Gelar S1 Tidak Berguna, Modal Nekat Buka Bisnis Cuci Sepatu

gelar s1 buka bisnis cuci sepatu

Mendapat gelar S1 ternyata tidak otomatis membuat hidup menjadi lebih mudah. Usai selesaikan kuliah jurusan Perencanaan Wilayah Kota di salah satu kampus swasta di Jogja, kawan saya menganggur begitu lama dan akhirnya membuka bisnis cuci sepatu. 

***

Bagi Sefi (27), menjadi sarjana ternyata tidak otomatis membuat hidup setelah wisuda menjadi lebih mudah. 

Empat tahun menyelesaikan kuliah, namun setelah ijazah berada di tangan, pekerjaan yang sesuai dengan bidang studinya justru tak kunjung datang. Akhir tahun lalu, ia mencoba jalan lain dengan membuka bisnis cuci sepatu.

“Dari lulus saya belum mendapat pekerjaan yang selaras seperti jurusan saya. Malu juga sama kawan-kawan yang lain rasanya,” ujar Sefi pada Kamis (26/8/2026).

Empat tahun kuliah, belum menemukan pekerjaan yang dicari

Sefi tidak sedang menyesali keputusannya kuliah. Ia berhasil menyelesaikan studi selama empat tahun dan memperoleh gelar S1. Masalahnya muncul setelah itu.

Ia berharap ijazah yang diperolehnya bisa menjadi pintu masuk ke pekerjaan yang berhubungan dengan bidang tata wilayah kota. Kenyataannya, pintu tersebut belum juga terbuka.

“Sudah nyoba cari yang sesuai jurusan?” tanya saya.

“Sudah. Tapi susah. Kadang ada lowongan, syaratnya pengalaman. Kadang juga jurusannya beda.”

Pada titik tertentu, pekerjaan apa pun terasa lebih masuk akal daripada terus menunggu. Sefi kemudian mengambil pekerjaan sebagai waiter, lalu menjadi driver ojol.

Pekerjaan tersebut memang menghasilkan uang. Namun, tetap ada perasaan mengganjal karena pekerjaan yang dijalani tidak berhubungan dengan empat tahun pendidikan yang sudah ia tempuh.

Rasa malu itu terutama muncul ketika melihat teman-temannya mulai memiliki pekerjaan tetap.

“Kalau lihat kawan-kawan sudah kerja tetap, ya kepikiran juga. Apalagi sama orang tua, merasa gagal rasanya,” katanya.

Di Jogja, gelar S1 bukan satu-satunya yang kesulitan mencari kerja

Cerita Sefi bukan berarti seluruh sarjana di Jogja bernasib sama. Namun pengalaman pribadinya berada di tengah persoalan ketenagakerjaan yang masih perlu diperhatikan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 berada di angka 3,11 persen. 

Angka itu naik tipis 0,06 persen poin dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 3,05 persen. Pada Mei 2026, jumlah angkatan kerja DIY tercatat 2,27 juta orang, sementara penduduk yang bekerja sebanyak 2,20 juta orang.

Yang menarik, tidak semua pekerjaan yang tersedia berarti pekerjaan formal. BPS mencatat 47,59 persen penduduk bekerja di DIY pada Mei 2026 berada dalam kegiatan formal. 

Artinya, sebagian besar lainnya bekerja di luar kategori tersebut.

Angka itu tentu tidak bisa dipakai untuk menyimpulkan bahwa sarjana sulit mendapat pekerjaan sesuai jurusan. Namun setidaknya data tersebut menunjukkan bahwa bekerja dan memperoleh pekerjaan formal itu beda urusan.

Sefi adalah salah satu contohnya.

Cuci sepatu: tidak membuat kaya, tetapi bisa beli rokok

Bisnis cuci sepatu menjadi pilihan Sefi karena ia merasa tidak bisa terus menunggu pekerjaan yang sesuai dengan ijazahnya.

Usahanya memang belum bisa disebut besar. Pelanggannya belum terlalu banyak dan pendapatannya juga belum membuatnya mampu membeli barang-barang mewah.

“Tapi cukup?” saya bertanya.

“Kalau buat beli rokok sama kebutuhan sehari-hari masih cukup,” jawabnya.

Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi justru menggambarkan bagaimana Sefi melihat pekerjaannya sekarang. Ia tidak sedang mengejar kesuksesan instan. Untuk sementara, bisnis tersebut memberinya sesuatu yang lebih penting: pemasukan dan kesibukan.

Ia juga tidak menganggap pekerjaan mencuci sepatu lebih rendah daripada pekerjaan kantoran.

Baginya, yang penting adalah bekerja.

Mungkin justru di sini ijazah Sefi terasa “tidak berguna”. Bukan karena ilmu yang dipelajari selama kuliah benar-benar sia-sia, melainkan karena sampai sekarang ijazah tersebut belum berhasil membawanya ke pekerjaan yang ia bayangkan ketika masih menjadi mahasiswa.

Gelar S1 modalnya cuma berani saja 

Saya kemudian bertanya apakah ia masih ingin mencari pekerjaan sesuai jurusan.

“Kalau ada kesempatan, ya mau. Tapi bisnis ini juga mau saya kembangkan.”

Sefi tidak ingin berhenti pada jasa cuci sepatu. Ia membayangkan bisnis kecil tersebut bisa menjadi pintu menuju usaha yang lebih besar.

Mungkin suatu hari ia bisa membuka tempat yang lebih luas, menambah layanan, atau mempekerjakan orang lain. 

Untuk sekarang, ia masih mengerjakannya sendiri sambil belajar bagaimana mempertahankan pelanggan.

Ketika saya tanya apa modal terpenting untuk memulai usaha, Sefi justru tertawa.

“Modal wani karo dikendheli nekat e,” berani dan sedikit nekat, kira-kira begitu maksudnya.

Di usia 27 tahun, Sefi memang belum mendapatkan pekerjaan tetap yang sesuai dengan gelar sarjananya. Ia pernah menjadi waiter, driver ojol, dan kini mencuci sepatu milik orang lain.

Gelar S1 mungkin belum membawanya ke pekerjaan yang ia inginkan. Tetapi dari usaha kecil itu, Sefi sedang mencoba membuktikan bahwa tidak bekerja sesuai jurusan bukan berarti harus berhenti bekerja sama sekali.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Seporsi Kekalahan Sarjana di Sleman: Susah Payah Dapat Ijazah S1, Ujung-ujungnya Kerja Setara Lulusan SMA karena Tak Punya Pilihan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 28 Agustus 2026 oleh

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.