Di saat para pekerja Gen Z dan sandwich generation di kota berdarah-darah meratapi tingginya uang muka KPR, anak muda di perdesaan justru menghadapi realitas yang berkebalikan. Di desa, asal punya sedikit tabungan, sebuah rumah bisa berdiri tegak dalam hitungan tahun setelah menikah karena tak perlu pusing memikirkan harga tanah.
Namun, kemudahan memiliki aset fisik ini tidak datang secara cuma-cuma. Ada harga yang sangat mahal dan harus dibayar setiap harinya oleh para pasangan muda tersebut, yakni hilangnya privasi dan rasa nyaman. Bahkan bikin stres.
Agil (28) sangat memahami ironi tersebut. Bagi pemuda ini, memiliki rumah di usia dua puluhan bukanlah sebuah pencapaian yang harus diagung-agungkan. Sebab, semua ini sudah “dikondisikan” oleh keluarga.
Di desa, orang tua membuatkan rumah buat anak yang jaraknya dekat dengan mereka
Di banyak desa, sudah menjadi rahasia umum bahwa para orang tua biasanya telah memetakan petak-petak pekarangan. Entah itu di samping kiri, kanan, atau di area belakang rumah utama, khusus untuk dibangun oleh anak-anak mereka kelak.
Motivasinya, kalau berdasarkan pengalaman Agil, orang tua di desa punya kecenderungan protektif dan enggan melepas anaknya hidup jauh dari pantauan mereka.
“Secara finansial jujur saja itu memang terbantu banget. Kita anak-anak muda ini nggak perlu pusing mikir beli tanah yang harganya makin gila. Kita cuma tinggal fokus kumpulin uang buat beli material dan bayar ongkos tukang,” jelas Agil, Minggu (2/8/2026).
Namun, Agil tak menampik bahwa berdiri di atas tanah pemberian orang tua memunculkan beban psikologis yang cukup berat. Ada perasaan sungkan yang begitu tebal menyelimuti hari-harinya.
Agil mengaku, meskipun rumah itu dibangun dari uangnya, ia kerap merasa bahwa dirinya sekadar “numpang” di wilayah teritorial milik orang tua. Otoritas penuh tetap terasa berada di genggaman sang bapak.
“Rasanya seperti diawasi. Apapun yang kita lakukan itu kayak dinilai, jadi kita takut salah, nggak bebas melakukan apa saja.”
Beruntung bagi Agil dan istrinya, mereka berdua bekerja di kota. Mereka ngekos dan hanya pulang saat akhir pekan. Karena hanya pulang ke desa di hari Sabtu dan Minggu, gesekan mental itu masih bisa diredam dan ditoleransi.
Risih karena marasa selalu “dinilai” mertua
Nasib berbeda, sekaligus lebih tragis, justru dialami oleh Tio (28) yang tinggal menetap secara full-time di desa. Berbekal uang tabungan setelah menikah, Tio berhasil membangun rumah sendiri dalam kurun waktu yang terbilang singkat.
Rumah itu berdiri kokoh di atas sepetak tanah milik keluarga istrinya mertua. Di mata orang luar, barangkali Tio adalah potret sukses pemuda desa yang mandiri. Namun, di balik itu semua, Tio justru merasa kehilangan kemerdekaan.
“Siapa yang nggak risih kalau tiap hari ‘dinilai’ terus sama mertua,” ujarnya, beberapa waktu lalu.
Bagi Tio, kemudahan mendapat lahan itu secara tak langsung merampas otoritas domestiknya sebagai kepala keluarga. Rumahnya seolah tidak memiliki batas teritorial dan privasi yang jelas.
Misalnya, dan yang paling sederhana, mertua bisa masuk kapan saja tanpa merasa perlu mengetuk berbekal dalih “sudah biasa”. Intervensi demi intervensi menjadi makanan sehari-hari. Mulai dari komentar soal tata letak perabotan, hingga teguran-teguran halus tapi tajam saat ia atau istrinya bangun sedikit lebih siang di hari libur.
“Kita itu berasa diawasi dua puluh empat jam. Jangankan mau melakukan hal aneh-aneh, mau santai di rumah sendiri saja merasa berdosa karena kayak orang nggak ada kerjaan kalau di mata mertua,” keluh Tio.
Budaya rukun di desa yang keblinger bikin batas privasi hilang
Lebih parah lagi, penderitaan Tio tidak berhenti di rumah. Tinggal menetap di desa berarti harus siap sedia menanggung beban komunal bernama srawung.
Tio buru-buru menegaskan bahwa dirinya sama sekali bukan pemuda yang anti-sosial. Ia sadar betul bahwa hidup bertetangga di desa memang mutlak membutuhkan interaksi. Masalahnya, budaya komunal di desa sering kali tak mengenal waktu dan cenderung menabrak batasan privasi secara serampangan.
“Bukan nggak mau srawung, tapi kadang intensitasnya itu terlalu over dan lupa waktu. Waktu yang niatnya buat istirahat di rumah habis buat ngladeni tetangga ngobrol,” ujarnya.
Hal yang paling membuat Tio stres adalah ketika obrolan basa-basi para tetangga perlahan berubah menjadi sesuatu yang menyenggol ranah paling personal. Bagi keluarga muda seperti Tio, pertanyaan dari tetangga sering kali melewati batas kewajaran tanpa mereka sadari.
Dari yang sekadar bertanya soal gaji dan rutinitas harian, hingga mulai mencecar urusan sangat sensitif seperti, “Kapan isi?”, “Kok belum punya momongan juga?”
“Kalau sudah kayak gitu sebenarnya malas mau nanggapin. Tapi kan nggak mungkin juga aku marah.”
Tio pun sadar bahwa di desa, membangun rumah bagi pasangan muda memang jauh lebih mudah diwujudkan selama ada tanah warisan. Namun, ia dipaksa sadar bahwa rumahnya bisa digunakan untuk membeli ruang privat.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Punya Rumah dengan Halaman Luas di Desa Kerap Disalahpahami, Dinikmati Tetangga tapi Jadi Sumber Konflik Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
