Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Seni

Merancang Pameran Seni Rupa agar Dinikmati Tunanetra, Mereka Memang Tak Melihat tapi Bisa Mendengar

Mohamadeus Mikail oleh Mohamadeus Mikail
21 Agustus 2025
A A
Jogja Disability Arts (JDA) upayakan pameran seni rupa ramah tunanetra MOJOK.CO

Ilustrasi - Jogja Disability Arts (JDA) upayakan pameran seni rupa ramah tunanetra. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Banyak orang mengira pameran seni rupa hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki penglihatan. Namun, di Jogja, anggapan itu dipatahkan. Sebuah komunitas bernama Diff Com, yang kini berubah rupa menjadi Jogja Disability Arts (JDA). JDA menggelar pameran yang dapat dinikmati oleh teman-teman tunanetra.

***

Difabel and Friends Community atau Diff Com sendiri merupakan komunitas tempat berkumpul untuk para difabel yang memiliki hobi dalam seni, baik seni rupa maupun seni musik. Tujuan utama dari komunitas tersebut adalah memberi ruang teman-teman difabel untuk berkesenian.

Komunitas Diff Com berdiri pada tahun 2009. Sebelum akhirnya berubah nama menjadi Jogja Disability Arts (JDA) pada 2020.

Pada tahun 2010, Diff Com menggelar pameran seni rupa pertama yang dapat dinikmati oleh teman-teman tunanetra. Pameran tersebut digelar di Rumah Budaya Tembi, Sewon, Bantul, yang berisi karya seni rupa dua dan tiga dimensi. Tentunya, tidak hanya tunanetra, pameran ini juga cukup aksesibel untuk teman-teman difabel lainnya.

Belum lama ini JDA kembali menghadirkan kembali pameran yang inklusif terhadap teman-teman tunanetra dalam pameran tunggal Win Dwi Laksono. Pameran yang bertajuk “Rindu Masa Lalu” ini memamerkan karya-karya seni dua dimensi dari sang pematung.

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Win Dwi Laksono (@win_dwilaksono)

Cara tunanetra menikmati pameran seni rupa

Melihat pameran yang “tak biasa” ini, pertanyaan pun terlintas: Bagaimana cara teman-teman tunanetra menikmati seni rupa? Sementara dalam kesenian ini, indera penglihatan dominan dalam melihat sebuah karya.

Ketua JDA, Sukri Budi Dharma menjelaskan, untuk karya dua dimensi, misalnya, mereka mengandalkan audio. Namun, deskripsinya harus spesifik.

Sukri Budi Darma, ketua Jogja Disability Arts yang upayakan pameran seni rupa ramah tunanetra MOJOK.CO
Sukri Budi Darma, ketua Jogja Disability Arts yang upayakan pameran seni rupa ramah tunanetra. (Mohamadeus Mikal/Mojok.co)

“Tidak bisa menyebutkan “terdapat banyak warna hijau dan biru”, melainkan “terdapat banyak rumput dan langit dalam kanvas”,” jelas Sukri kepada Mojok, (26/7/25)

Menurutnya, ini karena tunanetra tidak memiliki konsep warna. Berbeda dengan karya tiga dimensi seperti patung, yang bisa dinikmati langsung melalui indera peraba. Untuk mendorong inklusivitas ini, dalam pameran terdapat alat bantu audio untuk teman-teman tunanetra menikmati karya seni.

Iklan

Upaya Jogja Disability Arts (JDA) menghadirkan pameran inklusif

Di JDA itu sendiri, setiap sebelum pameran ada sebuah workshop untuk panitia. Workshop ini ditujukan agar panitia memahami bagaimana cara mendampingi penyandang disabilitas.

“Jadi, ketika ada penyandang tunanetra mendatangi pameran, mereka dapat didampingi oleh panitia,” jelas Sukri.

Tak sampai di situ, seperti yang telah disinggung sedikit dalam pameran “Rindu Masa Lalu”, juga terdapat e-katalog pameran untuk teman-teman difabel yang berisi tentang data karya dan deskripsi karya berbasis teks. Tujuannya, agar teman-teman tunanetra dapat mengakses melalui fitur text-to-audio di HP.

“Tunanetra itu juga punya kepekaan yang macam-macam, maka semoga saja ada dialog yang bermanfaat bagi tuna netra,” tutur Win Dwi Laksono, sang pematung, kepada Mojok, (26/7/25).

Hal ini terlihat dalam pameran tunggalnya. Selain adanya alat bantu audio juga terdapat karya seni rupa patung yang diperbolehkan untuk disentuh bagi penikmat dari teman-teman tunanetra.

Awal terbentuknya ide inklusif yang radikal

Sebelum pameran inklusif ini terwujud, Sukri Budi Dharma bercerita, idenya berawal dari kesadaran bahwa setiap orang punya hak untuk mendapatkan informasi. “Awalnya sih dari situ,” katanya.

Dari situ Sukri lantas melakukan pemetaan terhadap kebutuhan teman-teman difabel. Misalnya, kata Sukri, banyak teman-teman tunanetra yang ternyata belum pernah ke museum karena tidak adanya akses pendampingan di ruang seni atau galeri budaya.

Sementara, khususnya bagi teman-teman tunanetra, memiliki halangan dalam keterbatasan visual.

“Tetapi kan tidak ada hambatan di audio,” tutur Sukri. Maka dari itu, ide untuk menyampaikan informasi tentang karya seni rupa melalui audio muncul.

Pameran seni rupa Rindu Masa Lalu oleh Jogja Disability Arts (JDA) MOJOK.CO
Pameran seni rupa Rindu Masa Lalu oleh Jogja Disability Arts (JDA). (Mohamadeus Mikail/Mojok.co)

Meski pameran dari Jogja Disablity Arts (JDA) masih jauh dari sempurna…

Tanggapan masyarakat terhadap pameran inklusif ini ternyata sangat positif. Meskipun, Sukri sendiri menyadari bahwa apa yang coba Jogja Disability Arts (JDA) masih jauh dari sempurna.

Akan tetapi, setidaknya, bagi Sukri, pameran ini berhasil membuka wawasan bahwa tunanetra, yang sering kali dianggap tidak bisa menikmati seni rupa, nyata-nyata bisa merasakannya melalui audio.

Sejauh ini, tantangan terbesar yang Sukri hadapi adalah persoalan dana.

“Audio itu kan memerlukan alat yang khusus. Kan juga ada barcode yang bisa text-to-speech, ya itu butuh pembuatan narasi dan butuh orangnya untuk membuat narasi tersebut,” tuturnya.

Penggunaan audio dalam pameran seni rupa ramah tunanetra MOJOK.CO
Penggunaan audio dalam pameran seni rupa ramah tunanetra. (Mohamadeus Mikail/Mojok.co)

Di samping itu, untuk mengadakan pameran inklusif, memang butuh effort lebih sehingga dana yang dikeluarkan lebih besar dari pameran pada umumnya.

Itulah kenapa, sejauh ini ketersediaan alat pembantu bagi teman-teman tunanetra masih terbatas hanya untuk beberapa karya seni, tidak bisa mencakup semua karya secara menyeluruh.

“Namun, selama itu (hak-hak difabel) sudah terpenuhi, tidak harus sempurna dulu. Nanti lama-lama juga tidak terasa itu menjadi suatu standar bahwa ruang pameran harus seperti ini,” pungkasnya.

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Sekolah Vokasi Mojok periode Juli-September 2025. 

Penulis: Mohamadeus Mikail
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mengenal Ngaji dengan Bahasa Isyarat ala Pondok Pesantren Tunarungu-Tuli Jamhariyah Sleman atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2025 oleh

Tags: JogjaJogja Disability Artspameran jogjapameran seni rupapilihan redaksiSeni rupa
Mohamadeus Mikail

Mohamadeus Mikail

Artikel Terkait

Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO
Liputan

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
flu.mojok.co
Aktual

Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19

9 Januari 2026
pasar wiguna.MOJOK.CO
Ragam

Dari Coffee Shop “Horor”, Nira, hingga Jam Tangan Limbah Kayu: Pasar Wiguna Menjaga Napas UMKM Lokal

8 Januari 2026
Ketulusan Guru BK di SMP Pelosok Ponorogo MOJOK.CO
Ragam

Curhatan Guru BK Hari Ini: Profesi Dipandang “Sepele”, Padahal Harus Hadapi Gen Z yang Masalahnya Makin Kompleks

8 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliah Scam Itu Omongan Bermulut (Kelewat) Besar yang Nggak Perlu Didengarkan

Kuliah Scam Itu Omongan Orang Bermulut (Kelewat) Besar yang Nggak Perlu Didengarkan

8 Januari 2026
foto orang meninggal di media sosial nggak sopan kurang ajar. mojok.co

Meninggal di Desa Itu Sebenarnya Mahal, Menjadi Murah karena Guyub Warganya

5 Januari 2026
AI. MOJOK.CO

Masa Depan AI yang Terasa Menyenangkan Dimanfaatkan Juga oleh Kelompok Kriminal di Dunia

3 Januari 2026
flu.mojok.co

Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19

9 Januari 2026
Curhat petugas front line KRL Solo-Jogja kerja di KAI. MOJOK.CO

Sisi Gelap Kerja di KAI dengan Upah Layak: Risiko Difitnah Penumpang hingga Terkuras Fisik dan Mental

5 Januari 2026
Gudeg Jogja 3 Porsi di Malioboro Dihargai 85 Ribu Itu Wajar, Jadi Wisatawan Mbok Ya Riset, Jangan Caper!

Gudeg Jogja 3 Porsi di Malioboro Dihargai 85 Ribu Itu Wajar, Jadi Wisatawan Mbok Ya Riset, Jangan Caper!

4 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.