Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Ilustrasi lulusan S2 (Mojok.co)

“Lulusan S2 cuma jadi bulan-bulanan di medsos. Dianggap sok-sokan, si paling ndakik-ndakik. Pokoknya kami itu kayak villain kalau sudah ngomongin soal dunia kerja.”

Kata-kata itu meluncur dari mulut Risa (27) dengan nada jengkel. 

Beberapa hari lalu, ia baru saja dirujak habis-habisan oleh warganet di X. Duduk perkaranya sepele. Semula, ada sebuah utasan viral tentang seorang dosen yang memprotes gaji kecilnya. Risa kemudian ikut membalas di kolom komentar.

“Wajar saja mereka meminta standard gaji tinggi, karena dosen itu rata-rata lulusan S2,” tulis Risa saat itu.

Kalimat pendek itu langsung meledak. Ribuan akun menyerangnya. Ia dicap arogan, elitis, dan tidak berempati pada pekerja dengan pendidikan lebih rendah. Risa dituduh memakai ijazah S2-nya untuk merendahkan nasib orang lain.

Mengkritik kebijakan, tapi malah netizen yang kebakaran jenggot

Risa sadar betul, orang-orang di media sosial lebih suka marah daripada memahami konteks. Netizen menyorotinya sebagai sosok yang songong. Padahal, pesan utama yang ingin ia sampaikan bukan itu.

Risa hanya mengutarakan hukum ekonomi dasar. Baginya, mendapatkan ijazah S2 itu sulit. Butuh waktu minimal dua tahun, biaya puluhan juta, dan komitmen penuh untuk riset tesis. 

“Karena modal yang dikeluarkan sangat besar, wajar jika standard upah yang diminta juga tinggi. Tidak ada yang salah dengan menuntut hak bayaran yang sepadan dengan ongkos pendidikan,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).

Kritik Risa sebenarnya menyasar pemerintah dan perusahaan. Ia menggugat ekosistem industri di Indonesia yang lamban. Menurutnya, kebijakan saat ini gagal menciptakan lapangan kerja yang mampu menyerap dan membayar lulusan S2 sesuai kapasitas mereka. 

“Sayangnya, argumenku  ini tenggelam sama sentimen warganet yang telanjur sakit hati.”

Kuliah S2 dengan berdarah-darah

Hujatan netizen yang menyebut Risa “anak manja” atau “songong” ini jelas salah alamat. Ia mengaku, gelar Magister-nya diraih dengan berdarah-darah.

Setelah lulus S1, keluarga sebenanrnya menyuruh Risa untuk segera mencari kerja. Namun, ia memilih jalan lain. Ia memutuskan langsung lanjut S2. 

Alasannya rasional. Bagi Risa, S2 bukan cuma ajang memperbarui ilmu. Ia yakin ijazah Magister akan membuka akses jaringan dan kesempatan karier yang lebih luas di masa depan.

Keluarga awalnya menolak, tapi akhirnya luluh dengan satu syarat. Orang tua hanya menyubsidi setengah dari biaya masuk dan UKT. Sisanya menjadi tanggung jawab Risa.

Alhasil, masa kuliah S2 Risa jauh dari kata santai. Ia harus membelah otak dan tenaganya. Pagi hingga siang, ia duduk di kelas dan mengerjakan pelbagai tugas. Sementara sore hingga malam, ia bekerja sebagai peneliti lepas dan mengajar di bimbingan belajar. 

Tapi industri belum ramah bagi lulusan S2

Namun, idealisme Risa tentang karier yang cemerlang akhirnya hancur saat ia merantau ke Jakarta pada awal 2025 lalu.

Data ketenagakerjaan menunjukkan angka pengangguran terdidik, termasuk lulusan S2, masih tinggi. Risa melihat dan mengalami sendiri realitas itu

Setelah puluhan kali mengirim CV, ia sadar bahwa pasar tenaga kerja di ibu kota tidak butuh pemikir. Perusahaan lebih suka mencari tenaga eksekutor yang siap bekerja kasar dengan bayaran murah.

Risa ditolak berkali-kali. Bukan karena ia tidak mampu bekerja, tapi karena ijazahnya. 

“Mereka (pihak HRD) ketakutan melihat gelar Magister di CV. Bagi perusahaan, lulusan S2 adalah pelamar overqualified, terlalu berpendidikan,” ujarnya.

HRD berasumsi Risa akan menuntut gaji besar yang melebihi anggaran perusahaan. Selain itu, ada ketakutan bahwa lulusan S2 gampang bosan dan akan segera resign jika disuruh mengerjakan tugas-tugas teknis biasa. 

Solusi paling aman bagi HRD adalah membuang lamaran Risa dan memanggil kandidat lulusan S1 atau SMA yang siap digaji setara UMR.

Risa mengaku masih bersyukur. Setelah sekian lama mencari, ia akhirnya mendapat pekerjaan di Jakarta. Namun, ia harus menelan ego. Ia menerima posisi dengan gaji standard S1, bahkan nyaris setara dengan upah lulusan SMA. 

Di kantornya sekarang, ia mengerjakan tugas administratif biasa, jauh dari kerumitan analisis kebijakan yang ia pelajari selama kuliah S2.

Tetap bangga meski terus dihujani nyinyiran

Realitas pekerjaannya hari ini membuat Risa sering mendapat nyinyiran baru, baik dari teman maupun kerabat.

“Ngapain susah-susah lanjut S2 kalau ujung-ujungnya kerjaan lo begini-begini aja?”

Pertanyaan itu sering mampir. Namun, Risa tidak bergeming. Ia sama sekali tidak menyesal dengan pilihannya. Ia tetap bangga pada gelar yang menempel di belakang namanya.

Bagi Risa, S2 bukan melulu soal mencari kerja. Kuliah Magister adalah tentang menghargai sebuah proses panjang. Ia bangga karena telah melewati masa-masa sulit menembus batas kemampuannya sendiri. 

Ada transfer pengetahuan, pola pikir kritis, dan ketahanan mental yang terbentuk selama ia kuliah S2.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version