Lahir dan besar di Sumatra yang notabenenya jauh dari pusat ibu kota mendorong rasa penasaran Aisyah Azzahrawani Hasan untuk menempuh pendidikan tinggi sarjana sampai luar negeri, tepatnya di Universiti Malaya, Malaysia Jurusan Arsitektur.
Sebelum mantap memilih kampus tersebut, Aisyah sudah lebih dulu merantau ke Tangerang guna menempuh pendidikan SMA di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza. Dengan begitu, dia mengaku punya bekal yang cukup untuk menjalani hidup secara mandiri.
“Saya percaya, dengan memulai perjalanan, kita akan menggapai banyak opportunity. Maka dari itu jangan takut, jalani saja. Tapi tentu harus mempersiapkan bekalnya terlebih dahulu,” kata Aisyah dikutip dari laman resmi Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, Kamis (11/6/2026).
Berani merantau sampai ke Negeri Jiran
Selama menjalani masa SMA di Pondok Pesantren Daar el-Qolam 3 Kampus Dza ‘Izza, Aisyah tak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan umum yang bermanfaat, melainkan juga ilmu kehidupan. Dia mengaku mentalnya benar-benar ditempa di sana.
Sebagai santri, dia harus menjalani kehidupan pesantren yang disiplin. Belum lagi, tantangan sehari-hari yang kadang-kadang harus dia temukan sendiri solusinya. Lebih dari itu, di usianya yang masih remaja, dia juga harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Jauh dari keluarga.
Maka tak heran, Aisyah jadi pribadi yang lebih dewasa dan mandiri bahkan saat dirinya ingin kuliah di luar negeri. Bagaimana tidak, Aisyah merupakan orang pertama dalam keluarga yang menempuh pendidikan di Universiti Malaya.

Sehingga, segala informasi yang dia butuhkan harus dicari secara mandiri tanpa pengalaman dari orang-orang sekitarnya. Mulai dari proses pendaftaran universitas, pengurusan visa, pencarian akomodasi, hingga berbagai kebutuhan administrasi lainnya.
“Minimnya informasi dan sumber daya manusia menjadi tantangan terbesar,” ucap Aisyah yang saat ini menjadi mahasiswa tahun ketiga di University Malaya.
Untungnya, Aisyah dimudahkan dengan adanya teknologi. Dengan begitu, dia bisa merangkum informasi A-Z yang ada di berbagai media maupun komunitas mahasiswa internasional.
Meski begitu, perjuangan Aisyah tak terlepas dari dukungan orang tuanya. Mereka mendukung penuh keinginan Aisyah untuk kuliah di luar negeri.
Syarat khusus masuk Jurusan Arsitektur di Universiti Malaya
Setelah mengumpulkan berbagai informasi, Aisyah mantap menambatkan pilihannya di Universiti Malaya. Kampus yang menempati posisi pertama di Malaysia menurut lembaga pemeringkatan QS World University Rankings, serta menempati posisi ke-58 kampus top dunia.
Mengingat statusnya yang bergengsi, Aisyah tak mau main-main dalam menyusun strategi persiapan. Salah satu fokusnya adalah meningkatkan kemampuan bahasa Inggris lewat tes IELTS.
Selain tes IELTS, Aisyah juga harus melewati proses seleksi mahasiswa internasional mulai dari seleksi dokumen, penilaian portofolio, hingga wawancara. Melansir dari laman resmi Universiti Malaya, salah satu syarat wajib yang harus dipenuhi pendaftar internasional untuk program Sarjana adalah lulus dengan nilai rata-rata minimal 65 persen.
“Alhamdulillah, dengan waktu yang cukup mepet (6 bulan) saya bisa mempersiapkan semuanya dan akhirnya diterima di Universiti Malaya,” ucapnya penuh syukur.
Lewat usaha dan doanya sepanjang malam, Aisyah akhirnya diterima di jurusan pilihannya, yakni Program Studi Sarjana Arsitektur di Universiti Malaya, Malaysia.
Spesifik untuk jurusan tersebut, Aisyah harus memenuhi kualifikasi khusus yakni nilai minimal 60 persen atau Grade B pada 2 mata pelajaran terkait, termasuk Matematika atau Sains. Ada juga tes tambahan berupa ujian gambar dan wawancara yang diadakan oleh pihak universitas.
Pengalaman berharga selama kuliah di Universiti Malaya
Keinginan Aisyah untuk masuk Jurusan Arsitektur di Universiti Malaya bukan tanpa alasan. Sejak dulu, dia memang tertarik dengan dunia seni khususnya desain bangunan.
Baginya, arsitektur bukan hanya mengajarkan soal keindahan. Lebih dalam, arsitektur mempelajari soal ruang, lingkungan binaan, dan tempat tinggal seseorang dalam membentuk identitas, kenyamanan, serta harmoni dalam keseharian makhluk hidup.
“Ia merupakan ruang pertemuan antara kreativitas, estetika, dan pemecahan masalah,” tegas Aisyah.
Lebih dari itu, Aisyah ingin membuat karya seni yang dapat merepresentasikan gagasannya.
“Sebagai seniman, saya ingin menghasilkan karya yang bisa mengekspresikan diri saya. Karena itu saya memilih arsitektur untuk merealisasikan karya seni dalam bentuk bangunan,” ujarnya.
Selain itu, di Universiti Malaya, Aisyah juga tak henti-hentinya melatih diri untuk brainstorming, creative thinking, hingga project management. Sebuah kemampuan yang sangat dibutuhkan di dunia kerja masa kini.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Sesal Mahasiswa Malaysia Kuliah di UIN demi Murah, Hadapi Banyak Hal Tak Mutu dan Lulusan UIN yang “Mentok Segitu” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan