Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Seni

Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan?

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
25 Mei 2026
A A
Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan.MOJOK.CO

Ilustrasi - Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan? (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pocong itu pada dasarnya cuma hantu kemarin sore. Popularitasnya didapat juga belum lama. Namun, kok bisa, sih, ia masuk kasta tertinggi demit yang paling menyeramkan di Indonesia?

Buktinya, beberapa hari terakhir, grup WhatsApp desa mendadak riuh oleh rentetan video amatir. Ada pocong yang terekam melompat di sudut jalan Ciputat, Sidoarjo, hingga Magelang. 

Iklan

Warga panik. Desas-desus langsung muncul soal keaslian video. Polisi memang sudah menangkap beberapa pengamen jalanan, yang katanya “iseng” melakukan cosplay. Sebagian video juga disebut sebagai hoaks. Namun, kepanikan telanjur menyebar luas.

Melihat histeria massal ini, saya justru merasa heran. Saya merenung, dan berpikir keras. Setiap kali saya menonton film horor dari Mesir, Iran, atau Pakistan, saya tak pernah sekalipun menemui sosok pocong. 

Padahal, miliaran Muslim di seluruh dunia dikuburkan dengan syariat yang sama persis. Tubuh jenazah dimandikan, dibungkus kain kafan putih tanpa jahitan, dan diikat di beberapa titik.

Namun, kalau kita tanyakan kepada masyarakat Arab, apakah mereka pernah diteror oleh mayat melompat yang menuntut tali kafannya dilepas. Saya yakin, 100 persen yakin, mereka akan kebingungan. 

Pocong itu bukan demit khas Muslim

Di situlah saya tersadar: pocong bukan hantu khas masyarakat Muslim. Justru, demit ini “Jawa banget”. Ia lahir dari kultur masyarakat Nusantara yang mencoba memadukan syariat pemakaman Islam dengan sisa-sisa paranoia animisme, bahwa roh orang mati butuh waktu 40 hari untuk benar-benar pergi. 

Di negara-negara Arab, kematian adalah akhir kehidupan di dunia, sebelum menuju alam Barzakh. Namun, di mata masyarakat kita, kematian tampaknya hanyalah “babak baru” dari kehidupan berikutnya, di tempat yang sama.

Dulu, saya selalu mengira pocong adalah hantu purba warisan nenek moyang sejak zaman kerajaan Islam. Namun, asumsi saya runtuh ketika membaca buku antropolog Clifford Geertz, The Religion of Java (1960). 

Saat membaca catatan Geertz tentang hierarki dunia gaib masyarakat Jawa di era klasik, saya terkejut karena nama pocong nyaris tidak terdengar. Panggung horor saat itu dikuasai oleh setan-setan purba seperti memedi, banaspati, danyang, dan roh-roh nenek moyang yang masih gentayangan.

Hantu kemarin sore yang cuma jadi “figuran” saat Orba

Lalu, saya mulai bertanya-tanya. Jika di era 1950-an ia nyaris tak terdengar, siapa sebenarnya yang mengangkat “kasta” pocong hingga menjadi demit elite seperti hari ini?

Rasa penasaran itu membawa saya salah satu literatur akademik yang ditulis dosen Universitas Padjadjaran, Justito Adiprasetio dan Annissa Winda Larasati, bertajuk “Deconstructing Pocong, the Indonesian Sacred Ghost: A Diachronic Analysis of Mumun (2022), Indonesian Contemporary Horror Film“. Pasangan suami istri ini juga merupakan penulis buku Memaksa Ibu Menjadi Hantu (2022).

Justito membedah sejarah sang hantu, dan membuktikan bahwa teror pocong yang menancap di kepala kita hari ini, adalah konstruksi media dan industri hiburan. Dalam penelusurannya, Justito menemukan sebuah detail historis yang membuat saya tersenyum geli. 

Misalnya, tahukah kamu, dari mana asalnya pakem bahwa pocong itu harus melompat?

Iklan

Ternyata, wujud visual pocong yang melompat pertama kali terekam dalam film lawas berjudul Setan Kuburan (1975). Sebelumnya, tidak ada konsensus baku di tengah masyarakat tentang bagaimana cara sebuah mayat yang terikat penuh harus berjalan. 

Sineas di masa itulah yang menciptakan koreografi “melompat” sekadar untuk menyiasati keterbatasan gerak sang aktor di depan kamera. Meski sudah melompat di layar lebar, Justito mencatat bahwa pada dekade 1980-an popularitas film pocong masih sangat minim, kalah telak dari dominasi sundel bolong atau kuntilanak yang diperankan Suzanna.

Pocong hantu paling “murah”

Lantas, bagaimana pocong bisa berevolusi menjadi “artis”?

Riset Justito menguraikan bahwa ledakan pocong sebagai fenomena “superstar” ternyata berakar dari wacana transnasional yang diorkestrasi oleh media cetak. Jauh sebelum layar kaca kita dipenuhi sinetron kejar tayang, memori kolektif masyarakat Indonesia lebih dulu dijajah oleh majalah Hidayah.

Majalah yang terbit pertama kali di Malaysia lalu diadaptasi secara masif di Indonesia ini, memainkan peran yang sangat krusial. Di setiap edisinya, majalah ini membombardir pembacanya dengan ilustrasi visual yang sangat traumatis. Seperti jenazah pendosa yang berubah wujud, liang lahat yang menyempit, dan tentu saja, mayat berkafan yang tidak diterima bumi. 

Melalui media cetak inilah, pocong mulai mengalami pergeseran makna. Ia tidak lagi sekadar jenazah biasa. Pocong telah dikonstruksi sebagai penanda visual bagi dosa dan hukuman ilahi.

Dari bombardir sampul majalah itulah, “wabah” pocong akhirnya menular dan menemukan panggung terbesarnya di industri televisi swasta Indonesia awal 2000-an. Di titik inilah saya menyadari betapa kapitalistiknya industri hiburan kita.

Uniknya lagi, pocong tidak meledak hanya karena pesona mistisnya, tapi sejatinya karena “efisiensi” ekonomi.

Bayangkan, jika saya adalah seorang produser sinetron harian. Untuk menampilkan kuntilanak yang terbang, saya harus menyewa teknisi yang mahal. Untuk membuat monster atau zombie, saya harus membayar make-up artist berjam-jam untuk menempelkan prostetik berdarah-darah. 

Namun, untuk memunculkan pocong? Saya hanya butuh menyuruh kru properti membeli dua meter kain mori murah, segenggam bedak tabur, dan seutas tali. Pocong adalah hantu low-budget yang paling menguntungkan dalam sejarah pertelevisian.

Namanya dibesarkan oleh budaya pop

Melalui sinetron horor-komedi legendaris seperti Jadi Pocong, yang kelak melahirkan karakter Mumun sang ikon budaya pop, hingga menjamurnya Sinetron Azab, pocong resmi dibajak oleh industri televisi. Seperti yang dianalisis Justito, pocong didekonstruksi dari sekadar sacred ghost (hantu sakral yang terikat dengan syariat agama) menjadi instrumen komersial untuk “dakwah ketakutan”. 

Hampir setiap sore, layar TV kita dijejali narasi seragam: jenazah orang jahat yang talinya tak bisa dibuka, kemudian gentayangan dan melompat-lompat meneror desa. Televisi mendidik alam bawah sadar kita untuk menghubungkan kain kafan putih itu dengan kengerian, sampai hari ini.

Ironisnya, kegilaan ini sangat khas Indonesia. Justito menyentil sebuah fakta menarik: Malaysia, negara pengekspor majalah Hidayah yang mengawali bombardir visual pocong itu, secara sinematik justru baru memiliki film bertema pocong pada tahun 2015 lewat judul Hantu Bungkus Ikat Tepi. 

Industri hiburan kita-lah yang membesarkan sang hantu bungkus ini. Memolesnya dari sekadar mitos yang tak pernah disebut Geertz, figuran di era Orde Baru, menjadi simbol ketakutan yang menguasai ruang keluarga, dan kini, grup WhatsApp warga.

Pada dasarnya, rasa takut pocong ada karena seperti dikasih “spoiler” jadi apa kita nanti

Namun, di titik inilah saya kembali dihadapkan dengan satu pertanyaan. Jika kita tahu bahwa pocong secara historis hanyalah hantu karbitan buatan produser TV, setan kemarin sore, mengapa kita dan jutaan orang Indonesia lainnya tetap merasa merinding saat membayangkan sosoknya? 

Untuk menjawab keresahan saya sendiri, saya meminjam analisis dari Julia Kristeva tentang konsep “abjeksi” (abjection). Melalui buku Powers of Horror (1980), Kristeva menjelaskan bahwa manusia memiliki rasa ngeri yang sangat alamiah terhadap hal-hal yang meruntuhkan batas antara “yang-hidup” dan “yang-mati”. Dan, wujud abjeksi paling nyata, kata Kristeva, adalah mayat manusia.

Ketika saya menonton film Barat, misalnya, saya mungkin bisa dengan mudah membangun jarak emosional. Zombie sudah jelas adalah mayat hidup. Namun, ia adalah ancaman eksternal yang bergerak memangsa otak manusia seperti binatang buas. 

Begitu pula saat saya melihat mumi di Mesir. Itu juga mayat. Namun, ia adalah Firaun dari ribuan tahun lalu. Saya tak merasa relate dengan kutukannya. 

Namun, saat kita–orang Indonesia, Muslim, Jawa–membayangkan pocong, teror yang dirasakan sangat berbeda. Pocong menabrak batas logika dengan brutal. Ia adalah mayat, benda yang seharusnya membusuk di bawah tanah, tetapi bisa berdiri dan menatap orang-orang. 

Pocong tidak berlari mengejar untuk memakan daging kita laiknya zombie. Ia menatap kita sebagai sebuah memento mori, frasa Latin yang mengingatkan: “Ingatlah, kamu juga akan mati”.

Di sinilah letak kengerian aslinya. Bagi seorang Muslim di Indonesia, pocong adalah cermin mutlak dari kefanaan. Terornya sangat personal. Suka atau tidak, sekaya apa pun kita, suatu hari nanti pasti akan dimandikan, dibungkus dengan “kostum” putih yang persis sama, diikat dengan simpul yang sama, dan diturunkan ke lubang tanah selebar satu kali dua meter. 

Saat kita menatap pocong, mata seperti tidak sedang melihat hantu. Kita seperti sedang melihat “spoiler” nasib jasad kita sendiri di masa depan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Vivamax Muncul di Negeri yang Masyarakatnya Saleh, Film Dewasa Jadi “Obat Lupa” Krisis Ekonomi dan Represi Politik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 Mei 2026 oleh

Tags: asal usul pocongfilm pocongjadi pocongpilihan redaksipocongpocong viralsejarah pocongteror pocongvideo pocong
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga MOJOK.CO

Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga

25 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Memilih Sekolah Mahal demi Selamatkan Pergaulan Anak di Desa, Malah Dicap “Sok Kaya” dan Egois oleh Tetangga

27 Juli 2026
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan MOJOK.CO

Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan

22 Juli 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

SRAK 2026-2036 Resmi Disusun, Komitmen Lintas Sektor Selamatkan Elang Jawa dari Kepunahan

27 Juli 2026
Titi terendah perempuan: bawa bocil saat naik kereta api MOJOK.CO

Titik Terendah Ibu saat Naik Kereta Api Bawa Bocil: Mental Terguncang Bukan karena Bocil Tantrum tapi Mulut Jahat Sesama Perempuan

27 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.