ADVERTISEMENT

Numan Nomad Keliling Indonesia untuk Beri Bimbingan Skripsi Gratis, Pernah Menunda Makan Dua Hari

Numan Nomad Keliling Indonesia untuk Beri Bimbingan Skripsi Gratis, Pernah Menunda Makan Dua Hari MOJOK.CO

Tersentuh melihat mahasiswa depresi karena skripsi, inilah cerita Numan Nomad rela keliling Indonesia untuk membuka bimbingan skripsi gratis.

**

Uang Numan Nomad pernah tinggal Rp13 ribu ketika ia sedang bepergian untuk menemui mahasiswa yang membutuhkan bimbingan skripsi. Ia memilih menyimpan uang itu dan menunda makan selama dua hari.

“Waktu itu uang tinggal 13 ribu, Mas. Aku nggak makan dua hari dan uang itu mending aku simpan buat hal yang mendesak banget,” kata Numan kepada Mojok, Rabu (16/9/2026).

Bagi pria asal Bandung berusia 30 tahun ini, perjalanan tersebut merupakan bagian suka duka dan bentuk komitmennya untuk melakukan bimbingan skripsi gratis. Berbagai halangan dan tantangan ia hadapi sejak memulainya pada September 2025 silam.

Namun, tantangan tersebut tak membuatnya mundur.

Cerita perjalanan Numan ini saya dengarkan saat berjumpa langsung dengannya di sudut Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Rabu (16/9/2026). Ia baru saja memberikan bimbingan di Kota Solo dan meluncur ke Jogja sore harinya untuk ngobrol dengan Mojok.

Hanya semalam di Jogja, Numan bergeser ke Tangerang untuk memberikan bimbingan skripsi ke mahasiswa lain. Tidak ada iming-iming bayaran yang membuatnya bisa pindah dari kota yang satu ke kota yang lain. Ia mengeluarkan biaya dari kantong sendiri.

Awal dan alasan Numan Nomad beri bimbingan skripsi gratis

Menyelesaikan skripsi bagi sebagian mahasiswa menjadi bagian tersulit dalam perjalanan meraih gelar sarjana. Hal itu sangat disadari oleh Numan Nomad (30), terutama sejak bekerja di sebuah bimbingan skripsi online untuk mahasiswa.

Meski ia mendapatkan pendapatan yang lebih dari cukup, ada yang mengganjal hatinya. “Saat itu saya bekerja di sebuah startup bimbingin skripsi online. Satu jam saya dibayar antara Rp70–150 ribu per jam. Itu lebih dari cukup untuk saya,” kata Numan.

Menurutnya, ada banyak celah yang membuat bimbingan online justru kurang efektif. Salah satunya karena nggak fokus.
Hal lain yang mengganggu pikirannya adalah mahasiswa akan bayar terus sampai proses skripsi selesai.
“Selama belum selesai bimbingannya, mahasiswa harus bayar terus, kasihan yang nggak punya uang. Masak harus cari uang dulu baru kemudian meneruskan bimbingan. Saya ingin bantu dari sisi yang saya bisa,” kata Numan.

Setelah dua tahun memberikan bimbingan skripsi online, ia akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Bukan untuk mendirikan usaha serupa, ia justru ingin mendedikasikan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk orang-orang yang kesulitan menyelesaikan skripsi.

Semuanya ia berikan cuma-cuma alias gratis. Di mana pun orang yang meminta bantuannya, ia akan mengusahakan untuk datang dan melakukan bimbingan skripsi secara tatap muka.

Numan mengatakan, salah satu kelemahan bimbingan online adalah pikiran seseorang bisa ke mana-mana, tidak fokus. Itu salah satu alasan yang mendorongnya untuk ketemu langsung dengan orang-orang yang ingin ia bimbing.

“Itu yang mendasari aku keliling Indonesia buat bimbingan skripsi offline secara gratis. Karena menurutku kalau online kurang efektif, ya. Dan ditambah aku kurang enjoy soalnya badan diam tapi pikiran ke mana-mana,” ujar mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan angkatan 2014 ini.

Konsekuensi beri bimbingan gratis

Sejak September tahun lalu, Numan kemudian memantapkan diri untuk pergi dari kota yang satu ke kota yang lain untuk memberikan bimbingan skripsi.

Keputusan itu membawa konsekuensi yang segera terasa: ia tetap harus membayar ongkos perjalanan, makan, dan tempat tinggal. Ia bahkan memulai project pribadinya dengan modal senilai Rp300 ribu. Itu pun hasil pinjaman dari teman-temannya.

“Pernah pertama kali ke Makassar, uang di dompet saya cuma 30 ribu. Saya percaya saja sama Allah, karena niat saya ingin bantu saya tetap berangkat. Saat itu juga saya jadikan semacam penguatan bahwa saya ada uang atau tidak ada uang saya tetap akan bantu orang,” kata Numan.

Pada satu titik paling rendah lainnya, seperti diceritakan di awal, ia sampai menunda makan sampai dua hari lamanya, itu karena uangnya tersisa Rp13 ribu. Di dompetnya sudah biasa yang tersisa adalah uang receh, padahal ia sudah berjalan kaki ratusan kilometer.

“Tapi aku percaya kalau itu semua cobaan dari Tuhan dan aku mau bagaimanapun kondisinya harus selalu berpikir positif,” tambahnya.

Sering berhadapan dengan mahasiswa depresi

Numan yang sudah keliling Indonesia untuk bimbingan skripsi secara gratis menemukan berbagai karakter mahasiswa yang berbeda-beda. Namun, bagi dirinya ada satu cerita mahasiswa yang benar-benar menyentuh hatinya.

Numan banyak menemukan mahasiswa yang stres bahkan depresi karena kesulitan untuk mengerjakan skripsi MOJOK.CO
Numan banyak menemukan mahasiswa yang stres bahkan depresi karena kesulitan untuk mengerjakan skripsi. (Al Afnan/Mojok.co)

Hal itu ia alami ketika sedang melakukan ekspedisi di Pulau Sumatra.

“Pernah ada satu mahasiswa, dia dari semester 7–14 ngerjain skripsi dan sambil kerja karena ayahnya sakit. Dia sama sekali nggak dikasih keringanan dan kemarin dia menghubungi aku buat bimbingan karena ayahnya sudah wafat dan dia mau fokus dengan skripsinya,” ungkap Numan.

“Waktu itu aku nggak pikir panjang buat langsung pesan tiket pesawat buat ketemu dia,” tambahnya.

Hal semacam itu tak hanya ia jumpai sekali dua kali. Banyak mahasiswa yang saking stresnya sampai mengalami depresi hingga badannya sakit.

“Cerita-cerita kaya gitu yang bikin aku terus semangat buat ngelakuin ini terus. Bahkan, ada tuh, mahasiswa yang malu buat bimbingan sama saya karena sering konsultasi dengan psikolog. Ada juga yang setahun harus bolak-balik rumah sakit sebanyak tujuh kali karena lambungnya kena,” Numan bercerita dengan nada terenyuh.

Cerita-cerita sedih perjuangan mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi jadi motivasi terbesar bagi dirinya untuk terus melakukan bimbingan skripsi secara gratis.

Numan Nomad tidak pernah minta imbalan, tapi semua kebaikannya terbalas

Memang, Numan dalam perjalanannya melakukan bimbingan skripsi nyaris tak pernah meminta imbalan. Semua ia lakukan secara sukarela. Meski biaya transportasi hingga penginapan tidak semurah itu.

Dedikasinya sampai di titik di mana ia sekarang tak punya tempat tinggal tetap. Meski kondisi fisik sedang lelah, Numan tetap mengiyakan setidaknya satu mahasiswa dalam satu hari yang meminta bimbingan.

“Tiap hari, aku bimbingan. Ya, kalau badan lagi capek paling cuma menerima satu (mahasiswa) aja,” tutur Numan sambil tersenyum tipis.

Dicegat ormas hingga kemurahan hati orang-orang di perjalanan

Pengalaman paling berkesan Numan ceritakan saat dirinya sedang berada di Medan, Sumatera Utara, belum lama ini. Dia yang ke mana-mana berjalan kaki sambil menenteng tas carrier jadi perhatian warga sekitar.

“Pernah aku lagi jalan, tiba-tiba dipanggil sama ormas. Ditanya-tanya dari mana dan mau ngapain. Setelah aku jelasin, eh, aku malah disuruh nunggu. Dia (si anggota ormas) pergi dan tiba-tiba balik bawa nasi sama kopi,” imbuhnya.

“Di Banda Aceh, setelah aku selesai melakukan bimbingan tiba-tiba ada orang yang nge-DM untuk suruh tinggal beberapa hari lagi di sana dan sama mereka aku diajak jalan-jalan sampai ke Tugu 0 km Indonesia yang di mana itu juga jadi salah satu impianku sejak SMP,” tambahnya.

Kemurahan hati yang ia rasakan secara tidak langsung juga menepis keraguan dari dalam dirinya yang takut jadi korban kejahatan. Justru, hampir setahun ini dirinya nyaris tidak pernah mendapatkan perlakuan buruk ketika sedang backpacker-an.

Numan Nomad, tak jarang ia harus berjalan kaki dari kota ke kota untuk bisa membimbing skripsi gratis. MOJOK.Co
Numan Nomad, tak jarang kesulitan biaya saat pindah dari kota yang satu ke kota lainnya untuk bisa membimbing skripsi gratis. (Al Afnan/Mojok.co)

Cara Numan Nomad membiayai bimbingan skripsi gratis

Bagaimana Numan memenuhi biaya perjalanannya?

Numan secara jujur mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan perjalanannya dari kota ke kota ada beberapa cara yang ia lakukan.

Pertama, dia melakukan bimbingan online. Bimbingan ini ia lakukan jika hari itu tidak ada jadwal bimbingan offline, meski tidak mematok biaya, orang-orang yang dibantunya itu kerap memberikan uang saku. Tapi, dari awal ia berkomitmen untuk tidak menarik biaya.

Niat baiknya memberi bimbingan skripsi gratis sering membuatnya mendapatkan respons yang positif juga dari kawan-kawan maupun orang-orang yang ia bantu mengerjakan skripsi. Kadang ia tidur di penginapan, di rumah mahasiswa yang minta bimbingan, dan sering juga tidur di masjid.

Selain “uang saku” dari orang-orang yang dibantunya, Numan mendapatkan biaya operasional dari donasi masyarakat. Namun, ia menegaskan bahwa ia agak dilema ketika mengumpulkan donasi karena terkesan seperti meminta.
Cara lainnya adalah menjadi konten kreator dengan mengunggah konten-konten perjalanannya dan membimbing skripsi gratis salah satunya di Instagram NumanNomad.

Namun, kadang ada yang membuatnya merasa sedih, saat ada orang yang memintanya untuk bimbingan tatap muka, ia sudah menginformasikan bahwa saat bimbingan akan dibuat konten. Ini ia lakukan sebagai upaya untuk bisa memenuhi kebutuhan selama perjalanan.

Sayangnya, ada saja mahasiswa atau keluarga yang bersangkutan yang tidak mau tampil di media sosial sebagaimana kesepakatan awal.

Namun, hal-hal seperti itu tidak akan menghentikan niatnya untuk keliling Indonesia dan membantu mahasiswa yang butuh bimbingan skripsi gratis. Dalam waktu dekat ia membuka kesempatan bagi mahasiswa-mahasiswa yang ada di Pulau Bali, NTB, NTT, sampai Papua untuk bimbingan skripsi secara gratis dengannya.

Numan tak memiliki rencana untuk berhenti dalam menjalankan niat baiknya itu.

Penulis: Al Afnan Mahatta
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Anak Betah Jadi Mahasiswa Abadi karena Sibuk Organisasi dan Ogah Garap Skripsi, Ortu di Rumah Pura-pura Memahami padahal Terbebani

 

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2026 oleh .

Al Afnan Mahatta

Al Afnan Mahatta. Mahasiswa magang departemen liputan Mojok.co asal Batang. Sedang menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Tidar (Untidar) Magelang. Menaruh perhatian pada isu sosial, alam, dan dinamika sepak bola nasional. Di luar rutinitas liputan, saya mengisi waktu dengan menjelajah ke tempat-tempat baru yang unik.