Perjuangan untuk lulus kuliah dan mendapatkan satu gelar saja sudah dianggap sulit oleh sebagian orang. Namun, tidak untuk mahasiswa UGM yang tak lama setelah mendapatkan gelar S1 Kedokteran, langsung mengantongi titel S2 Kesehatan Masyarakat (Kesmas), pada usianya yang belum menyentuh angka 25 tahun.
Jadi lulusan termuda S2 UGM sebelum usia 25 tahun
Cerita ini datang dari Muhammad Rizky Perwira Zain. Pemuda yang akrab disapa Kiki ini berhasil menyelesaikan Program Magister (S2) Kesehatan Masyarakat pada usia yang terbilang sangat muda, yakni 22 tahun 2 bulan 8 hari.
Padahal, rata-rata usia lulusan Program S2 UGM pada periode ini mencapai 29 tahun 6 bulan 15 hari.
Di balik titelnya sebagai lulusan termuda, Kiki bercerita, ia mengikuti program Block Elective sejak masih berkuliah di Kedokteran UGM. Program ini memberinya kesempatan untuk menentukan arah pengembangan akademik, termasuk memilih jalur percepatan (fast track) yang memungkinkan dia mengambil kuliah S2 sejak akhir semester kuliah S1.
Mahasiswa yang berasal dari fakultas yang digadang-gadang sebagai fakultas elite ini, yakni Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, kemudian menekadkan untuk mengambil program tersebut. Sebab, ia menilai bahwa program ini memungkinkan dirinya menggabungkan pendidikan S1 Kedokteran dan S2 Kesehatan Masyarakat pada waktu bersamaan.
Melalui keputusan inilah, Kiki mendapatkan kesempatan menjadi lulusan termuda UGM pada Wisuda Program Pascasarjana Periode III Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar pada Rabu (22/4/2026) lalu di Grha Sabha Pramana UGM, Jogja.
Mengorbankan pendidikan koas, lalu dihadapkan pada skripsi dan kuliah S2 dalam satu waktu
Keputusan ini mengharuskan Kiki untuk mengorbankan pendidikan profesi dokter (koas) selama satu tahun. ia mengatakan, harus menunda koas untuk menempuh S2.
Berbekal diskusi panjang dengan keluarga, Kiki membulatkan keputusan. Pemuda asal Jawa Timur ini menunda koas, kemudian memilih untuk menjalani S1 Kedokteran bersamaan dengan S2 Kesehatan Masyarakat melalui jalur percepatan.
“Ini keputusan yang agak besar karena saya harus menunda waktu koas satu tahun untuk menjalani S2 dulu,” katanya, dikutip dari laman UGM, Jumat (1/5/2026).

Namun, keputusan itu tidak serta-merta mempermudah jalan Kiki dalam melangsungkan dua perkuliahan dalam satu waktu. Ia masih harus menghadapi berbagai macam tantangan, terutama dalam hal manajemen waktu dan beban akademik yang berlapis.
Pada saat yang bersamaan, ia dituntut menyelesaikan skripsi S1 Kedokteran sekaligus mengikuti perkuliahan S2 Kesehatan Masyarakat yang berlangsung padat hampir setiap hari.
Situasi ini membuat ritme belajarnya jauh lebih intens dibandingkan mahasiswa lainnya. Meskipun, Kiki tidak lantas memperlamban pencapaian kuliahnya, ia juga tetap aktif dalam kegiatan organisasi—menambahkan beban waktu dan energi dalam kegiatan perkuliahannya.
“Di semester itu saya harus menyelesaikan skripsi dan menjalani semester satu pada program magister yang cukup padat,” kata dia.
Sempat burn out, tetapi berhasil mengantongi dua gelar sebelum usia 25 tahun
Selain itu, Kiki bercerita, ia juga menghadapi tantangan sekaligus tuntutan untuk beradaptasi dengan lingkungan yang didominasi oleh mahasiswa senior. Bagaimana tidak, Kiki masih menjalani akhir semester perkuliahan sarjana, tetapi juga sudah harus menempatkan diri dalam lingkungan mahasiswa tingkat lanjut.
Perbedaan dengan mahasiswa senior ini menuntut Kiki untuk mampu menempatkan diri, menjaga etika komunikasi, serta membangun kepercayaan lebih tinggi. Khususnya, dalam pengerjaan kerja kelompok dengan mahasiswa lainnya.
Begitu berhasil beradaptasi, dirinya kembali dihadapkan dengan keharusan turun ke lapangan sekaligus menyusun rancangan awal tesis pada semester kedua. Kondisi ini membuat Kiki sempat mengalami burnout akibat kelelahan.
Namun mengingatkan diri kepada tekadnya, Kiki mencoba menguatkan dirinya untuk berusaha menjalani, serta memenuhi tuntutan perkuliahannya.
“Sempat mengalami burnout karena banyak kegiatan yang dihadapi, tapi ya enggak apa-apa, dijalani saja,” ujarnya.
Berkat kegigihan ini, Kiki berhasil mendapatkan gelar S1 Kedokteran dan S2 Kesehatan Masyarakat di UGM dalam satu waktu. Meskipun, ia mengatakan, pencapaian lulus pada usia muda bukan tujuan utamanya. Ia bilang, usia kelulusan tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan.
Menurut dia, hal yang jauh lebih penting adalah memberikan manfaat nyata dengan ilmu yang didapatkan untuk orang lain. Ia menekankan, esensi kuliah bukan untuk lulus paling cepat, melainkan menghasilkan dampak.
Maka, capaiannya lulus pada usia 22 tahun ini bukanlah sesuatu yang besar bagi Kiki.
“Karena pada akhirnya, bukan soal siapa paling cepat lulus, tapi bagaimana ilmu yang kita dapat bisa bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan