Menjadi sarjana Sastra Indonesia dari PTN terkenal di Jogja ternyata tidak menjanjikan apa-apa selain hanya menjadi beban keluarga dan pengangguran yang puitis.
***
Lima tahun kuliah Bahasa dan Sastra Indonesia di salah satu PTN ternama di Jogja membuat Akhmad (27) punya satu hal yang cukup ia banggakan yakni ijazah sarjana. Namun, ijazah itu belum banyak membantu kehidupan setelah ia lulus pada 2022.
Laki-laki kelahiran Pasuruan, Jawa Timur, tersebut memang sempat bekerja sebagai SEO Writer di sebuah agensi ekspedisi terkenal di Jogja. Pekerjaan itu dijalaninya selama dua tahun dengan status kontrak. Setelah kontraknya selesai, Akhmad memilih pulang ke Pasuruan.
Kini, rutinitasnya adalah menjadi pengemudi ojek online. Ketika saya menelepon dan bertanya bagaimana rasanya menjadi sarjana Sastra Indonesia tetapi belum mempunyai pekerjaan tetap, Akhmad tertawa kecil sebelum bercerita panjang.
“Sulit. Apalagi kalau sudah pulang ke rumah,” katanya.
Bagi Akhmad, persoalannya bukan cuma belum punya pekerjaan tetap. Ada gelar sarjana yang telanjur dibebani harapan menjadi jalan keluar ekonomi keluarga.
Saat di jogja, kemiskinan itu masih bisa disembunyikan
Selama masih tinggal di Jogja, Akhmad merasa keadaan belum terlalu buruk. Setidaknya, ia masih bisa menyembunyikan sebagian kenyataan dari orang tuanya di Pasuruan.
Setiap kali orang tuanya melakukan panggilan video, ia masih bisa mengatakan pekerjaannya menyenangkan. Seolah-olah hidup sebagai pekerja kantoran di Jogja berjalan baik-baik saja. Padahal, gajinya tidak sampai UMK Sleman.
Akhmad harus pintar-pintar mengatur pengeluaran. Pertengahan bulan sering menjadi waktu yang menyebalkan karena uang sudah menipis. Akhir bulan kadang harus dilewati dengan berutang.
“Kadang ya ngirit banget. Sampai akhir bulan itu bisa hidup dari utang,” ceritanya.
Namun, ada satu keuntungan menjadi anak rantau, orang tua tidak melihat kehidupan kita secara langsung. Di layar ponsel, seorang anak bisa terlihat baik-baik saja.
Kamar kos yang sempit tidak masuk kamera. Makan seadanya juga tidak perlu diceritakan. Selama masih bisa tersenyum ketika video call, kehidupan di perantauan tampak baik-baik saja. Masalahnya, kebohongan kecil itu tidak mungkin dipelihara selamanya.
Pulang kampung membuat kebohongan jadi percuma
Ketika kontraknya sebagai SEO Writer selesai, Akhmad kembali ke Pasuruan. Di sinilah persoalan terasa lebih nyata. Jika di Jogja ia masih bisa mengatakan sedang bekerja, di rumah orang tuanya ia tidak punya banyak ruang untuk menyembunyikan keadaan. Mereka bisa melihat sendiri bahwa anaknya sudah menjadi sarjana, tetapi belum mempunyai pekerjaan tetap.
“Kalau sudah pulang, mau bohong bagaimana? Orang tua tahu sendiri,” ujarnya.
Gelar S1 yang dulu terasa membanggakan berubah menjadi sesuatu yang justru membebani pikiran. Harapan orang tua tentu sederhana. Setelah lima tahun kuliah, anaknya bisa bekerja, mendapatkan penghasilan, dan perlahan mandiri. Kalau memungkinkan, membantu ekonomi keluarga.
Yang terjadi justru sebaliknya. Akhmad masih harus bertahan dengan pekerjaan yang penghasilannya tidak pasti. Gelar sarjana yang semestinya menjadi modal memasuki dunia kerja belum menghasilkan banyak hal selain selembar ijazah.
Di titik ini, menjadi pengangguran bukan lagi perkara gengsi. Ada kebutuhan sehari-hari yang tetap harus dibayar.
Gelar sastra indonesia tidak banyak laku di pasuruan
Pasuruan sebenarnya bukan kota tanpa lapangan pekerjaan. Menurut Akhmad, daerahnya dipenuhi pabrik dan industri. Pilihan pekerjaan sebenarnya tersedia. Hanya saja, ia belum ingin mengambil pekerjaan di pabrik sekadar untuk menghilangkan status pengangguran.
“Saya penginnya ya kerja sesuai ijazah. Sesuai jurusan,” katanya.
Keinginan tersebut terdengar idealis jika berhadapan dengan kebutuhan hidup. Tetapi bagi Akhmad, Sastra Indonesia bukan jurusan yang ingin ia tinggalkan begitu saja setelah lima tahun kuliah. Ia masih percaya bahwa kemampuan menulis yang diperolehnya selama kuliah bisa menjadi jalan untuk mencari penghidupan.
Persoalannya, pasar kerja tidak selalu peduli pada kebanggaan seseorang terhadap jurusannya. Ijazah Sastra Indonesia tidak otomatis membuat perusahaan datang menawarkan pekerjaan. Apalagi di daerah yang pilihan industri dan pabriknya lebih dominan.
Akhmad akhirnya berada di antara dua pilihan; menggadaikan idealismenya demi pekerjaan yang tersedia atau mempertahankan keinginannya bekerja sesuai bidang yang ia kuasai sembari mencari cara untuk bertahan hidup.
Ojol jadi cara bertahan setelah gelar sarjana tidak berguna
Menjadi driver ojol mungkin bukan pekerjaan yang dibayangkan Akhmad. Lima tahun kuliah tentu tidak pernah ia jalani dengan bayangan bahwa setelah lulus ia akan menghabiskan waktu di atas motor mencari penumpang. Namun, hidup tidak terlalu peduli dengan rencana lima tahun seseorang.
Kini motor dan aplikasi ojol menjadi alat Akhmad untuk mendapatkan penghasilan. Tidak membuatnya kaya, memang. Tetapi setidaknya ada pemasukan yang bisa digunakan untuk menjalani hari.
Pekerjaan itu juga membuatnya tidak sepenuhnya bergantung kepada orang tua. Di sela-sela menjadi driver, ia masih menulis. Puisi dan cerpen tetap dibuatnya.
Barangkali hanya di sanalah gelar Sastra Indonesianya masih terasa berguna. Ironisnya, kemampuan yang dahulu ia pelajari secara akademis justru belum mampu menjadi sumber penghasilan utama.
Gelar sarjana indonesia yang akhirnya menjadi pengangguran puitis
Akhmad tidak menganggap dirinya berhenti menjadi orang Sastra Indonesia hanya karena sekarang mencari uang dengan menjadi driver ojol. Ketika kami membicarakan kehidupannya setelah lulus, ia sempat menyebut dirinya dengan istilah yang terdengar seperti lelucon untuk keadaan yang sebenarnya tidak lucu.
“Pengangguran yang puitis,” katanya.
Kalimat itu datang dari Akhmad sendiri. Mungkin terdengar lucu. Tetapi di baliknya ada situasi yang cukup pelik; seorang sarjana Sastra Indonesia yang masih berusaha mempertahankan kecintaannya pada tulisan, sementara kebutuhan hidup memaksanya mencari nafkah di jalan.
Ia bukan tidak bekerja sama sekali. Ia bekerja, hanya saja belum mendapatkan pekerjaan tetap yang sesuai dengan pendidikan dan keinginannya. Dan ia juga belum mau menyerah pada gelar yang sudah diperjuangkannya selama lima tahun.
Bagi Akhmad, mendapat gelar S1 ternyata tidak otomatis membuat hidup menjadi lebih mudah. Kini yang tersisa adalah motor ojol, penghasilan yang harus dikejar setiap hari, ijazah yang belum banyak berguna, serta puisi dan cerpen yang masih terus ditulis.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Ingin Kuliahkan Anak, Meski Kuliah di PTN Ecek-ecek Malah Punya Karier Terhormat ketimbang Anak Saudara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan