Pocong itu pada dasarnya cuma hantu kemarin sore. Popularitasnya didapat juga belum lama. Namun, kok bisa, sih, ia masuk kasta tertinggi demit yang paling menyeramkan di Indonesia?
Buktinya, beberapa hari terakhir, grup WhatsApp desa mendadak riuh oleh rentetan video amatir. Ada pocong yang terekam melompat di sudut jalan Ciputat, Sidoarjo, hingga Magelang.
Warga panik. Desas-desus langsung muncul soal keaslian video. Polisi memang sudah menangkap beberapa pengamen jalanan, yang katanya “iseng” melakukan cosplay. Sebagian video juga disebut sebagai hoaks. Namun, kepanikan telanjur menyebar luas.
Melihat histeria massal ini, saya justru merasa heran. Saya merenung, dan berpikir keras. Setiap kali saya menonton film horor dari Mesir, Iran, atau Pakistan, saya tak pernah sekalipun menemui sosok pocong.
Padahal, miliaran Muslim di seluruh dunia dikuburkan dengan syariat yang sama persis. Tubuh jenazah dimandikan, dibungkus kain kafan putih tanpa jahitan, dan diikat di beberapa titik.
Namun, kalau kita tanyakan kepada masyarakat Arab, apakah mereka pernah diteror oleh mayat melompat yang menuntut tali kafannya dilepas. Saya yakin, 100 persen yakin, mereka akan kebingungan.
Pocong itu bukan demit khas Muslim
Di situlah saya tersadar: pocong bukan hantu khas masyarakat Muslim. Justru, demit ini “Jawa banget”. Ia lahir dari kultur masyarakat Nusantara yang mencoba memadukan syariat pemakaman Islam dengan sisa-sisa paranoia animisme, bahwa roh orang mati butuh waktu 40 hari untuk benar-benar pergi.
Di negara-negara Arab, kematian adalah akhir kehidupan di dunia, sebelum menuju alam Barzakh. Namun, di mata masyarakat kita, kematian tampaknya hanyalah “babak baru” dari kehidupan berikutnya, di tempat yang sama.
Dulu, saya selalu mengira pocong adalah hantu purba warisan nenek moyang sejak zaman kerajaan Islam. Namun, asumsi saya runtuh ketika membaca buku antropolog Clifford Geertz, The Religion of Java (1960).
Saat membaca catatan Geertz tentang hierarki dunia gaib masyarakat Jawa di era klasik, saya terkejut karena nama pocong nyaris tidak terdengar. Panggung horor saat itu dikuasai oleh setan-setan purba seperti memedi, banaspati, danyang, dan roh-roh nenek moyang yang masih gentayangan.
Hantu kemarin sore yang cuma jadi “figuran” saat Orba
Lalu, saya mulai bertanya-tanya. Jika di era 1950-an ia nyaris tak terdengar, siapa sebenarnya yang mengangkat “kasta” pocong hingga menjadi demit elite seperti hari ini?
Rasa penasaran itu membawa saya salah satu literatur akademik yang ditulis dosen Universitas Padjadjaran, Justito Adiprasetio dan Annissa Winda Larasati, bertajuk “Deconstructing Pocong, the Indonesian Sacred Ghost: A Diachronic Analysis of Mumun (2022), Indonesian Contemporary Horror Film“. Pasangan suami istri ini juga merupakan penulis buku Memaksa Ibu Menjadi Hantu (2022).
Justito membedah sejarah sang hantu, dan membuktikan bahwa teror pocong yang menancap di kepala kita hari ini, adalah konstruksi media dan industri hiburan. Dalam penelusurannya, Justito menemukan sebuah detail historis yang membuat saya tersenyum geli.
Misalnya, tahukah kamu, dari mana asalnya pakem bahwa pocong itu harus melompat?
Ternyata, wujud visual pocong yang melompat pertama kali terekam dalam film lawas berjudul Setan Kuburan (1975). Sebelumnya, tidak ada konsensus baku di tengah masyarakat tentang bagaimana cara sebuah mayat yang terikat penuh harus berjalan.
Sineas di masa itulah yang menciptakan koreografi “melompat” sekadar untuk menyiasati keterbatasan gerak sang aktor di depan kamera. Meski sudah melompat di layar lebar, Justito mencatat bahwa pada dekade 1980-an popularitas film pocong masih sangat minim, kalah telak dari dominasi sundel bolong atau kuntilanak yang diperankan Suzanna.
Pocong hantu paling “murah”
Lantas, bagaimana pocong bisa berevolusi menjadi “artis”?
Riset Justito menguraikan bahwa ledakan pocong sebagai fenomena “superstar” ternyata berakar dari wacana transnasional yang diorkestrasi oleh media cetak. Jauh sebelum layar kaca kita dipenuhi sinetron kejar tayang, memori kolektif masyarakat Indonesia lebih dulu dijajah oleh majalah Hidayah.
Majalah yang terbit pertama kali di Malaysia lalu diadaptasi secara masif di Indonesia ini, memainkan peran yang sangat krusial. Di setiap edisinya, majalah ini membombardir pembacanya dengan ilustrasi visual yang sangat traumatis. Seperti jenazah pendosa yang berubah wujud, liang lahat yang menyempit, dan tentu saja, mayat berkafan yang tidak diterima bumi.
Melalui media cetak inilah, pocong mulai mengalami pergeseran makna. Ia tidak lagi sekadar jenazah biasa. Pocong telah dikonstruksi sebagai penanda visual bagi dosa dan hukuman ilahi.
Dari bombardir sampul majalah itulah, “wabah” pocong akhirnya menular dan menemukan panggung terbesarnya di industri televisi swasta Indonesia awal 2000-an. Di titik inilah saya menyadari betapa kapitalistiknya industri hiburan kita.
Uniknya lagi, pocong tidak meledak hanya karena pesona mistisnya, tapi sejatinya karena “efisiensi” ekonomi.
Bayangkan, jika saya adalah seorang produser sinetron harian. Untuk menampilkan kuntilanak yang terbang, saya harus menyewa teknisi yang mahal. Untuk membuat monster atau zombie, saya harus membayar make-up artist berjam-jam untuk menempelkan prostetik berdarah-darah.
Namun, untuk memunculkan pocong? Saya hanya butuh menyuruh kru properti membeli dua meter kain mori murah, segenggam bedak tabur, dan seutas tali. Pocong adalah hantu low-budget yang paling menguntungkan dalam sejarah pertelevisian.
Namanya dibesarkan oleh budaya pop
Melalui sinetron horor-komedi legendaris seperti Jadi Pocong, yang kelak melahirkan karakter Mumun sang ikon budaya pop, hingga menjamurnya Sinetron Azab, pocong resmi dibajak oleh industri televisi. Seperti yang dianalisis Justito, pocong didekonstruksi dari sekadar sacred ghost (hantu sakral yang terikat dengan syariat agama) menjadi instrumen komersial untuk “dakwah ketakutan”.
Hampir setiap sore, layar TV kita dijejali narasi seragam: jenazah orang jahat yang talinya tak bisa dibuka, kemudian gentayangan dan melompat-lompat meneror desa. Televisi mendidik alam bawah sadar kita untuk menghubungkan kain kafan putih itu dengan kengerian, sampai hari ini.
Ironisnya, kegilaan ini sangat khas Indonesia. Justito menyentil sebuah fakta menarik: Malaysia, negara pengekspor majalah Hidayah yang mengawali bombardir visual pocong itu, secara sinematik justru baru memiliki film bertema pocong pada tahun 2015 lewat judul Hantu Bungkus Ikat Tepi.
Industri hiburan kita-lah yang membesarkan sang hantu bungkus ini. Memolesnya dari sekadar mitos yang tak pernah disebut Geertz, figuran di era Orde Baru, menjadi simbol ketakutan yang menguasai ruang keluarga, dan kini, grup WhatsApp warga.
Pada dasarnya, rasa takut pocong ada karena seperti dikasih “spoiler” jadi apa kita nanti
Namun, di titik inilah saya kembali dihadapkan dengan satu pertanyaan. Jika kita tahu bahwa pocong secara historis hanyalah hantu karbitan buatan produser TV, setan kemarin sore, mengapa kita dan jutaan orang Indonesia lainnya tetap merasa merinding saat membayangkan sosoknya?
Untuk menjawab keresahan saya sendiri, saya meminjam analisis dari Julia Kristeva tentang konsep “abjeksi” (abjection). Melalui buku Powers of Horror (1980), Kristeva menjelaskan bahwa manusia memiliki rasa ngeri yang sangat alamiah terhadap hal-hal yang meruntuhkan batas antara “yang-hidup” dan “yang-mati”. Dan, wujud abjeksi paling nyata, kata Kristeva, adalah mayat manusia.
Ketika saya menonton film Barat, misalnya, saya mungkin bisa dengan mudah membangun jarak emosional. Zombie sudah jelas adalah mayat hidup. Namun, ia adalah ancaman eksternal yang bergerak memangsa otak manusia seperti binatang buas.
Begitu pula saat saya melihat mumi di Mesir. Itu juga mayat. Namun, ia adalah Firaun dari ribuan tahun lalu. Saya tak merasa relate dengan kutukannya.
Namun, saat kita–orang Indonesia, Muslim, Jawa–membayangkan pocong, teror yang dirasakan sangat berbeda. Pocong menabrak batas logika dengan brutal. Ia adalah mayat, benda yang seharusnya membusuk di bawah tanah, tetapi bisa berdiri dan menatap orang-orang.
Pocong tidak berlari mengejar untuk memakan daging kita laiknya zombie. Ia menatap kita sebagai sebuah memento mori, frasa Latin yang mengingatkan: “Ingatlah, kamu juga akan mati”.
Di sinilah letak kengerian aslinya. Bagi seorang Muslim di Indonesia, pocong adalah cermin mutlak dari kefanaan. Terornya sangat personal. Suka atau tidak, sekaya apa pun kita, suatu hari nanti pasti akan dimandikan, dibungkus dengan “kostum” putih yang persis sama, diikat dengan simpul yang sama, dan diturunkan ke lubang tanah selebar satu kali dua meter.
Saat kita menatap pocong, mata seperti tidak sedang melihat hantu. Kita seperti sedang melihat “spoiler” nasib jasad kita sendiri di masa depan.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Vivamax Muncul di Negeri yang Masyarakatnya Saleh, Film Dewasa Jadi “Obat Lupa” Krisis Ekonomi dan Represi Politik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
