Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Omzet Ratusan Juta di Tuban

ilustrasi - Mila, alumnus Fapet UGM yang suka pelihara kambing sejak remaja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

“Dulu keluarga sempat ragu ketika saya memilih kuliah peternakan,” kenang alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Mila Arlinda dikutip dari keterangan resmi, Minggu (29/6/2026).

Siapa sangka, sarjana UGM lulusan tahun 2020 itu kini justru sukses membangun usaha peternakan modern di Kabupaten Tuban, yang dia beri nama Kerabat Ternak 1-3. Bahkan, omzetnya bisa menyentuh angka ratusan juta rupiah.

Hobi beternak jauh sebelum menjadi mahasiswa Fapet UGM

Ketertarikan Mila pada dunia ternak sudah muncul sejak remaja, jauh sebelum dia memutuskan ingin kuliah. Tepatnya saat masih duduk di bangku SMA kelas 2 pada tahun 2014, dirinya mulai memelihara lima ekor domba.

Perempuan asal Kabupaten Tuban itu mengaku tak malu untuk beternak di tengah anggapan bahwa dunia peternakan identik dengan pekerjaan laki-laki. Tak sampai di situ, pekerjaan ini juga dianggap kurang prestisius di masa depan. 

Namun, Mila ingin membalik persepsi tersebut. Alih-alih banting setir mencari mimpi lain, Mila justru semakin bersemangat. Lahir dari keluarga sederhana, yakni ayah seorang pengusaha kayu dan ibu rumah tangga, membuatnya punya karakter mandiri dan pekerja keras.

Mila memberikan susu pada bayi kambing. MOJOK.CO
Mila sedang merawat kambing-kambing. (sumber: Fapet UGM)

Mila terus merawat lima ekor dombanya di sebuah kandang kecil, berkuliah di Fapet UGM untuk menyerap banyak ilmu, hingga lulus dan bisa membangun Kerabat Ternak bersama sang suami, Sahroni. 

Tak ingin menyia-nyiakan ilmu di Fapet UGM

Selama kuliah di Fapet UGM, Mila dikenal sebagai anak yang aktif. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya untuk bertanya dan belajar langsung dari para dosen, praktisi, hingga peternak senior di berbagai daerah.

Sebab Mila percaya, agar sukses membangun usaha ternak miliknya nanti, dia tidak bisa bergantung pada teori di kelas. Menurutnya, peternakan lahir dari perpaduan ilmu pengetahuan dan pengalaman lapangan. 

“Di Fapet UGM kami diajarkan bukan hanya teori, tetapi juga praktik dan pengalaman lapangan. Itu yang sangat membantu ketika benar-benar terjun ke dunia usaha,” tegasnya.

Dan benar saja, hal itu dia rasakan langsung setelah lulus kuliah, saat bisnisnya tak selalu berjalan mulus. 

Lulus Fapet UGM, tapi masih gagal pelihara ternak

Mila saat ditemui tim humas UGM di kandang Kerabat Ternak, Tuban. (Sumber: Fapet UGM)

Di awal kariernya setelah lulus dari Fapet UGM, hewan ternak yang Mila pelihara sempat mati meski sudah dirawat dengan baik. Namun, setiap kali ada kematian, Mila selalu melakukan observasi sebagai bahan pembelajaran agar tidak terulang.

Justru dari kegagalan itulah, Mila semakin memahami manajemen kesehatan ternak, mulai dari pneumonia akibat perubahan suhu hingga berbagai infeksi lain yang umum menyerang kambing dan domba.

Kini, Kerabat Ternak 1-3 berkembang menjadi usaha peternakan yang tidak hanya fokus pada jumlah populasi, tetapi juga kualitas ternak dan kenyamanan hewan.

Selain kebersihan, pakan juga dikelola secara serius. Mila memiliki lahan hijauan pakan ternak seluas sekitar 1,5 hektare dan memanfaatkan pakan tambahan seperti ampas tahu serta kangkung kering untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.

Bangkit dari kegagalan dan fokus pada satu hal

Berbeda dengan sebagian peternak yang mengejar populasi besar, Mila dan suaminya justru lebih fokus pada kualitas dan genetika ternak. Strategi tersebut terbukti berhasil. Untuk kambing kualitas unggul, harga jual bisa mencapai Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor, sedangkan kambing lokal berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta.

Tidak hanya menjual ternak kurban dan aqiqah, Kerabat Ternak juga mengembangkan bisnis sarana produksi peternakan (sapronak) seperti susu cempe, vitamin, hingga peralatan peternakan yang dipasarkan ke berbagai daerah.

Berdayakan siswa magang dan warga sekitar. (sumber: Fapet UGM)

Momentum Iduladha menjadi salah satu puncak usaha mereka. Dalam dua bulan menjelang musim kurban tahun 2024, omzet Kerabat Ternak disebut mencapai Rp500 juta hingga Rp700 juta. 

Sementara pada hari biasa, usaha aqiqah, penjualan bibit, susu, dan sapronak menghasilkan perputaran sekitar Rp50 juta per bulan. Angka itu belum termasuk hasil dari bisnis sarana produksi ternak yang berkisar Rp75 juta.

Berkat kegigihannya, alumnus Fapet UGM itu pun berhasil mengembangkan bisnisnya hingga menjadi salah satu pasar ternak yang terkenal di sekitar Jawa Timur, seperti Lamongan dan Bojonegoro.

Sukses bukan soal keuntungan pribadi

Tidak berhenti di usaha ternak, sejak 2023 Mila juga aktif mengedukasi masyarakat tentang dunia peternakan melalui media sosial khususnya TikTok. Konten-konten edukatif yang ia buat menjadi sarana berbagi ilmu sekaligus memperkuat branding bahwa dunia peternakan modern membutuhkan ilmu pengetahuan dan keterampilan lapangan.

Di sisi lain, keberadaan Kerabat Ternak juga mulai memberi dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Saat ini Mila dan suaminya memiliki dua orang karyawan dan aktif membangun kelompok ternak bersama masyarakat.

Salah satunya dirasakan Erma, anggota kelompok ternak binaan Mila. Menurutnya, keberadaan Kerabat Ternak sangat membantu peternak kecil, terutama dalam distribusi susu kambing.

“Saya jadi tidak bingung soal penjualan susu. Selain itu juga bisa belajar banyak di kelompok ternak dan di Kerabat Ternak,” ujarnya.

Manfaat serupa juga dirasakan Agung Setiawan, siswa PKL dari SMK Negeri 4 Bojonegoro. Ia mengaku senang dapat belajar langsung di peternakan tersebut.

“Banyak ilmu yang saya peroleh selama PKL di sini,” katanya.

Bagi alumnus Fapet UGM tersebut, kesuksesan bukan hanya soal keuntungan pribadi, melainkan bagaimana peternakan dapat menjadi ruang belajar, pemberdayaan, dan sumber penghidupan masyarakat.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Sukses Tuntaskan S1 Peternakan di UGM, Saya Pilih Abdikan Diri “Mengurus” Sapi di Papua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version