ADVERTISEMENT

Lulus Kuliah Sambil Kerja Selama 14 Tahun, Melelahkan tapi Dinikmati karena Kini Bangga Bisa Pamer Ijazah S1

Malu 14 Tahun Kuliah Sambil Kerja, Kini Bangga Pamer Ijazah S1. MOJOK.CO

Sempat merasa malu dan dianggap beban keluarga karena menjalani kuliah selama 14 tahun. Hingga akhirnya kini lulus dan bangga bisa pamerkan ijazah S1 kepada orang tua. 

***

ADVERTISEMENT

Bagi Bayu (32), ijazah S1 Teknik Informatika bukan sekadar selembar kertas yang menandai kelulusan. Ijazah itu menjadi bukti bahwa ia akhirnya menuntaskan sesuatu yang pernah ia tinggalkan selama bertahun-tahun.

Bayu kini bekerja sebagai pegawai di Pemerintah Kota Yogyakarta dengan status pegawai kontrak. Namun, perjalanan akademiknya tidak berjalan mulus. Ia memulai kuliah pada September 2012 di Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY), sempat terlena oleh bisnis, mengalami pemutusan perjalanan akademik alias drop out (DO), lalu kembali kuliah sambil kerja hingga akhirnya lulus pada 2026.

Total, ia menghabiskan waktu sekitar 14 tahun untuk menuntaskan pendidikan S1. Perjalanan panjang itu mengajarinya bahwa kemampuan saja tidak cukup jika seseorang terus menunda tanggung jawabnya sendiri.

Kuliah terbengkalai karena bisnis mulai menghasilkan cuan

Bayu lulus SMA pada 2012. Ia sempat mengikuti SNMPTN, tetapi gagal. Seleksi mandiri juga tidak membawanya ke perguruan tinggi negeri. Ia kemudian memilih UTY agar tetap bisa mengambil jurusan Teknik Informatika yang ia idamkan.

Pada awal kuliah, Bayu mengaku menjalani kehidupan sebagai mahasiswa kupu-kupu alias kuliah pulang. Semuanya berubah ketika ia memasuki semester lima dan mendapat mata kuliah kewirausahaan. Dari sana, ia melihat peluang untuk menjalankan bisnis sebuah usaha membuat buku tahunan siswa.

Dua tahun pertama bisnisnya berjalan lancar. Sayangnya, kesibukan mencari uang membuat kuliahnya semakin terbengkalai. Bayu mengingat satu keputusan yang belakangan ia sesali. Saat itu, ia harus memilih antara berangkat ke Jakarta untuk presentasi tender bisnis atau mengikuti ujian akhir semester (UAS).

“Tanpa berpikir panjang seorang pria pikiran pendek ini mengambil kesempatan untuk tender. Di situlah awal mula sebuah kehancuran kemalasan untuk kuliah,” tulisnya ketika menceritakan perjalanan akademiknya pada Kamis (15/10/2026).

Setelah itu, Bayu tetap membayar kuliah, tetapi mulai mengabaikan urusan akademik. Ia sering terlambat mengisi Kartu Rencana Studi (KRS), bahkan pernah melewatkannya sama sekali. Padahal, saat memasuki semester delapan, ia tinggal menyelesaikan skripsi. Dua dosen pembimbingnya sudah menyetujui proposal, tetapi ia tidak mengurus tanda tangan ketua program studi. Alasannya sederhana sekaligus menyebalkan: malas.

ADVERTISEMENT

Terpaksa DO dan bisnis ambruk saat pandemi

Kebiasaan menunda itu akhirnya membawa Bayu pada titik yang tidak bisa ia hindari. Pada 2019, kampus mengumumkan bahwa mahasiswa yang belum lulus sidang skripsi hingga November akan dianggap mengundurkan diri. Bayu gagal memenuhi tenggat tersebut. Pada tahun yang sama, ia resmi berstatus DO dan gagal mendapatkan ijazah S1.

Ia belum sempat menuntaskan penyesalannya ketika masalah lain datang. Pada 2020, pandemi Covid-19 menghantam bisnisnya hingga ambruk. Bayu kehilangan sumber penghasilan dan harus menghadapi masa pengangguran.

Sebelumnya, ia berharap penghasilan dari bisnis cukup untuk menopang kehidupannya. Kenyataannya berbeda. Ketika bisnis berhenti menghasilkan, ia tidak memiliki pegangan seperti yang ia bayangkan. Pengalaman itu menjadi salah satu titik balik dalam hidupnya. Bayu tidak hanya kehilangan pekerjaan dan penghasilan, tetapi juga harus menghadapi kenyataan bahwa pendidikan yang ia mulai bertahun-tahun sebelumnya belum selesai.

Minder di tempat kerja, akhirnya memutuskan kuliah Lagi

Pada 2022, Bayu mendapat pekerjaan yang menurutnya sesuai dengan pengalaman bisnis dan jurusan kuliahnya. Namun, lingkungan kerja justru memunculkan persoalan baru. Di antara rekan-rekannya, Bayu merasa minder karena status pendidikan terakhirnya masih SMA. Sementara itu, rekan kerja lainnya setidaknya memiliki ijazah D3.

Perasaan tersebut mendorongnya mengambil keputusan untuk kembali kuliah. Kali ini, ia memanfaatkan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang memungkinkan perguruan tinggi mengakui capaian pembelajaran sebelumnya sesuai ketentuan yang berlaku.

Bayu bisa mengonversi sebagian nilai dari kampus lamanya ke kampus baru di STMIK El Rahma. Ia kembali menjadi mahasiswa jurusan Informatika pada 2022, tetapi dengan kondisi yang berbeda: sekarang ia harus membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan.

Pengalaman Bayu mencerminkan tantangan yang juga muncul dalam penelitian tentang mahasiswa pekerja. Penelitian oleh Rizky Wahyu Wulandari di Universitas Negeri Yogyakarta pada 2022 melibatkan 313 mahasiswa yang bekerja di Yogyakarta. Penelitian itu membahas hubungan keseimbangan kehidupan kerja dan keterlibatan dalam pekerjaan, sekaligus menunjukkan bahwa menjalani dua peran menuntut pengelolaan waktu dan energi.

Kuliah sambil kerja memang melelahkan, tetapi bisa dinikmati

Bayu mengikuti kelas karyawan dengan perkuliahan tatap muka mulai pukul 18.15 hingga 21.30 setiap hari sesuai jadwal kuliahnya. Setelah bekerja seharian, ia harus kembali duduk di kelas dan mengikuti kegiatan akademik sampai malam. Beban itu bertambah ketika ia harus menghadapi urusan lain di luar pekerjaan. Ia juga sempat mengambil cuti selama dua semester karena tidak mampu membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Menjalani kuliah sambil kerja jelas bukan perkara mudah. Bayu harus menjaga pekerjaannya sekaligus memenuhi kewajiban akademik yang pernah ia abaikan. Namun, kali ini ia merasakan sesuatu yang berbeda. Ia justru menikmati proses perkuliahan. Baginya, pengalaman belajar sebagai mahasiswa yang sudah bekerja terasa lebih menyenangkan daripada yang ia bayangkan.

Bahkan, ia tidak lagi menganggap skripsi dan sidang sebagai momok yang menakutkan. Ketika menjalani sidang skripsi, ia bisa berdiskusi santai dengan dosen penguji tentang aplikasi sistem yang ia buat dan kemungkinan pengembangannya. Pengalaman tersebut mengubah pandangannya terhadap kuliah. Hal yang dulu ia hindari karena malas kini menjadi proses yang ia jalani dengan kesadaran penuh.

Empat belas tahun kemudian, akhirnya bisa bangga pamer ijazah

Pada 2026, Bayu akhirnya menyelesaikan pendidikan S1 Teknik Informatika. Setelah memulai kuliah pada 2012, ia membutuhkan sekitar 14 tahun untuk mencapai garis akhir.

“Setelah lulus jelas, berasa sangat lega. Ternyata kuliah tidak semenakutkan dan seseram itu,” tulisnya.

Rasa bangga Bayu bukan semata-mata karena berhasil memperoleh gelar sarjana. Ia juga merasa sudah menuntaskan tanggung jawab kepada orang tuanya yang selama ini menunggu kabar kelulusannya.

“Dari setiap proses yang kujalani selama 14 tahun di bangku mahasiswa ternyata kalau saya niat dari awal, semuanya bisa,” ungkapnya.

Bayu juga ingin membuktikan sesuatu kepada dirinya sendiri, pacar yang ia kasihi, dan orang tuanya. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu menyelesaikan pendidikan yang sempat ia tinggalkan.

Kini, ijazah S1 itu menjadi sesuatu yang pantas ia banggakan. Bukan karena ia menyelesaikan kuliah lebih cepat daripada orang lain, melainkan karena ia akhirnya berani menghadapi tanggung jawab yang bertahun-tahun ia tunda. Pesan terakhirnya untuk kedua orang tuanya ia sampaikan dengan bahasa Jawa yang sederhana, tetapi terasa personal.

“Pakk, makk.. anakmu wes luluss.. maturnuwun ora kesel ngentenii,”

Setelah 14 tahun, Bayu akhirnya bisa memamerkan ijazah S1-nya. Kali ini, bukan untuk membandingkan diri dengan orang lain, melainkan untuk membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ia bisa menyelesaikan apa yang pernah ia tinggalkan.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.