Hidup di desa membuat saya mengerti bahwa ada satu lingkarang setan yang berbahaya. Pemuda desa yang terjebak judol (judi online), terlilit pinjol (pinjaman online), dan kemudian bertahan hidup dari “makan hutang”.
***
Saya cukup lama hidup di desa dan menjadi ketua pemuda di Gamping, Sleman. Lingkar pertemanan saya cukup beragam. Ada yang rajin ke masjid, ada yang sibuk bekerja, ada pula yang kalau malam lebih sibuk membuka situs naga di layar ponsel.
Bagor (25) dan Cungkring (27), tentu bukan nama sebenarnya, adalah dua di antaranya.
Keduanya bekerja dengan penghasilan sekitar upah minimum. Mereka tidak perlu membayar kos karena masih tinggal di rumah sendiri.
Mereka juga tidak punya kebutuhan hidup yang macam-macam. Secara hitungan sederhana, gaji bulanan seharusnya masih bisa digunakan untuk hidup sampai akhir bulan. Masalahnya, mereka punya satu pengeluaran yang tidak pernah tercatat sebagai kebutuhan, judi online.
Judol menjadi mesin penyedot uang raksasa
“Biasanya tanggal berapa sudah habis?” saya pernah bertanya kepada Bagor ketika kami ngobrol di pos ronda.
“Ya sekitar tanggal sepuluhan,” jawabnya.
Saya tertawa karena mengira dia bercanda. Ternyata tidak. Gajinya habis untuk kebutuhan sehari-hari, deposit judi, membayar utang, lalu deposit lagi. Ketika uang sudah habis, pinjaman online menjadi jalan keluar paling cepat.
Begitu pula Cungkring. Siklusnya hampir sama. Gajian, bermain, kalah, meminjam uang, kemudian bermain lagi dengan harapan uang pinjaman itu bisa kembali.
Persoalannya, uang yang dipinjam bukan digunakan untuk menghasilkan. Uang itu digunakan untuk mengejar uang yang sebelumnya sudah hilang. Begitulah lingkarannya.
Awalnya mungkin hanya Rp50 ribu atau Rp100 ribu. Lalu kalah. Tambah deposit. Kalah lagi. Karena sudah terlanjur keluar banyak, muncul pikiran bahwa satu kemenangan besar akan mengembalikan semuanya. Padahal justru di situlah jebakannya.
Awalnya dikasih menang, setelahnya dikejar kekalahan
Ketika saya berbincang lebih serius dengan mereka tentang kebiasaan bermain judol, jawabannya hampir serupa. Mereka merasa permainan itu pada awalnya sengaja membuat pemain percaya bahwa mereka bisa menang.
“Awalnya dikasih menang,” kurang lebih begitu penjelasan mereka. Setelah itu muncul rasa penasaran. Sekali menang membuat ingin mengulang.
Ketika kalah, rasa penasaran berubah menjadi keinginan untuk mengembalikan uang yang hilang. Masalahnya, kekalahan tidak membuat mereka berhenti. Kekalahan justru menjadi alasan untuk kembali bermain.
“Kalau sudah kalah banyak, rasanya sayang kalau berhenti,” kata salah satu dari mereka.
Di titik ini, judi tidak lagi sekadar hiburan. Ia menjadi semacam pekerjaan tambahan yang tidak pernah menghasilkan gaji. Mereka terus bekerja pada siang hari untuk mendapatkan uang, kemudian mengembalikannya ke layar ponsel pada malam hari.
Ironisnya, ketika sesekali menang besar, uang tersebut juga tidak selalu disimpan. Ada slogan yang mereka pakai “uang setan kembali ke setan.” Uang kemenangan kemudian bisa habis untuk membeli minuman “berenergi” atau pergi karaoke untuk “tes vokal”. Besoknya kembali bekerja lalu menunggu gajian dan bermain slot lagi.
Judol tidak butuh warung khusus untuk dimainkan
Yang membuat saya semakin heran bukan cuma jumlah pemuda yang bermain, melainkan tempat mereka bermain slot. Judol tidak membutuhkan kasino, meja judi, atau ruangan khusus. Cukup ponsel dan koneksi internet.
Saya pernah melihat sendiri kebiasaan itu muncul di sela-sela kegiatan kampung. Ketika beberapa pemuda menjadi sinoman, ponsel tetap berada di tangan. Saat acara kampung berlangsung, layar ponsel sesekali dibuka. Di tongkrongan, slot bisa menjadi aktivitas sambil ngobrol.
Seolah-olah judi online sudah berubah menjadi kebiasaan kecil yang dianggap biasa. Padahal dampaknya tidak kecil.
Bahkan di Sleman, aparat beberapa kali menggelar penyuluhan khusus mengenai bahaya judi online dan pinjaman online ilegal. Kejaksaan Negeri Sleman memberikan edukasi mengenai judol dan pinjol kepada masyarakat di Mororejo, Tempel, serta Ambarketawang, Gamping. Artinya, persoalan ini sudah cukup dianggap serius sampai harus dibawa ke forum desa.
Bekerja bukan berarti bebas dari masalah ekonomi
Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Sleman mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka pada 2025 sebesar 4,07 persen. Dengan kata lain, persoalan ketenagakerjaan di Sleman tetap ada, meskipun mayoritas penduduk usia kerja telah masuk ke aktivitas ekonomi.
Namun, cerita Bagor dan Cungkring menunjukkan persoalan lain. Mereka bukan pengangguran, mereka bekerja, tetapi gaji tersebut tidak otomatis membuat kehidupan mereka aman.
Di sinilah saya merasa istilah “pemuda desa” perlu dibaca ulang. Mereka bukan lagi pemuda desa yang kehidupannya hanya berputar di sawah, ronda, dan hajatan. Mereka hidup di kawasan yang semakin urban, dekat dengan pusat ekonomi, pembangunan, jalan besar, pusat perbelanjaan, kampus, dan berbagai pekerjaan.
Tetapi ponsel di tangan mereka juga membawa kasino ke dalam kamar. Ketika gaji tidak cukup untuk memenuhi gaya hidup, keinginan mendapatkan uang cepat terasa menggoda. Ketika uang habis, pinjol menyediakan jalan keluar yang bahkan lebih cepat. Kemudian utang dipakai untuk berjudi.
Makan dari hutang, hidup menunggu gajian
Ada ironi paling menyebalkan dari semua ini, mereka sebenarnya tidak sedang hidup tanpa penghasilan. Mereka hanya tidak pernah benar-benar menikmati penghasilannya. Tanggal 1 atau tanggal gajian menjadi awal siklus. Tanggal 10 menjadi titik ketika saldo mulai menipis. Setelah itu mereka bertahan dengan utang sampai bulan berikutnya.
Bagi saya yang cukup lama hidup bersama mereka, fenomena ini terasa semakin jamak. Tentu tidak semua pemuda desa bermain judol. Tidak semua pekerja bergaji kecil akan terjerat pinjol. Dan tidak adil pula jika kemiskinan atau rendahnya penghasilan dijadikan alasan tunggal seseorang berjudi.
Di situlah lingkaran setan yang saya maksud. Kerja untuk mendapat uang, judol untuk menggandakan uang, dan pinjol untuk bermain lagi. Mungkin persoalan pemuda desa hari ini bukan cuma soal bagaimana mendapatkan pekerjaan layak. Kadang persoalannya adalah bagaimana memastikan hasil dari pekerjaan itu tidak langsung disedot kembali oleh judi online dan pinjaman online.
Sebab kalau setiap gajian berakhir di situs judi, sementara setiap kekalahan dibayar dengan utang, mereka bukan sedang membangun masa depan. Mereka hanya sedang memperpanjang umur masalah sampai gajian berikutnya.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Pengalaman Saya 5 Tahun Kecanduan Judol: Delusi, bahkan Setelah Salat pun Doa Minta Jackpot atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan