Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
20 Juli 2026
A A
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

ilustrasi - anak miskin di DIY bersyukur masuk Sekolah Rakyat. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tegar Maulana dan Dwi Hidayat merupakan salah dua siswa di Sekolah Rakyat, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang sempat terancam putus sekolah, karena keterbatasan ekonomi keluarga. Namun, di balik kisah manis keduanya, ada masalah besar yang masih menjadi PR bagi pemerintah. 

Nyaris putus sekolah karena terhimpit ekonomi

Tegar Maulana adalah anak dari Sarjilah, seorang ibu pemulung yang bertugas memilah barang bekas di sebuah gudang rosok, Timbulharjo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bangunan itu juga yang menjadi tempat mereka tinggal sejak tahun 2019. 

Iklan

Sebagai pemulung, Sarjilah mendapat upah yang tidak menentu. Kondisi itu semakin berat sejak usahanya menurun pada 2023. Di saat yang sama, Sarjilah harus menjalani cuci darah dua kali setiap pekan akibat gagal ginjal.

Oleh karena itu, Sarjilah takut jika Tegar putus sekolah, karena tak ada biaya. Bahkan, ijazah SMP Tegar sempat tak bisa diambil karena adanya tunggakan. Namun, harapan mulai muncul ketika Sarjilah mendengar informasi mengenai Sekolah Rakyat. 

Melepas anak pergi ke Sekolah Rakyat 

Sarjilah bercerita, awalnya Tegar menolak daftar ke Sekolah Rakyat, apalagi sistemnya berupa asrama. Artinya, Tegar harus jauh dari keluarga alias meninggalkan ibunya yang sedang sakit di tempat rongsokan. 

Namun Sarjilah meyakinkan Tegar, betapa pentingnya pendidikan. Minimal sampai dia lulus SMA. Sebab, dia sendiri dan suaminya hanyalah lulusan sekolah dasar. Hatinya tak tega jika harus membatasi mimpi putranya. 

Di tengah kondisi yang terhimpit, Sarjilah pun harus membuka hati lebar-lebar untuk merelakan putranya pergi demi meraih pendidikan. Sementara Tegar, dituntut lebih dewasa agar mau tinggal di asrama.

Setelah berusaha meyakinkan anaknya, Tegar pun mau mendaftar di Sekolah Rakyat. Meski rasa rindu tetap ada, Sarjilah berujar selalu mengingatkan putranya agar fokus belajar. Tak perlu khawatir dengan kondisinya.

“Saya bilang, enggak usah mikir mamak,” pesannya singkat kepada Tegar, dikutip dari laman resmi Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Senin (20/7/2026).

Gali potensi diri di Sekolah Rakyat demi Ibu

Pesan dari ibunya terbukti ampuh mendorong Tegar untuk menjalani hari-harinya di Sekolah Rakyat. Di sana, Tegar tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia tidak hanya fokus belajar, tapi juga mengeksplorasi diri, mulai dari aktif ikut kegiatan Pramuka, bola voli, dan menjadi pleton inti. 

Tegar yang dulunya enggan sekolah dan memilih merawat ibu, kini punya mimpi lebih besar, yakni kuliah, berkarier, hingga meningkatkan ekonomi serta derajat kedua orang tuanya. Dia hanya tak ingin melihat ibunya sakit-sakitan.

“Kasihan,” kata Tegar saat ditanya bagaimana perasaannya melihat perjuangan sang ibu yang harus rutin menjalani cuci darah.

Jika Tegar bermimpi untuk melanjutkan pendidikan tinggi, begitu pula Dwi Hidayat yang ingin kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Remaja laki-laki asal Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta tersebut berujar, ingin menjadi hakim setelah lulus dari Sekolah Rakyat. 

Dulu, kata Dwi, membayangkannya saja sulit karena dia hampir tak bisa melanjutkan SMA. 

Iklan

Lulus SMA ingin jadi hakim

Kedua orang tua Dwi merupakan pekerja buruh bangunan serabutan. Suprihatin, ibunya mengaku sempat ragu membiayai pendidikan ketiga anaknya karena keterbatasan ekonomi. Bahkan, Dwi sempat bekerja menjual sate selama libur kelulusan SMP untuk membantu perekonomian keluarga. 

Oleh karena itu, saat kabar pendaftaran Sekolah Rakyat dibuka, Suprihatin tak bisa menahan diri untuk mengucap rasa syukur. Karena dengan begitu, putranya, Dwi tak jadi putus sekolah. Meski khawatir karena harus tinggal berjauhan, Suprihatin tetap merelakan anaknya pergi.

“Saya izinkan dia tinggal di asrama, agar lebih pintar lagi,” ucap Suprihatin.

Guna mengobati rasa rindu, Suprihatin rutin menelpon anaknya sebanyak satu kali selama dua minggu. Di sisi lain, dia berdoa agar putranya bisa meraih pendidikan tinggi dan mewujudkan mimpinya sebagai hakim.

Di Sekolah Rakyat, Dwi aktif mengikuti English Club, paduan suara, pasukan baris-berbaris, hingga organisasi asrama. Kepercayaan dari teman-temannya mengantarkan dirinya menjadi Ketua OSIS Sekolah Rakyat Menengah Atas 19.

Sekolah Rakyat apakah sebuah solusi?

Bagi Dwi dan Tegar yang berasal dari keluarga kurang mampu, Sekolah Rakyat barangkali menjadi harapan satu-satunya untuk berani bermimpi lebih tinggi. Namun, di balik cerita manis keduanya, Dosen Jurusan Manajemen Kebijakan Publik UGM, Subarsono justru ragu.

Dia bertanya-tanya, apakah Sekolah Rakyat menjadi program mendesak yang harus ditangani segera oleh pemerintah? Sebab menurutnya, masih ada sekolah konvensional yang membutuhkan perhatian lebih.

“Kenapa kita tidak membenahi sistem yang sudah ada. Kan untuk sekolah itu mendapat Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan,” kata Subarsono dikutip dari laman resmi UGM, Senin (20/7/2026).

Jika tujuannya sama-sama ingin meningkatkan kualitas pendidikan, ucap Subarsono, mengapa pemerintah tidak memilih alternatif untuk menambah dana BOS, memperbaiki kurikulum, dan meningkatkan kompetensi guru?

Pada akhirnya, Sekolah Rakyat tidak serta-merta menyelesaikan akar permasalahan pendidikan. Pembenahan sistem yang menyeluruh, mulai dari kurikulum hingga fasilitas sekolah konvensional, harus tetap menjadi prioritas utama agar tidak ada lagi siswa yang merasa tertinggal.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Sekolah Negeri Makin Tak Diminati, Mengapa Sekolah Swasta Kian Seksi di Mata Orang Tua? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 Juli 2026 oleh

Tags: anak miskinDIYijazah SMPputus sekolahsekolah mahalsekolah rakyatYogyakarta
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Konten Kreator Perjalanan dapat pelajaran hidup di Lombok. MOJOK.CO
Sehari-hari

Konten Kreator Perjalanan Nyaris Luntang-lantung karena Tak Punya Uang, Malah Menangis Saat Meninggalkan Lombok

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO
Kabar

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.