Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Terpaksa Bohongi Ibu dan Pendam Trauma: Dihina Teman-teman Saat Berikan Waluh Kukus Hasil Kerja Keras Ibu Bekerja sebagai Buruh

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
13 November 2025
A A
terpaksa bohongi ibu kalau waluh kukusnya habis. MOJOK.CO

ilustrasi - bohongi orang tua demi kebaikan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Waluh kukus. Makanan yang terbuat dari buah labu kuning ini selain menyehatkan ternyata juga memberikan trauma bagi Ainay*. Dulu, waluh kukus menjadi makanan istimewa bagi keluarganya yang miskin tapi kini tidak lagi.

Ibunya adalah seorang buruh yang rela melakukan kerja apa saja demi mendapat upah, sementara ayahnya sudah minggat alias tidak tinggal di rumah. Oleh karena itu, pendapatannya pun tak pasti, tergantung dari pekerjaan yang dia lakukan. 

Sering kali, saksi Ainay, hasil kerja keras ibunya dibayar dengan uang. Tapi tak jarang ada yang membayarnya dengan bahan makanan, salah satunya labu kuning atau waluh. Sebab pada saat itu, ibu Ainay sempat membantu orang-orang yang sedang panen waluh.

Sebagai upah karena sudah membantu, ibunya mendapatkan dua waluh yang berukuran kecil dan besar. Saking besarnya, Ainay kecil pun tak bisa mengangkatnya. Namun seingat dia, waluh yang diterima saat itu masih berwarna hijau–belum kuning.

Alhasil, ibunya menyimpan waluh tersebut selama beberapa hari hingga warnanya berubah menjadi oranye. Tanda kalau waluh tersebut sudah matang dan enak dimakan. Namun, ibunya tak ingin memakan waluh itu sendirian. Ia ingin membagikannya untuk tetangga.

“Alhamdulillah punya waluh, bisa buat nyumbang takjil orang-orang yang lagi tadarus. Sedih karena ibu nggak pernah ngasih apa-apa untuk orang-orang yang datang ngaji,” ujar Ainay mengingat kembali kalimat ibunya saat ia masih kelas 4 SD. 

Perjuangan ibu membuat waluh kukus malah dihina

Dua bulan berselang, waluh tersebut akhirnya matang. Alih-alih memberikan waluh yang masih bertekstur keras, ibunya mengukus lebih dulu waluh tersebut, sehingga dagingnya lebih lembut dan pulen.

“Pinginnya sih dibuat kolak, tapi nggak punya uang buat beli kelapa dan gula,” ujar Ainay yang saat kecil juga aktif mengaji di langgar.

Niat ibu Ainay untuk memberikan waluh kukus ke anak-anak yang sedang tadarus di langgar pun tiba. Ainay yang tahu niat baik ibunya ikut gembira. Dengan senang hati, ia membawa waluh kukus itu bersama ibunya.

Ibunya pun berpesan agar Ainay tak lupa membawa tempat waluh kukusnya kembali. Ia begitu percaya diri jika waluh kukusnya bakal langsung diserbu mengingat rasanya yang enak, manis, dan empuk. Sayangnya, bayangan itu tidak terjadi.

“Waktu ember waluh kukus ibuku dicek, salah seorang anak, panggil saja Mbak Yati, hanya nyeker-nyeker (memilah) waluh kukus ibuku pakai ujung jari. Seperti orang yang jijik. Dia bilang ‘hi panganan opo iki? Mosok koyok taek ngene dikekno uwong’ (hiii, makanan apa ini? Masa bentuknya mirip tai gini dikasih ke orang),” tutur Ainay.

Sontak, Ainay langsung naik pitam. Di membentak Yati dengan kalimat yang tak kalah galak.

“Kalau nggak suka ya nggak usah dimakan!” ucapnya.

“Loh, kok ngamok (marah)? Aku kan cuma bilang. Hiiii ngamok aaan. Dadi arek kok ngamok an (jadi anak kok suka marah),” kata Yati.

Tak berhenti sampai di situ, Yati juga menghasut anak-anak lainnya untuk mengolok-ngolok Ainay sebagai anak yang pemarah. Bukannya membela Ainay, anak-anak di sana justru ikut arahan Yati. Mereka pun menertawakan Ainay bersama.

Baca Halaman Selanjutnya

Tak sanggup beritahu ibu, takut ia sedih

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 15 November 2025 oleh

Tags: diangkat dari kisah nyataFalcon Pictureslabu kuningresep waluh kukuswaluhwaluh kukus
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Artikel Terkait

Esai

Si Doel The Movie, Film Mantan Gubernur yang Diselamatkan Mandra

6 Agustus 2018
Esai

Pembaca Bumi Manusia yang Merasa Lebih Pram daripada Pram itu Sendiri

31 Mei 2018
Esai

Bumi Manusia dan Pembaca yang Boro-Boro Nonton, Sudah Buru-Buru Kecewa

29 Mei 2018
Esai

Semua Ini Salahnya Bumi Manusia

28 Mei 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
Olin, wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) pada 2025. MOJOK.CO

Pengalaman Saya sebagai Katolik Kuliah di UMMAD, Canggung Saat Belajar Kemuhammadiyahan tapi Berhasil Jadi Wisudawan Terbaik

14 Januari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.