Memiliki rumah sendiri sebelum usia 30 tahun adalah impian banyak pasangan muda, tak terkecuali bagi Khalfun (27). Alih-alih berburu rumah di Sidoarjo, pasangan Gen Z ini justru menemukan bahwa kawasan pinggiran Surabaya seperti Menganti adalah pilihan yang jauh lebih realistis dan strategis daripada Sidoarjo.
Rumah mungil di Surabaya pinggiran, Menganti
Salah satu keinginan Khalfun setelah menikah adalah bisa punya rumah sendiri untuk ditinggali keluarga kecilnya. Usai menikah di tahun 2021, Khalfun bersama suaminya berusaha menabung untuk beli rumah di pinggiran Kota Surabaya.
Meski hanya berukuran 5 kali 12 meter atau total 60 meter persegi, Khalfun merasa puas karena bisa beli rumah sebagai investasi jangka panjang. Selain itu, dia sudah tidak perlu lagi membayar sewa tahunan untuk kontrakan di Surabaya.
“Kami memutuskan beli di Menganti karena lokasi dan letak yang sangat kami pertimbangkan,” kata Khalfun kepada Mojok, Selasa (11/8/2026).
Sebelum memutuskan beli rumah di pinggiran Kota Surabaya, Khalfun mengaku punya opsi lain, yakni membeli rumah di Sidoarjo yang masih tak jauh dari Kota Surabaya. Namun setelah menyurvei beberapa tempat, Khalfun dan suaminya merasa semua pilihannya tidak masuk kriteria.
Pilih beli rumah di Surabaya pinggiran
Secara administratif, wilayah Menganti masuk Kabupaten Gresik. Melansir dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Gresik 2016, Menganti awalnya didominasi oleh lahan pertanian yang subur.
Namun kini mengalami alih fungsi menjadi kawasan permukiman dan industri seiring dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk di Kabupaten Gresik.
“Di sisi lain, di sini tidak terlalu pelosok sehingga masih terjangkau jika ingin pergi ke kota,” ucapnya.
Selain itu, kawasan ini juga menjadi penyangga atau buffer zone yang strategis. Khalfun dan suaminya juga tak perlu menempuh jarak jauh jika ingin pergi ke pusat kota untuk bekerja.
“Karena berbatasan langsung dengan daerah Surabaya Barat seperti Wiyung, Lakarsantri, dan Pakal, aku berharap tempat tinggalku nanti masih kena imbas pembangunan, karena dengar-dengar sudah ada wacana pelebaran jalan,” ucap Khalfun.
Dan benar saja, saat Khalfun mengecek calon rumahnya, pelebaran jalan di daerah Menganti sudah dikerjakan. Sementara Sidoarjo lebih unggul untuk akses wilayah Surabaya selatan dan timur. Jalur utama yang bisa dilewati adalah Jalan Ahmad Yani, Waru, Bandara Juanda, hingga jalan tol.
Harga rumah di Menganti versus Sidoarjo
Di sisi lain, harga rumah di Menganti lebih sesuai dengan budget keluarga Khalfun daripada harga rumah di Sidoarjo. Di Menganti, perumahan skala menengah dipatok harga mulai dari Rp300 juta, sementara rumah di Sidoarjo terutama di area dekat perbatasan Surabaya seperti Waru dipatok harga mulai dari Rp450 juta.
“Yang pasti menyesuaikan anggaran ya dengan rumah ukuran 5 kali 12 atau luas total 60 meter persegi,” kata Khalfun.
Sementara untuk desain, Khalfun mengaku tidak perlu standar yang muluk-muluk. Dia berharap rumahnya dapat dibangun secara open space dengan style minimalis modern yang lebih mengarah ke industrial Japan.
“Kami berencana membuat rumah tumbuh dengan skema nyicil bangun rumah. Jadi ketika tanah sudah dibeli, kami mencicil pembangunan rumahnya setiap tahun hingga siap ditempati,” jelasnya.
“Kami berdua sering berdiskusi mengenai rumah, kami saling mencatat kebutuhan karena rumah yang kami bangun ditempatin berdua, kami selalu menyelaraskan keinginan bersama,” kata Khalfun.
Meski dalam prosesnya, Khalfun tak terhindar dari hambatan. Setelah berhasil membeli rumah di Menganti tepatnya di pinggiran Surabaya, Khalfun sempat sulit mengakses jalan di musim penghujan, sebab truk besar tidak bisa masuk ke gang.
“Bagi kami itu jadi salah satu kendala, karena kami ada planning nyicil material,” ucap Khalfun.
Tips beli rumah di Surabaya pinggiran agar tidak ditipu
Agar impiannya tercapai yakni membeli rumah sebelum usia 30 tahun, Khalfun dan suaminya menggunakan konsep bayar lebih dulu dengan tabungan dari gaji yang ada. Sisa gaji itu tidak dia habiskan semua, tapi mereka sisihkan dalam bentuk logam mulia.
“Ketika anggaran yang kami butuhkan tercapai, maka langsung kami kerjakan sesuai planning kami di tahun itu,” jelas Khalfun.
Sebelum membeli rumah, Khalfun tetap mempelajari lebih dahulu developer tanah dan lokasi yang dipilih. Sebagai jaminan, dia meminta identitas pemilik dan mengeceknya agar tidak kena tipu. Begitu pula saat memilih tukang.
“Cari tukang yang berpengalaman dan bisa diajak kerja sama, bisa diajak tukar pendapat dan paham tentang bangunan,” ucapnya.
Kini, proses pembangunan rumah Khalfun di Menganti alias pinggiran Kota Surabaya sudah di tahap finishing dan sudah bisa ditempati walaupun belum jadi 100 persen.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Punya Rumah di Desa Itu Perkara Mudah bagi Pasangan Muda, Yang Susah adalah Membeli Privasi dan Rasa Nyamannya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
