ADVERTISEMENT

Gadai Sertifikat Tanah dan Beternak Sapi Agar Anak Bisa Masuk Kedokteran Gigi UGM, Kini Bangga Anaknya Sukses di Jakarta

Gadaikan sertifikat tanah agar anaknya masuk kedokteran gigi UGM. MOJOK.CO

Seorang ayah akan rela melakukan apapun agar anaknya punya masa depan yang cerah. Termasuk ikhlas gadaikan sertifikat tanah dan rumah yang ia tempati agar anaknya bisa kuliah di kedokteran gigi Universitas Gadjah Mada (UGM).

***

Bagi Siswanto (55), tiga ekor sapi di kandang kelompok warga Mlati, Sleman, bukan sekadar hewan ternak. Dari sapi-sapi itulah ia menjalani hidup sehari-hari. Ada pula sebuah rumah sederhana dan satu motor Vega R yang menemaninya beraktivitas.

Namun, di balik kehidupan sederhana itu, Siswanto pernah mengambil keputusan besar untuk masa depan anak semata wayangnya. Pada 2018, ia ikhlas gadai sertifikat tanah agar Rini (28) bisa kuliah di Kedokteran Gigi UGM.

Kini, Rini sudah sukses dan mencecap kehidupan lebih baik di Jakarta. Kisah itu Siswanto ceritakan kepada saya lewat sambungan WhatsApp, Kamis (24/09/2026). Suaranya terdengar biasa saja ketika menceritakan keputusan yang bagi orang lain mungkin terasa besar.

“Yang penting anak saya kuliah mas, biar masa d;epannya tidak seperti saya,” katanya.

Setelah istri meninggal, Siswanto hanya hidup berdua dengan Rini

Istri Siswanto meninggal karena sakit pada 2015. Sejak saat itu, ia hanya hidup bersama Rini. Tiga tahun kemudian, Rini lulus SMA. Saat itu, anaknya menyampaikan keinginan untuk kuliah di Kedokteran Gigi UGM. Siswanto tidak banyak bertanya soal bagaimana cara membiayainya. Ia justru mencari apa yang masih bisa ia gunakan.

“Maklum mas, semenjak ditinggal ibunya, Rini hanya hidup sama saya. Sambat-sebut juga sama saya. Makanya saya sayang banget sama dia, apa pun yang dia pengen ya semampu saya usahakan,” ujar Siswanto.

Tidak lama setelah percakapan itu, Siswanto mengambil sertifikat tanah miliknya.

“Ini ada sertifikat tanah, gadaikan. Uangnya buat kamu masuk kuliah,” kata Siswanto kepada Rini saat itu.

Ia mengaku tidak memiliki banyak pilihan sumber dana. Karena itu, gadai sertifikat tanah menjadi modal satu-satunya yang dipunya untuk membuka jalan pendidikan anaknya.

Sertifikat tanah jadi modal Rini kuliah kedokteran gigi UGM

Siswanto kemudian menggadaikan sertifikat tanah dengan nominal yang menurutnya cukup besar. Uang tersebut ia gunakan untuk membiayai pendidikan Rini. Sementara kebutuhan sehari-hari mereka berdua tetap harus berjalan.

Siswanto memang sudah mengenal pekerjaan sebagai peternak sapi. Pada awalnya, ia merawat sapi milik orang lain dan mendapat bagian dari hasilnya. Dari pekerjaan itu, perlahan ia mengumpulkan uang sampai mampu memiliki sapi sendiri. Kini, tiga sapi masih ia rawat.

“Dari merawat sapi itu buat makan sehari-hari. Kalau untuk kuliah Rini, ya dari uang gadai sertifikat itu,” katanya.

Cerita Siswanto menunjukkan satu sisi lain dari biaya pendidikan tinggi: bukan hanya mahasiswa yang berhadapan dengan biaya kuliah, tetapi keluarga juga harus mencari cara agar kebutuhan hidup tetap berjalan.

Badan Pusat Statistik mencatat Angka Partisipasi Kasar perguruan tinggi Indonesia pada 2025 mencapai 32,89 persen. Di DI Yogyakarta angkanya jauh lebih tinggi, yakni 74,70 persen. Data tersebut menggambarkan besarnya partisipasi pendidikan tinggi di DIY, tetapi angka partisipasi tidak otomatis membuat semua keluarga memiliki kemampuan ekonomi yang sama untuk membiayai kuliah.

Jalan terjal belum usai, dari lima sapi yang dipunya berkurang jadi tiga

Pengorbanan Siswanto tidak berhenti ketika Rini masuk kuliah. Suatu ketika, Rini harus menjalani pengabdian di luar daerah. Kegiatan tersebut membutuhkan biaya tambahan. Siswanto kembali mencari sumber uang dari apa yang ia punya. Saat itu, ia memiliki lima sapi.

“Saat itu Rini mau pengabdian di luar daerah mas. Karena butuh biaya banyak, dari lima sapi yang saya punya, saya jual dua buat biaya. Makanya sekarang hanya sisa tiga itu sapinya,” ujar Siswanto.

Dua sapi itu pergi untuk membiayai perjalanan pendidikan anaknya. Tiga lainnya bertahan dan sampai sekarang masih ia rawat. Siswanto tidak menyebut penjualan dua sapi itu sebagai pengorbanan besar. Ia hanya menganggapnya sebagai bagian dari kewajibannya sebagai bapak.

Rini selesai kuliah, lanjut profesi, lalu berangkat ke Jakarta

Rini akhirnya menyelesaikan pendidikan kedokteran gigi. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan profesi sebelum kemudian bekerja di Jakarta. Bagi Siswanto, perjalanan anaknya setelah lulus terasa jauh berbeda dibanding kehidupannya sendiri.

Ia tetap tinggal di Mlati, merawat sapi, mengendarai Vega R, dan menjalani kehidupan sederhana seperti sebelumnya. Sementara Rini bekerja di sebuah klinik dokter gigi di Jakarta.

“Alhamdulillah mas, sekarang sudah kerja di Jakarta, di klinik dokter gigi gitu. Saya juga tidak paham kerjanya ngapain, yang jelas saya bangga,” katanya sambil tertawa.

Ketika saya bertanya apa yang membuatnya paling bangga, jawabannya tidak panjang.

“Dari sertifikat tanah dan sapi yang saya rawat bisa mengantarkan anak saya punya masa depan yang lebih baik dari saya, toh sekarang sertifikat itu sudah kembali, baru bulan kemarin saya bisa menebus, itu juga dibantu Rini dari Jakarta,” ujarnya mantap.

Siswanto tidak hanya punya sertifikat tanah, tetapi punya cerita tentang masa depan anak

Saat ini, Siswanto masih memiliki tiga sapi. Ia tidak berubah menjadi orang kaya setelah anaknya bekerja di Jakarta. Rumahnya tetap sederhana dan motor Vega R masih menjadi kendaraan sehari-harinya.

Namun, ada satu hal yang berubah. Dulu ia mencari cara agar Rini bisa masuk Kedokteran Gigi UGM. Sekarang, ia bisa bercerita bahwa anaknya sudah sukses di Jakarta.

UGM sendiri pada 2026 mencantumkan Biaya Kuliah Tunggal S1 Kedokteran Gigi sebesar Rp33,74 juta per semester, dengan UKT yang berbeda menurut kelompok ekonomi mahasiswa. Angka itu merupakan ketentuan 2026 dan bukan biaya yang berlaku ketika Rini masuk pada 2018.

Siswanto mungkin tidak hafal angka biaya pendidikan anaknya. Ia juga tidak terlalu memahami pekerjaan Rini di Jakarta. Ia hanya tahu satu hal: sertifikat tanah pernah ia gadaikan, dua sapi pernah ia jual, dan semua itu membantu Rini mengejar cita-citanya.

“Apapun saya lakukan, yang penting anak saya kuliah,” tutupnya.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sempat Larang Anak Kuliah di ITB hingga Akhirnya Luluh, Rela Tempuh Jogja-Bandung dengan Bajaj sebagai Penyemangat atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.