Tegar Maulana dan Dwi Hidayat merupakan salah dua siswa di Sekolah Rakyat, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang sempat terancam putus sekolah, karena keterbatasan ekonomi keluarga. Namun, di balik kisah manis keduanya, ada masalah besar yang masih menjadi PR bagi pemerintah.
Nyaris putus sekolah karena terhimpit ekonomi
Tegar Maulana adalah anak dari Sarjilah, seorang ibu pemulung yang bertugas memilah barang bekas di sebuah gudang rosok, Timbulharjo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bangunan itu juga yang menjadi tempat mereka tinggal sejak tahun 2019.
Sebagai pemulung, Sarjilah mendapat upah yang tidak menentu. Kondisi itu semakin berat sejak usahanya menurun pada 2023. Di saat yang sama, Sarjilah harus menjalani cuci darah dua kali setiap pekan akibat gagal ginjal.
Oleh karena itu, Sarjilah takut jika Tegar putus sekolah, karena tak ada biaya. Bahkan, ijazah SMP Tegar sempat tak bisa diambil karena adanya tunggakan. Namun, harapan mulai muncul ketika Sarjilah mendengar informasi mengenai Sekolah Rakyat.
Melepas anak pergi ke Sekolah Rakyat
Sarjilah bercerita, awalnya Tegar menolak daftar ke Sekolah Rakyat, apalagi sistemnya berupa asrama. Artinya, Tegar harus jauh dari keluarga alias meninggalkan ibunya yang sedang sakit di tempat rongsokan.
Namun Sarjilah meyakinkan Tegar, betapa pentingnya pendidikan. Minimal sampai dia lulus SMA. Sebab, dia sendiri dan suaminya hanyalah lulusan sekolah dasar. Hatinya tak tega jika harus membatasi mimpi putranya.
Di tengah kondisi yang terhimpit, Sarjilah pun harus membuka hati lebar-lebar untuk merelakan putranya pergi demi meraih pendidikan. Sementara Tegar, dituntut lebih dewasa agar mau tinggal di asrama.
Setelah berusaha meyakinkan anaknya, Tegar pun mau mendaftar di Sekolah Rakyat. Meski rasa rindu tetap ada, Sarjilah berujar selalu mengingatkan putranya agar fokus belajar. Tak perlu khawatir dengan kondisinya.
“Saya bilang, enggak usah mikir mamak,” pesannya singkat kepada Tegar, dikutip dari laman resmi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Senin (20/7/2026).
Gali potensi diri di Sekolah Rakyat demi Ibu
Pesan dari ibunya terbukti ampuh mendorong Tegar untuk menjalani hari-harinya di Sekolah Rakyat. Di sana, Tegar tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia tidak hanya fokus belajar, tapi juga mengeksplorasi diri, mulai dari aktif ikut kegiatan Pramuka, bola voli, dan menjadi pleton inti.
Tegar yang dulunya enggan sekolah dan memilih merawat ibu, kini punya mimpi lebih besar, yakni kuliah, berkarier, hingga meningkatkan ekonomi serta derajat kedua orang tuanya. Dia hanya tak ingin melihat ibunya sakit-sakitan.
“Kasihan,” kata Tegar saat ditanya bagaimana perasaannya melihat perjuangan sang ibu yang harus rutin menjalani cuci darah.
Jika Tegar bermimpi untuk melanjutkan pendidikan tinggi, begitu pula Dwi Hidayat yang ingin kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Remaja laki-laki asal Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut berujar, ingin menjadi hakim setelah lulus dari Sekolah Rakyat.
Dulu, kata Dwi, membayangkannya saja sulit karena dia hampir tak bisa melanjutkan SMA.
Lulus SMA ingin jadi hakim
Kedua orang tua Dwi merupakan pekerja buruh bangunan serabutan. Suprihatin, ibunya mengaku sempat ragu membiayai pendidikan ketiga anaknya karena keterbatasan ekonomi. Bahkan, Dwi sempat bekerja menjual sate selama libur kelulusan SMP untuk membantu perekonomian keluarga.
Oleh karena itu, saat kabar pendaftaran Sekolah Rakyat dibuka, Suprihatin tak bisa menahan diri untuk mengucap rasa syukur. Karena dengan begitu, putranya, Dwi tak jadi putus sekolah. Meski khawatir karena harus tinggal berjauhan, Suprihatin tetap merelakan anaknya pergi.
“Saya izinkan dia tinggal di asrama, agar lebih pintar lagi,” ucap Suprihatin.
Guna mengobati rasa rindu, Suprihatin rutin menelpon anaknya sebanyak satu kali selama dua minggu. Di sisi lain, dia berdoa agar putranya bisa meraih pendidikan tinggi dan mewujudkan mimpinya sebagai hakim.
Di Sekolah Rakyat, Dwi aktif mengikuti English Club, paduan suara, pasukan baris-berbaris, hingga organisasi asrama. Kepercayaan dari teman-temannya mengantarkan dirinya menjadi Ketua OSIS Sekolah Rakyat Menengah Atas 19.
Sekolah Rakyat apakah sebuah solusi?
Bagi Dwi dan Tegar yang berasal dari keluarga kurang mampu, Sekolah Rakyat barangkali menjadi harapan satu-satunya untuk berani bermimpi lebih tinggi. Namun, di balik cerita manis keduanya, Dosen Jurusan Manajemen Kebijakan Publik UGM, Subarsono justru ragu.
Dia bertanya-tanya, apakah Sekolah Rakyat menjadi program mendesak yang harus ditangani segera oleh pemerintah? Sebab menurutnya, masih ada sekolah konvensional yang membutuhkan perhatian lebih.
“Kenapa kita tidak membenahi sistem yang sudah ada. Kan untuk sekolah itu mendapat Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan,” kata Subarsono dikutip dari laman resmi UGM, Senin (20/7/2026).
Jika tujuannya sama-sama ingin meningkatkan kualitas pendidikan, ucap Subarsono, mengapa pemerintah tidak memilih alternatif untuk menambah dana BOS, memperbaiki kurikulum, dan meningkatkan kompetensi guru?
Pada akhirnya, Sekolah Rakyat tidak serta-merta menyelesaikan akar permasalahan pendidikan. Pembenahan sistem yang menyeluruh, mulai dari kurikulum hingga fasilitas sekolah konvensional, harus tetap menjadi prioritas utama agar tidak ada lagi siswa yang merasa tertinggal.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Sekolah Negeri Makin Tak Diminati, Mengapa Sekolah Swasta Kian Seksi di Mata Orang Tua? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
