata Fani dihubungi secara terpisah.

Tak bisa dipungkiri, untuk mengambil keputusan tersebut sejatinya tidaklah mudah bagi Fani. Ia sempat meragukan keputusannya untuk kerja di desa, karena di awal membuka toko kelontong, tak ada satu pun pelanggan yang datang bahkan pernah ditipu.

“Bayangin, di bulan pertama aku cuma untung Rp10 ribu per hari padahal modalku jauh lebih besar dari itu,” kata Fani.

“Terus dulu pernah ada sales yang nawarin obat seharga Rp400 ribu. Salahku adalah nggak riset dulu, karena obat yang dijual ternyata cuma Rp20 ribu per box di pasaran. Dia buat aku fokus ke bonusnya. Katanya, harga sebenarnya itu Rp900 ribu plus produk dan sewa spanduk selama 6 bulan. Setelah aku bayar uang muka, dia malah hilang, aku nggak terima produknya,” lanjutnya. 

Untungnya, banyaknya pengalaman tersebut bikin Fani belajar untuk mengembangkan usahanya. Di sisi lain, Fani juga mengambil kerja sampingan atau freelance dari luar negeri. Dengan begitu, ia tak menyesali keputusannya resign dari bank agar bisa dekat dengan keluarga. 

Mindset-ku sekarang bisa mengembangkan bisnis tanpa mengabaikan rasa kekeluargaan dan kehangatan. Semoga nantinya aku bisa buka cabang dengan budaya kerja yang seperti itu,” kata Fani.

Bodo amat dengan omongan orang sekitar

Meski Hanif dan Fani mengaku bahagia dengan keputusannya sekarang, ada saja tetangga di desanya yang nyinyir dan meragukan keputusan mereka. Apalagi, keduanya adalah sarjana dan dianggap masih muda. Di mana fase gen z merupakan usia produktif untuk meniti karier.

“Aku sering ditanya, ‘kenapa malah resign? kan udah enak kerja di bank, banyak duit’, atau dinyinyirin  ‘padahal S1 kok nggak kerja kantoran, sia-sia kuliahnya,’ dan yang paling parah ‘halah paling ngandelin penghasilan dari toko sembako nggak ada apa-apanya, 1 sampai 2 tahun lagi juga bakal bangkrut’,” cerita Fani.

Begitu pula Hanif yang pernah mendapat mendapat pertanyaan serupa. Namun, baik Hanif maupun Fani berujar tak menerima mentah-mentah cemooh tersebut. Toh, sentimen seperti itu akan selalu ada.

“Aku selalu reminder diri aku untuk tetap rendah hati. Aku berusaha sebisa mungkin untuk menempatkan diriku di posisi mereka, karena aku sudah melalui banyak hal,” kata Fani.

“Aku selalu ingat pesan dari orang tuaku, rezeki nggak melulu dalam bentuk uang yang. banyak. Yang harus dicari adalah rezeki yang barokah.” Kata Hanif.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Buka Usaha dan Niat Slow Living di Desa Malah Dibikin Muak dengan Etos Kerja Pemudanya, Bersikap Semaunya Atas Nama “Kekeluargaan” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version