Bekerja di kampus sendiri melalui program student employee terdengar seperti tawaran yang menguntungkan bagi mahasiswa. Namun program itu malah menjadi beban dan membuat mahasiswa stres karena merangkap jadi pegawai kampus.
***
Agus (25) *bukan nama sebenarnya, menjadi salah satu orang yang mengikuti program student employee di satu kampus negeri di Jogja. Dari luar apa yang ia kerjakan sebagai mahasiswa yang juga pegawai kampus tentu menyenangkan di mata orang lain.
Namun, pengalaman menjadi student employee selama dua tahun terakhir justru menghadirkan cerita yang berbeda: pekerjaan menumpuk, waktu belajar tergerus, sementara gaji tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sampai akhir bulan.
Niat kuliah sambil kerja melalui program student employee, malah menanggung beban ganda
Agus meminta identitas dan nama kampus tempatnya bekerja tidak disebutkan karena khawatir pengalamannya menimbulkan masalah. Saya menemui Agus di kantin kampus Senin (21/10/2026). Obrolan kami berawal dari pengalamannya mengikuti program student employee, sebuah skema yang memungkinkan mahasiswa bekerja di lingkungan perguruan tinggi sambil melanjutkan pendidikan.
Ia mengikuti program tersebut dengan harapan bisa mendapatkan penghasilan tanpa harus meninggalkan kehidupan akademiknya. Kesempatan itu terasa sayang untuk dilewatkan, terlebih karena ia bisa bekerja di kampus tempatnya menempuh pendidikan.
“Mumpung ada kesempatan, Mas, makanya saya ambil program tersebut. Dari akhir S1 hingga kini sedang kuliah S3,” ujar Agus.
Selama mengikuti program itu, Agus mengaku memperoleh sejumlah keuntungan. Kampus memberikan potongan Uang Kuliah Tunggal (UKT), gaji bulanan, serta prioritas ketika menjalani bimbingan akademik.
Sekilas, kombinasi tersebut memang menggiurkan. Mahasiswa bisa memperoleh pengalaman kerja sekaligus mengurangi beban biaya pendidikan. Namun, manfaat itu bukan satu-satunya hal yang perlu diperhitungkan. Agus juga harus menjalankan pekerjaan administratif yang menyita waktu, tenaga, dan konsentrasinya.
Menjadi pegawai kampus bukan cuma mengurus berkas
Agus bertugas di bagian akademik sebuah fakultas. Pekerjaannya mencakup pengurusan berkas yudisium, penyusunan jadwal kuliah, hingga pengaturan kebutuhan dosen selama perkuliahan berlangsung. Pada waktu tertentu, ia juga membantu pekerjaan divisi lain. Tanggung jawab tersebut membuat pekerjaannya tidak sesederhana anggapan orang yang melihatnya dari luar.
“Orang mikirnya enak, Mas, kerja di kampus, palingan cuma ngurusi berkas-berkas. Orang cuma lihat enaknya dari manfaat yang aku terima. Padahal ada beban yang tidak mereka tahu,” katanya.
Masalahnya, Agus tidak bisa meninggalkan tanggung jawab akademiknya sendiri. Di sela pekerjaan sebagai pegawai kampus, ia tetap harus menghadiri perkuliahan, menyelesaikan tugas, mengikuti bimbingan, dan memenuhi target kelulusan.
“Kalau beban kerjanya jelas seperti kerja rodi, Mas,” ujarnya.
Beban itu terasa semakin berat ketika pekerjaan kantor bertemu dengan tenggat akademik. Agus bercerita bahwa salah satu masa paling melelahkan terjadi ketika ia sedang berusaha menyelesaikan tesis. Pada saat bersamaan, ia juga harus mempersiapkan berkas akademik untuk keperluan akreditasi program studi.
“Sudah kepala pusing karena tesis, masih harus mempersiapkan berkas-berkas akademik untuk akreditasi jurusan. Puyeng dah,” katanya sembari mengacak-acak rambut.
Bagi Agus, persoalannya bukan sekadar sibuk. Ia harus membagi perhatian untuk dua tanggung jawab yang sama-sama menuntut penyelesaian tepat waktu, sementara kapasitas tenaga dan waktunya tetap terbatas.
Gaji di bawah UMR, potongan UKT tak menyelesaikan masalah
Ketika obrolan kami beralih ke penghasilan, Agus mengaku gajinya tidak mencapai upah minimum di wilayah Yogyakarta. Ia juga merasa potongan UKT belum cukup untuk menutup persoalan keuangan yang muncul selama kuliah.
“Gajinya itu nggak sampai UMR Jogja, Mas, di bawahnya jauh. Ya benar mendapat potongan untuk UKT, tetapi tetap saja UKT itu mahal dan gajinya nggak sampai di akhir bulan,” ujarnya.
Bagi Agus, potongan UKT memang meringankan sebagian biaya pendidikan. Namun, keuntungan tersebut tidak otomatis membuat beban hidupnya lebih ringan. Ia tetap membutuhkan uang untuk kebutuhan sehari-hari, sementara pekerjaannya menyita waktu yang bisa ia gunakan untuk mencari penghasilan tambahan.
Di sinilah letak persoalan yang ia rasakan. Kampus memberikan manfaat pendidikan sebagai bagian dari program, tetapi Agus menilai imbalan finansial yang ia terima belum sebanding dengan tanggung jawabnya.
Pengalaman ini tentu tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh program student employee menawarkan upah rendah atau membebani pesertanya secara berlebihan. Namun, cerita Agus menunjukkan pentingnya melihat rincian pekerjaan, jam kerja, dan kompensasi sebelum menilai sebuah program sebagai kesempatan karir yang menguntungkan.
Penelitian menunjukkan risiko menjalani dua peran sekaligus
Keluhan Agus bukan berarti semua mahasiswa yang bekerja sambil kuliah mengalami persoalan serupa. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pembagian waktu dan beban ganda memang layak mendapat perhatian.
Penelitian Elma Mardelina dan Ali Muhson yang terbit dalam Jurnal Economia Universitas Negeri Yogyakarta pada 2017 melibatkan 205 mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Hasilnya menunjukkan bahwa mahasiswa yang bekerja cenderung memiliki waktu belajar lebih sedikit dan capaian akademik lebih rendah dibandingkan mahasiswa yang tidak bekerja. Temuan ini tidak secara khusus membahas program student employee, tetapi relevan untuk memahami risiko ketika mahasiswa harus membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan.
Sementara itu, penelitian dalam Jurnal Pendidikan Tambusai pada 2025 yang melibatkan 117 responden menemukan bahwa 68 persen responden mengalami stres akademik kategori sedang dan 30 persen kategori tinggi. Penelitian tersebut menyoroti tekanan ujian, tugas kelompok, serta pengelolaan waktu sebagai faktor yang perlu diperhatikan.
Ada pula penelitian sosio-legal Patricia Nerissa Krisna Putri dan Markus Togar Wijaya yang terbit dalam Jurnal Hukum & Pembangunan. Penelitian itu mengkaji perubahan status pekerja mahasiswa di Fakultas Hukum UGM dari tenaga paruh waktu menjadi mahasiswa magang. Penulis menyoroti persoalan status kerja dan potensi ketidakadilan struktural ketika mahasiswa menjalankan pekerjaan, menerima perintah, dan memperoleh upah, tetapi status hubungan kerjanya menjadi tidak jelas.
Ketiga penelitian tersebut memiliki konteks dan metode berbeda. Tidak satu pun membuktikan bahwa kampus tempat Agus bekerja melakukan pelanggaran. Namun, semuanya memberi alasan untuk tidak memandang pekerjaan mahasiswa semata-mata sebagai sarana memperoleh pengalaman.
Ketika janji membangun karir melalui student employee tak sejalan dengan pengalaman
Bagi Agus, pengalaman selama dua tahun itu belum memberikan perkembangan karier seperti yang ia harapkan. Ia mengaku masih berkutat dengan pekerjaan administratif, sementara tanggung jawab kuliahnya terus berjalan.
Kondisi tersebut membuatnya mempertanyakan nilai yang sebenarnya ia peroleh dari program student employee. Pengalaman kerja memang bisa memperkaya keterampilan, tetapi pengalaman itu tidak otomatis menjamin peningkatan karier, apalagi jika pekerjaan menyita waktu tanpa memberikan jalur pengembangan yang jelas.
“Ini mah eksploitasi berkedok membangun karir, Mas. Buktinya juga karirnya mandek di situ aja, nggak ke mana-mana,” kata Agus.
Pernyataan itu merupakan penilaian pribadi Agus atas pengalamannya sendiri. Ia tidak menampik manfaat berupa potongan UKT, gaji, dan kemudahan akademik. Namun, ia merasa keuntungan tersebut belum cukup untuk mengimbangi beban kerja yang ia tanggung.
Cerita Agus mengingatkan bahwa label student employee tidak dengan sendirinya membuat sebuah pekerjaan ideal bagi mahasiswa. Kampus tetap perlu menjelaskan batas jam kerja, rincian tugas, besaran kompensasi, dan kesempatan pengembangan karir secara transparan.
Bagi mahasiswa yang mempertimbangkan program serupa, pertanyaannya bukan hanya berapa potongan UKT atau gaji yang akan diterima. Mereka juga perlu menghitung berapa banyak waktu belajar yang tersisa, seberapa besar tanggung jawab pekerjaan, dan apakah pengalaman tersebut benar-benar membantu tujuan karir mereka. Sebab, kesempatan kuliah sambil bekerja baru layak disebut menguntungkan jika mahasiswa tidak harus terus-menerus mengorbankan salah satunya demi mempertahankan yang lain.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Lulus Kuliah Sambil Kerja Selama 14 Tahun, Melelahkan tapi Dinikmati karena Kini Bangga Bisa Pamer Ijazah S1 atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan