Meski dikukuhkan sebagai Guru Besar di Universitas Gadjah Mada (UGM), tapi bagi Zainal Arifin Mochtar–alias Uceng–itu relatif hanya persoalan administratif. Sebab, ada nilai yang lebih berat dari sekadar itu.
***
Zainal Arifin Mochtar (Uceng) baru saja dikukuhkan sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM pada Kamis (15/1/2026).
Hari itu menjadi hari membanggakan sekaligus penuh haru bagi penulis buku “Kronik Otoritarianisme” itu. Sebab, di balik jalan panjangnya hingga berdiri di podium sebagai seorang Guru Besar, ada peran penting orang-orang yang jelas tidak bisa ia kesampingkan.
Menepati dua janji ayah Zainal Arifin Mochtar (Uceng)
Dalam pidato penutupnya di Balai Senat UGM, Uceng berbicara dengan nada suara bergetar dan terbata-bata. Sesekali juga menyeka air mata.
Adalah ucapan terima kasih kepada almarhum ayahanda, KH. Mochtar Husein, yang telah berpulang pada 2017 silam. Ia bersaksi, sang ayah telah menunaikan perannya sebagai kepala keluarga dengan sebaik-baiknya. Sebagai pelindung dan panutan.
“Sesaat sebelum beliau meninggal, ada dua janji. Pertama, mengurus buku-buku yang jumlahnya sangat banya. Kedua, menuntaskan Guru Besar yang alhamdulillah saya peroleh hari ini,” tutur Uceng.
Kalimat Uceng sempat tersendat ketika menyebut nama sang istri, Drg. Irene Isfandiah. Sebab, sang istri menjadi pendamping yang mencurahkan segala bentuk love language untuknya.
Dari sang istri pula Uceng mendapat anugerah empat malaikat: keempat anak-anaknya, yang juga turut mewarnai perjalanan hidup Uceng.
Bagi Zainal Arifin Mochtar, Guru Besar itu hanya soal administratif
Uceng menegaskan bahwa menjadi seorang Guru Besar, baginya, relatif hanya persoalan administratif.
“Sementara sikap, tanggung jawab intelektual, dan keberpihakan pada kepentingan publik justru jauh lebih berat,” ucapnya.
Oleh karena itu, ia berharap agar para profesor dapat menjadi intelektual organik. Tidak harus selalu tampil langsung di ruang publik, tetapi mampu memberdayakan dan menguatkan pengetahuan masyarakat, terutama di tengah situasi pembodohan dan pembiaran yang kian terasa sistematis.
“Tanggung jawab kita kelak akan ditagih. Dari sanalah akan ditentukan Indonesia akan menjadi seperti apa, suatu saat kelak. Karena kepada-Nya kita meminta dan kepada-Nya kita semua berserah diri” ucapnya.
Bukan batu yang tiba-tiba jatuh dari langit
Sederet nama turut Uceng sebut, sebagai orang-orang yang menemani perjalanan hidupnya. Seperti sang ibunda dan mertua.
Bahkan, usai turun dari mimbar Balai Senat UGM, tangis Uceng pecah dalam pelukan ibundanya, Hj. Zaitun Abbas.
Bagi Uceng, pencapaian ini (menjadi Guru Besar) bukanlah batu yang tiba-tiba jatuh dari langit. Maka, “Saya persembahkan terima kasih kepada banyak pihak yang telah memberi sumbangsih, baik langsung maupun tidak langsung, dalam langkah dan jejak saya hingga hari ini,” kata Uceng.

Dari Makassar, UGM, Chicago, dan kembali ke publik
Zainal Arifin Mochtar lahir di Makassar. Ia tumbuh di sebuah rumah mungil tidak jauh dari Stadion Mattoangin. Di bawah atap seng rumah itulah, ia dan keluarganya berbagi kisah, kegembiraan, serta kesedihan dalam satu ikatan darah.
Sebelum menjadi seperti sekarang ini, banyak jalan dan situasi yang membentuk uceng. Ia pernah dibentuk sebagai Ketua OSIS Smansa Makassar, Ketua Senat Fakultas Hukum UGM, hingga aktif di berbagai komunitas dan lembaga.
Ia juga pernah terlibat di Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat Korupsi), Pandheka FH UGM, Cakshana Institute, Kemitraan, hingga menjadi anggota Dewan Pengawas Masjid di lingkungan tempat tinggalnya, dan lain-lain.
Perjalanan intelektual Uceng dimulai sejak dini. Ia kerap “berkeliling” berbagai forum seperti seminar, lokakarya, diskusi, focus group discussion, hingga acara talk show dan siaran televisi. bahkan sejak hampir dua dekade lalu.
“Di situlah saya bertemu tokoh, pemikir, dan orang-orang cerdas yang membantu menimbun informasi serta pengetahuan dalam diri saya,” akunya.
Perjalanan pendidikan tingginya dimulai pada 2003 saat menyelesaikan Sarjana Hukum di UGM. Ia kemudian meraih gelar Master of Laws (LL.M.) dari Faculty of Law, Northwestern University, Chicago, Amerika Serikat, pada 2006, dan menyelesaikan studi doktoral di Fakultas Hukum UGM pada 2012.
Uceng sempat menjabat sebagai Ketua Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum UGM (2021–2025). Selain itu, ia aktif dalam berbagai posisi strategis nasional, antara lain sebagai Wakil Ketua Komite Pengawas Perpajakan Kementerian Keuangan RI (2023–2025), anggota Tim Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu (2022–2025), serta pernah tergabung dalam Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (2020), dan lainnya.
Dalam lima tahun terakhir, ia menggeluti belasan penelitian, menulis jurnal, dan puluhan publikasi, menyusun tiga buku bunga rampai, lima buku tunggal, serta meraih tujuh penghargaan.
Namanya juga dikenal publik melalui garapan film dokumenter Dirty Vote: Sebuah Desain Kecurangan Pemilu 2024, yang mengangkat analisis kritis terhadap proses pemilu dan mempertegas posisinya sebagai intelektual yang bersuara berbasis data dan fakta.
BACA JUGA: Membedah Jalan Panjang Demokrasi dan Kronik Otoritarianisme Indonesia Bersama Zainal Arifin Mochtar dan Muhidin M. Dahlan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan















