Kerja di Jakarta tak pernah mudah. Selalu ada drama yang kalau diingat kadang bikin sedih, sekaligus tertawa.
Salah satunya kisah Lita (28), lulusan cumlaude salah satu PTN di Jogja yang nekat mengadu nasib di ibu kota. Ia berhasil dapat kerja dan keluarganya telanjur bikin syukuran. Namun, kantornya bubar duluan padahal gaji pertama belum turun.
Gaji di Magelang dan Jogja rendah, memutuskan merantau sebagai fresh graduate
Bagi Lita, tahun 2022 adalah masa yang kalau diingat lagi sekarang, rasanya campur aduk antara ingin menangis dan tertawa. Perempuan asal Magelang ini lulus dari sebuah PTN top di Jogja pada 2021.
IPK-nya di atas 3,5 alias cumlaude. Dulu, ia pikir gelar mentereng itu akan memuluskan jalannya untuk kerja di Jakarta. Nyatanya, ibu kota punya cara sendiri untuk menguji mental anak rantau.
Lulus di tengah bayang-bayang pandemi Covid-19 adalah masa yang berat bagi angkatan 2017 seperti Lita. Saat itu perekonomian belum sepenuhnya pulih dan hampir tidak ada lowongan pekerjaan yang buka. Banyak perusahaan menahan pengeluaran besar-besaran. Alhasil, selama setahun penuh sejak wisuda, Lita terpaksa menganggur.
“Hari-hari aku habisin buat ngirim puluhan lamaran di LinkedIn sama Jobstreet, sambil berharap paling nggak ada satu lah yang nyantol,” kisahnya kepada Mojok, Selasa (24/2/2026).
Sebenarnya, ada beberapa panggilan wawancara di sekitar Magelang dan Jogja. Namun, tawaran gajinya bikin sakit kepala. Tawaran paling tinggi hanya di angka Rp2,5 juta. Bahkan, tidak sedikit perusahaan yang menawarkan gaji di bawah UMR setempat, padahal tuntutan pekerjaannya cukup berat.
Sebagai lulusan cumlaude, Lita tentu merasa harus mencari peluang yang lebih masuk akal. Kesadaran untuk segera meringankan beban finansial orang tua inilah yang membuat Lita membulatkan tekad untuk mencari kerja di Jakarta.
Dapat kerja di Jakarta, syukuran sekampung
Penantian panjang itu akhirnya membuahkan hasil pada pertengahan 2022. Sebuah perusahaan di ibu kota membalas lamarannya. Setelah melewati beberapa tahap wawancara secara daring yang menegangkan, Lita dinyatakan lolos.
Surat penawaran atau offering letter pun turun. Angkanya lumayan: Rp4,5 juta per bulan untuk tiga bulan pertama masa percobaan. Pihak HRD juga menjanjikan kenaikan gaji yang cukup besar jika Lita nantinya berhasil diangkat menjadi karyawan tetap.
“Buat fresh graduate kayak aku yang sudah setahun nganggur, angka itu gede banget. Nggak ada drama babibu, aku langsung pamitan sama bapak dan ibu buat kerja di Jakarta,” ungkapnya.
Kabar bahagia ini disambut dengan sangat antusias oleh keluarganya di Magelang. Saking bangganya melihat anak perempuan mereka akhirnya mendapat pekerjaan bergaji lumayan di ibu kota, orang tua Lita memutuskan untuk menggelar acara syukuran.
Di kampung halamannya, syukuran atau selametan bukan acara main-main. Tetangga satu RT diundang ke rumah. Doa bersama dipanjatkan agar urusan Lita di perantauan lancar. Saat pulang, para tetangga dibawakan besek berisi makanan.
Omongan tetangga yang memuji-muji kepintaran Lita (yang kalau dia ingat sebenarnya agak norak) pun membuat orang tuanya makin bangga melepas anaknya kerja di Jakarta. Beban di pundaknya memang bertambah berat karena ekspektasi itu, tapi saat itu ia mengaku sangat siap dan percaya diri.
Baru dua minggu kerja, kantor malah tutup
Sesampainya di ibu kota, Lita mulai bekerja. Kantornya menyewa sebuah ruang kerja bersama (coworking space) di kawasan Jakarta Selatan. Awalnya, semua tampak normal. Lita bekerja keras setiap hari, datang pagi pulang malam, berusaha membuktikan bahwa perusahaan tidak salah merekrut dirinya.
Namun, petaka itu datang tepat di minggu ketiga. Cuma 10 hari sebelum tanggal gajian tiba, pimpinan perusahaan mendadak mengumpulkan semua karyawan. Lewat pertemuan yang singkat dan tegang, sang bos mengumumkan bahwa perusahaan harus tutup paling lambat bulan ini.
Karyawan tetap akan migrasi ke sister company, sementara para pekerja probation seperti Lita, terpaksa diberhentikan. “Padahal itu jumlah yang probation cukup banyak,” kata dia.
Alasannya sangat khas perusahaan rintisan di tahun 2022: investor tiba-tiba menarik dana dan perusahaan kehabisan uang kas untuk beroperasi. Ini adalah realita pahit kerja di Jakarta yang sama sekali tidak pernah dibayangkan Lita sebelumnya.
Lita lemas tak bisa berkata-kata. Jangankan bicara soal diangkat jadi karyawan tetap beberapa bulan lagi, gaji bulan pertama yang sudah ia bayangkan untuk membayar uang kos dan makan bulan depan saja dipastikan tidak akan pernah turun. Perusahaan bubar jalan begitu saja tanpa pesangon yang jelas.
Malam itu, Lita menangis sejadi-jadinya. Uang sisa bekal dari orang tuanya sudah sangat menipis. Ia tidak sanggup membayangkan wajah orang tuanya di Magelang. Ia juga langsung teringat wajah tetangga-tetangganya yang baru sebulan lalu memakan nasi besek dari acara syukurannya.
“Coba kalau kamu jadi aku, mau nangis apa ketawa? Gimana cara jelasin ke ortu kalau anaknya yang di-selamtin kemarin itu udah nganggur lagi?”
Kisah ngenes kerja di Jakarta bukan kisah tunggal
Cerita nyesek yang dialami Lita ternyata bukan satu-satunya fenomena. Cerita Lita pernah dialami Dito. Mojok sendiri pernah menuliskan ceritanya dalam liputan berjudul “Lulusan S2 Nekat Merantau ke Jakarta karena Muak dengan UMR Jogja: Baru Sebulan Kerja Balik Nganggur, Kantor Bangkrut“.
Diceritakan bahwa Dito adalah lulusan S2 dari sebuah PTN di Jogja yang nekat mengadu nasib ke ibu kota demi memutus rantai kemiskinan keluarganya. Sebagai sandwich generation yang harus menghidupi ibunya yang janda serta satu adik berkebutuhan khusus, gaji Rp2,7 juta di Jogja dirasa Dito seperti menguap begitu saja.
Harapannya melambung ketika ia diterima di sebuah perusahaan startup coworking-space di Jakarta Pusat dengan tawaran gaji standar UMR, hampir dua kali lipat dari gajinya di Jogja.
Sayangnya, niat mulia menaikkan derajat keluarga lewat kerja di Jakarta kembali digilas realita. Baru sebulan Dito menikmati kerasnya ibu kota, kantor tempatnya bekerja malah dilanda gonjang-ganjing dan berujung bangkrut. Lulusan S2 itu terpaksa menelan pil pahit yang sama dengan Lita: kembali berstatus pengangguran.
***
Kini, di tahun 2026, Lita sudah bekerja di perusahaan lain yang jauh lebih sehat secara finansial. Ia sudah berdamai dan bisa menertawakan kejadian pahit empat tahun lalu itu saat nongkrong bersama teman-temannya.
Untuk bisa bertahan hidup di ibu kota setelah kejadian itu, ia harus menekan gengsi. Ia sempat meminjam uang dari teman dekatnya dan mengambil pekerjaan lepas sana-sini sampai akhirnya mendapat pekerjaan tetap.
Pengalaman apes itu memberinya satu pelajaran berharga tentang kerasnya ibu kota.
“Sekarang kalau dengar ada tawaran kerja di Jakarta dengan gaji besar, aku sudah nggak mau buru-buru potong tumpeng,” ujarnya sambil tertawa. “Mending pastikan dulu kantornya beneran ada uang buat bayar karyawan apa nggak,” tutupnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Meninggalkan Pekerjaan Gaji Rp150 Ribu per Hari di Desa Demi Ego Merantau, Berujung Sesal karena Kerja di Jakarta Tak Sesuai Ekspektasi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
