Tidak memiliki gelar dan hanya seorang lulusan paket C tentu membuat minder dan dijauhi oleh sirkel tongkrongan yang isinya anak kuliahan. Namun, dari ijazah paket C itu malah bisa menghasilkan gaji dolar dari sekadar menulis.
***
Agus (29) sedang mengerjakan sebuah proyek ketika saya menghubunginya lewat DM Threads, Kamis (8/10/2026). Di akun media sosialnya, ia memperkenalkan diri sebagai SEO content writer dan strategic analysis. Ia sedang mengerjakan pesanan klien ketika saya bertanya soal jasanya.
“Biasanya sih saya tidak mematok harga pasti. Saya tanya dulu budget-nya berapa, baru nanti negosiasi harga. Biasanya per project saya bisa mencapai Rp1 juta, itu juga dibayarnya dalam bentuk dolar,” ujar Agus.
Penghasilan Agus tidak selalu sama. Saat klien sedang ramai, ia bisa membawa pulang pendapatan sekitar Rp11 juta dalam sebulan. Ketika proyek sedang sepi, pendapatannya turun menjadi sekitar Rp5 juta. Angka itu mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang. Namun, ada satu hal yang membuat perjalanan Agus berbeda. Ia bukan lulusan SMA atau SMK. Agus menyelesaikan pendidikan menengahnya lewat kejar Paket C setelah putus sekolah.
Berhenti sekolah karena orang tua tak lagi mampu membayar
Agus berasal dari Bantul. Ia harus meninggalkan bangku SMK ketika naik kelas 2 karena orang tuanya tidak lagi memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah.
“Saya ini orang tidak mampu, mas. Naik ke kelas 2 SMK orang tua saya sudah tidak ada biaya, makanya harus berhenti sekolah,” katanya.
Setelah putus sekolah, Agus bekerja sebagai kurir ekspedisi. Dari pekerjaan itu, ia mulai menyisihkan uang untuk satu kebutuhan yang menurutnya penting: memiliki ijazah setara SMA. Ia kemudian mengikuti Paket C selama sekitar dua tahun dengan biaya kurang lebih Rp3,5 juta.
Di Kabupaten Bantul, pendidikan kesetaraan bukan program yang sedikit peminat. Data Pemerintah Kabupaten Bantul mencatat 1.551 warga belajar Paket C pada 2025, terdiri dari 943 laki-laki dan 608 perempuan. Pada tahun yang sama, 508 peserta mengikuti ujian kesetaraan Paket C dan 486 di antaranya lulus, atau sekitar 95,67 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa kejar Paket C masih menjadi jalur pendidikan yang digunakan masyarakat Bantul untuk memperoleh pendidikan setara SMA.
Secara sistem, Paket C merupakan pendidikan kesetaraan yang menempati jenjang setara SMA/MA. Pemerintah Kabupaten Bantul mengatur alokasi pembelajaran Paket C dalam satuan jam pelajaran efektif yang berbeda sesuai tingakatannya.
“Saya mengikuti Paket C itu seperti sekolah lagi dua tahun. Yang penting saya paling tidak punya ijazah SMA meskipun harus kejar Paket C,” ujar Agus.
Ijazah paket C ada, minder tetap mengikuti
Setelah mendapatkan ijazah Paket C, Agus tidak langsung kuliah. Ia justru mulai serius mengembangkan kemampuan menulis yang sebelumnya hanya menjadi kegemaran.
“Dulu awalnya memang saya cuma suka nulis. Saya belajar nulis dari YouTube dan kelas gratisan secara daring, lalu mengembangkan tulisan saya agar SEO-friendly. Baru akhirnya pede memasarkan jasa saya,” katanya.
Kemampuan itu kemudian ia tawarkan melalui platform freelance Faswork. Dari sana, Agus mulai mendapatkan klien, termasuk klien dari luar negeri. Namun, persoalan Agus bukan cuma mencari pekerjaan. Status pendidikan juga sempat memengaruhi kehidupan sosialnya.
“Dulu sering dijauhi sama teman-teman saya yang kuliah karena dianggap tak setara, karena saya cuma lulusan kejar Paket C,” ujarnya.
Ia mengaku sempat minder ketika berada di antara teman-temannya yang kuliah.
“Awalnya saya minder dengan status pendidikan saya yang hanya lulusan Paket C dan saya merasa dijauhi sama mereka,” kata Agus.
Teman sibuk kuliah, Agus sibuk mencari klien
Label lulusan Paket C membuat Agus sempat merasa berada di posisi yang lebih rendah dibanding teman-temannya. Namun, setelah mulai mendapatkan klien, ia perlahan mengubah cara pandangnya. Agus tidak menempuh pendidikan tinggi untuk mendapatkan kemampuan menulis SEO. Ia belajar secara mandiri, mengasah tulisan, kemudian menawarkan jasanya kepada orang lain.
“Saya sekarang tidak terlalu peduli. Yang jelas saya sekarang bisa menabung, memberi uang ke orang tua, dan punya cita-cita untuk kuliah di kampus negeri,” ujarnya.
Pendapatan Rp5 juta sampai Rp11 juta per bulan juga tidak datang secara otomatis hanya karena ia menulis. Agus harus mencari klien, bernegosiasi mengenai anggaran, mengerjakan proyek, dan mempertahankan kualitas pekerjaan agar klien kembali menggunakan jasanya.
Kejar paket C bukan titik akhir
Agus tidak menganggap Paket C sebagai pengganti cita-citanya untuk kuliah. Justru ijazah itu ia gunakan sebagai salah satu pijakan untuk melanjutkan pendidikan.
“Kini saya pengennya dengan Paket C saya bisa masuk kuliah negeri,” ujar Agus.
Keinginan itu menunjukkan bahwa pendidikan bagi Agus belum selesai setelah mendapatkan ijazah kesetaraan. Ia masih ingin melanjutkan sekolah, tetapi kali ini dengan pengalaman yang berbeda: pernah menjadi kurir, belajar menulis secara mandiri, mencari klien sendiri, hingga menerima bayaran dari luar negeri.
Cerita Agus juga tidak otomatis membuktikan bahwa ijazah tidak penting. Ia tetap membutuhkan ijazah Paket C setelah putus sekolah dan kini menginginkan pendidikan tinggi. Namun, pengalaman Agus menunjukkan bahwa ijazah dan kemampuan kerja tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus.
Bagi Agus, Paket C bukan tanda bahwa dirinya gagal menyelesaikan sekolah. Itu adalah jalan yang ia pilih setelah keadaan memaksanya berhenti.Dan setelah mendapatkan ijazah itu, ia tidak berhenti. Ia justru belajar lagi, menulis lagi, mencari klien lagi, sampai akhirnya orang yang merasa dianggap tidak setara oleh teman-temannya itu bisa menghasilkan uang dari tulisan dan menerima bayaran dalam bentuk dolar.
Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: 1 Juta Sarjana Jadi Pengangguran hingga Terpaksa Pinjol untuk Biaya Konsumtif, Apa yang Harus Pemerintah Lakukan? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan