Kalau membuka media sosial seperti TikTok atau Threads, kamu pasti sering melihat orang memuja-muja Purwokerto. Kota di kaki Gunung Slamet ini sering disebut sebagai tempat pensiun terbaik, pelarian paling sempurna dari penatnya ibukota.
Testimoni yang sering muncul di kolom komentar biasanya berkisar tentang udara yang sejuk, jalanan yang bebas macet, dan tentu saja, harga kebutuhan pokok yang masih sangat murah.
Banyak orang yang akhirnya menjadikan Purwokerto sebagai kota impian untuk mencari gaya hidup santai alias slow living. Salah satu orang yang membagikan ceritanya di media sosial adalah Budi (36), yang memutuskan “pensiun” sebagai pegawai kantoran dan memilih kerja remote di kota ini sejak 2019 lalu.
Pada tahun-tahun pertama menetap di Purwokerto, ia memang merasakan hidup enak.
“Pagi hari saya bisa jalan kaki dengan tenang. Udaranya bersih. Kulinernya enak dan harganya tidak bikin kantong jebol,” kisahnya kepada Mojok, Jumat (17/4/2026).
Namun, fase bulan madu itu ternyata tidak bertahan selamanya. Memasuki tahun ketiga, apalagi setelah pandemi Covid-19, Budi mulai merasakan “efek samping” dari gaya hidup santai tersebut. Ia mulai mengeluhkan ritme kerja di daerah yang menurutnya terlalu lambat.
Niat hidup damai di Purwokerto, malah “mati kutu”
Pengalaman Budi ini memvalidasi apa yang sering diperdebatkan di media sosial. Purwokerto memang kota pensiun yang nyaman, tapi kota ini jelas bukan untuk semua orang.
Banyak netizen yang nekat pindah ke sana demi slow living, tapi akhirnya malah “mati kutu”. Mereka mengeluh tidak ada hiburan malam, kesulitan mencari sirkel pertemanan profesional yang cepat, hingga mengeluh soal fasilitas hiburan yang itu-itu saja.
Hal ini dibenarkan oleh Riza, seorang pekerja lepas (freelancer) usia 30-an yang memutuskan pindah ke Purwokerto dua tahun lalu. Menurut Riza, Purwokerto sangat enak untuk menetap asalkan mental kita sudah benar-benar siap.
“Ibaratnya begini, kalau kepalamu masih berlari seratus kilometer per jam, pindah ke kota yang berjalannya cuma dua puluh kilometer per jam itu sama saja bunuh diri. Kamu bakal stres sendiri,” tegasnya, Jumat (17/4/2026).
Berdasarkan pengalaman Riza dan realitas di lapangan, setidaknya ada beberapa skill yang wajib kamu miliki kalau ingin bertahan hidup dan menikmati masa pensiun di Purwokerto.
#1 Mengelola rasa bosan
Di kota besar seperti Jakarta, mencari hiburan itu sangat mudah. Kamu bisa pindah dari satu mal ke mal lainnya setiap akhir pekan.
Di Purwokerto, pusat perbelanjaan besar sangat terbatas. Kamu tidak bisa mengandalkan mal sebagai tempat cuci mata setiap minggu.
Menurut Riza, kamu butuh keahlian untuk menciptakan “hiburanmu sendiri”.
“Kalau pindah ke sini, kamu harus punya hobi rumahan,” katanya. Entah itu berkebun di halaman, membaca buku di teras, memelihara burung, atau sekadar bersepeda keliling jalan desa.
Kalau kamu tidak punya hobi di luar kebiasaan menghabiskan uang di pusat perbelanjaan, kata Riza, ya bakal mati gaya karena kebosanan.
#2 Mandiri dalam mobilitas keliling Kota Purwokerto
Keahlian selanjutnya yang tidak kalah penting adalah kemampuan membawa kendaraan sendiri, terutama sepeda motor. Purwokerto sebenarnya sudah memiliki fasilitas transportasi umum yang bagus, salah satunya adalah bus Trans Banyumas yang nyaman dan terjangkau.
Namun, untuk benar-benar menikmati gaya hidup santai menyusuri jalanan pedesaan yang sejuk, mengendarai motor sendiri adalah jalan terbaik.
Riza bercerita, kalau kamu terlalu manja dan terus-terusan bergantung pada taksi atau ojek online untuk pergi ke mana-mana, dompetmu akan pelan-pelan terkuras habis. Ruang gerakmu juga akan sangat terbatas.
“Dengan membawa motor sendiri, kamu bebas menjelajah Purwokerto tanpa tanpa takut memikirkan ongkos,” jelasnya.
#3 Menurunkan ego dan berbaur ala warga lokal Purwokerto
Di apartemen atau perumahan mewah ibukota, kamu bisa saja hidup bertahun-tahun tanpa tahu nama tetangga sebelahmu. Di Purwokerto, privasi tingkat tinggi seperti itu sulit diterapkan.
Kata Riza, kamu harus rela menurunkan ego orang kota dan mulai berbaur dengan warga sekitar. Kamu diharapkan ikut kerja bakti, kumpul RT, atau membantu tetangga yang sedang punya hajatan.
Selain itu, kamu harus siap mental dengan karakter warga lokal. Berdasarkan pengalamannya, Riza mengetahui bahwa warga Banyumas memiliki sifat bawaan yang namanya “cablaka” alias blak-blakan.
Mereka terbiasa berbicara jujur, apa adanya, tanpa basa-basi. Jadi, kalau suatu pagi tetanggamu tiba-tiba bertanya soal urusan pribadimu dengan suara khas ngapak yang lantang, itu bukan berarti mereka tidak sopan atau mau ikut campur. Justru, itulah cara mereka merangkul dan menunjukkan rasa akrab.
#4 Menahan gengsi yang berbau gaya hidup
Keahlian terakhir yang tidak kalah penting adalah menahan gengsi. Banyak orang kota berpikir bahwa hidup di daerah itu otomatis murah. Padahal, murah atau tidaknya hidup sangat bergantung pada gaya hidup.
Logikanya seperti ini: standard hidup warga lokal dan upah minimum di wilayah Kabupaten Banyumas itu berputar di kisaran dua jutaan rupiah sebulan. Dengan standard itu, warga lokal bisa hidup layak.
Namun, kalau kamu menetap di sana tapi masih nekat mempertahankan gaya hidup anak Jakarta, ceritanya akan berbeda.
“Kalau kamu masih rutin ngopi yang harganya tiga puluh lima ribuan setiap sore, uangmu akan cepat habis,” kata dia. “Keahlian utama di sini adalah menekan gengsi.”
Menurut Riza, seseorang harus bisa membiasakan diri dengan mindset bahwa makan seadanya seharga di bawah 10 ribuan, di warung pinggir jalan, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat perut kenyang dan hati senang. Tak perlu mahal-mahal dan boros.
Pada akhirnya, Purwokerto memang menawarkan ketenangan yang sulit dicari di kota besar. Namun, bagi Riza, ketenangan adalah soal kesiapan pikiran. Kalau belum siap, slow living yang kamu cari hanya akan berubah menjadi kebosanan.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
