Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
23 Juli 2026
A A
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO

Ilustrasi lulusan S2 (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Lulusan S2 cuma jadi bulan-bulanan di medsos. Dianggap sok-sokan, si paling ndakik-ndakik. Pokoknya kami itu kayak villain kalau sudah ngomongin soal dunia kerja.”

Kata-kata itu meluncur dari mulut Risa (27) dengan nada jengkel. 

Iklan

Beberapa hari lalu, ia baru saja dirujak habis-habisan oleh warganet di X. Duduk perkaranya sepele. Semula, ada sebuah utasan viral tentang seorang dosen yang memprotes gaji kecilnya. Risa kemudian ikut membalas di kolom komentar.

“Wajar saja mereka meminta standard gaji tinggi, karena dosen itu rata-rata lulusan S2,” tulis Risa saat itu.

Kalimat pendek itu langsung meledak. Ribuan akun menyerangnya. Ia dicap arogan, elitis, dan tidak berempati pada pekerja dengan pendidikan lebih rendah. Risa dituduh memakai ijazah S2-nya untuk merendahkan nasib orang lain.

Mengkritik kebijakan, tapi malah netizen yang kebakaran jenggot

Risa sadar betul, orang-orang di media sosial lebih suka marah daripada memahami konteks. Netizen menyorotinya sebagai sosok yang songong. Padahal, pesan utama yang ingin ia sampaikan bukan itu.

Risa hanya mengutarakan hukum ekonomi dasar. Baginya, mendapatkan ijazah S2 itu sulit. Butuh waktu minimal dua tahun, biaya puluhan juta, dan komitmen penuh untuk riset tesis. 

“Karena modal yang dikeluarkan sangat besar, wajar jika standard upah yang diminta juga tinggi. Tidak ada yang salah dengan menuntut hak bayaran yang sepadan dengan ongkos pendidikan,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).

Kritik Risa sebenarnya menyasar pemerintah dan perusahaan. Ia menggugat ekosistem industri di Indonesia yang lamban. Menurutnya, kebijakan saat ini gagal menciptakan lapangan kerja yang mampu menyerap dan membayar lulusan S2 sesuai kapasitas mereka. 

“Sayangnya, argumenku  ini tenggelam sama sentimen warganet yang telanjur sakit hati.”

Kuliah S2 dengan berdarah-darah

Hujatan netizen yang menyebut Risa “anak manja” atau “songong” ini jelas salah alamat. Ia mengaku, gelar Magister-nya diraih dengan berdarah-darah.

Setelah lulus S1, keluarga sebenanrnya menyuruh Risa untuk segera mencari kerja. Namun, ia memilih jalan lain. Ia memutuskan langsung lanjut S2. 

Alasannya rasional. Bagi Risa, S2 bukan cuma ajang memperbarui ilmu. Ia yakin ijazah Magister akan membuka akses jaringan dan kesempatan karier yang lebih luas di masa depan.

Keluarga awalnya menolak, tapi akhirnya luluh dengan satu syarat. Orang tua hanya menyubsidi setengah dari biaya masuk dan UKT. Sisanya menjadi tanggung jawab Risa.

Iklan

Alhasil, masa kuliah S2 Risa jauh dari kata santai. Ia harus membelah otak dan tenaganya. Pagi hingga siang, ia duduk di kelas dan mengerjakan pelbagai tugas. Sementara sore hingga malam, ia bekerja sebagai peneliti lepas dan mengajar di bimbingan belajar. 

Tapi industri belum ramah bagi lulusan S2

Namun, idealisme Risa tentang karier yang cemerlang akhirnya hancur saat ia merantau ke Jakarta pada awal 2025 lalu.

Data ketenagakerjaan menunjukkan angka pengangguran terdidik, termasuk lulusan S2, masih tinggi. Risa melihat dan mengalami sendiri realitas itu. 

Setelah puluhan kali mengirim CV, ia sadar bahwa pasar tenaga kerja di ibu kota tidak butuh pemikir. Perusahaan lebih suka mencari tenaga eksekutor yang siap bekerja kasar dengan bayaran murah.

Risa ditolak berkali-kali. Bukan karena ia tidak mampu bekerja, tapi karena ijazahnya. 

“Mereka (pihak HRD) ketakutan melihat gelar Magister di CV. Bagi perusahaan, lulusan S2 adalah pelamar overqualified, terlalu berpendidikan,” ujarnya.

HRD berasumsi Risa akan menuntut gaji besar yang melebihi anggaran perusahaan. Selain itu, ada ketakutan bahwa lulusan S2 gampang bosan dan akan segera resign jika disuruh mengerjakan tugas-tugas teknis biasa. 

Solusi paling aman bagi HRD adalah membuang lamaran Risa dan memanggil kandidat lulusan S1 atau SMA yang siap digaji setara UMR.

Risa mengaku masih bersyukur. Setelah sekian lama mencari, ia akhirnya mendapat pekerjaan di Jakarta. Namun, ia harus menelan ego. Ia menerima posisi dengan gaji standard S1, bahkan nyaris setara dengan upah lulusan SMA. 

Di kantornya sekarang, ia mengerjakan tugas administratif biasa, jauh dari kerumitan analisis kebijakan yang ia pelajari selama kuliah S2.

Tetap bangga meski terus dihujani nyinyiran

Realitas pekerjaannya hari ini membuat Risa sering mendapat nyinyiran baru, baik dari teman maupun kerabat.

“Ngapain susah-susah lanjut S2 kalau ujung-ujungnya kerjaan lo begini-begini aja?”

Pertanyaan itu sering mampir. Namun, Risa tidak bergeming. Ia sama sekali tidak menyesal dengan pilihannya. Ia tetap bangga pada gelar yang menempel di belakang namanya.

Bagi Risa, S2 bukan melulu soal mencari kerja. Kuliah Magister adalah tentang menghargai sebuah proses panjang. Ia bangga karena telah melewati masa-masa sulit menembus batas kemampuannya sendiri. 

Ada transfer pengetahuan, pola pikir kritis, dan ketahanan mental yang terbentuk selama ia kuliah S2.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 Juli 2026 oleh

Tags: Gaji lulusan S2HRD tolak lulusan S2jakartaKandidat overqualifiedkerja di jakartalulusan s2Lulusan S2 nganggurmerantau ke jakartaNasib lulusan S2Realitas dunia kerja Jakartas2
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO
Urban

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan MOJOK.CO
Otomojok

Pengalaman Menahan Rasa Penasaran di Dalam Kabin Mewah BYD demi Tidak Terlihat Kampungan ketika Menyusuri Jalanan Jakarta

30 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Buku "Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri" jadi ikhtiar mencatat risalah panjang kompleks Kedaton Ambarrukmo Yogyakarta melintasi 5 zaman MOJOK.CO

Ikhtiar Mencatat Risalah Panjang Ambarrukmo Melintasi 5 Zaman, Situs yang Terus Hidup tanpa Mencerabut Akar

23 Juli 2026
Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro MOJOK.CO

Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro

22 Juli 2026
sarjana muda gusar mencari kerja. MOJOK.CO

Realita Sarjana Muda Gusar Mencari Kerja: 4 Tahun Lamanya Berkutat dengan Buku, Lulus Kuliah Memilih Pasrah

23 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.