Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Ketulusan Guru asal Magelang yang Mengajarkan Santri Tunarungu Mengaji, Saat Orangtua Sendiri Frustrasi

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
5 Februari 2025
A A
Ketulusan Guru asal Magelang yang Mengajarkan Santri Tuli Jamhariyah di Sleman. MOJOK.CO

ilustrasi - santri di pondok pesantren sedang mengaji. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pengajar di Pondok Pesantren Tunarungu Jamhariyah, Sleman, Winda (30) rela membersihkan kotoran yang keluar dari perut para santrinya yang tunarungu. Beberapa dari mereka memang sulit berkomunikasi, sehingga tak tahu cara membersihkan diri. Bahkan, buang air kecil pun bisa di sembarang tempat. Lambat laun, berkat kesabaran dari perempuan asal Magelang tersebut, para santri akhirnya bisa hidup mandiri. Mulai dari mengaji, salat, dan puasa.

***

Saat sedang mencari pondok pesantren di Dusun Grogolan, Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, Yogyakarta, saya melihat segerombolan anak dari jauh di sebuah gang. Beberapa dari mereka menggunakan peci, sarung, dan menenteng tas ransel. Melihat tampilan anak-anak tersebut, barulah saya yakin kalau itu lokasi Pondok Pesantren Tunarungu Jamhariyah.

Sesuai namanya, pondok pesantren (ponpes) itu membina para santri tunarungu. Lokasinya berada di antara pemukiman warga. Dikelilingi oleh aliran sungai kecil. Namun, banner yang menunjukkan nama pondok pesantren tersebut baru bisa saya lihat di dinding samping, jalan lanjutan dari gang kecil yang saya lalui tadi. Mangkanya, saya agak kesulitan mencari.

Saat melewati gerbang ponpes yang terbuka, para santri hanya melengos sambil menggerakkan jari-jarinya–cara mereka berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Tak lama setelah memarkirkan motor, Winda, salah satu pengajar di sana menyapa saya.

Winda bilang anak-anak akan keluar sebentar untuk berenang. Para santri itu sedang menunggu penjemputan mobil kloter dua. Sebelumnya, sebuah mobil kia pregio berwarna biru sudah lebih dulu mengantar para santriwati. Sembari menunggu para santri pulang berenang, saya berbincang dengan Winda, perempuan asal Magelang, Jawa Tengah.

Perempuan asal Magelang yang mengasuh dengan sabar

“Kebanyakan orang tua yang menitipkan anaknya di sini nggak tahu cara berkomunikasi dengan anak-anaknya, jadi mereka sama-sama frustrasi,” kata Winda menemani saya duduk di sebuah gazebo, di area dalam Pondok Pesantren Tunarungu Jamhariyah.

Pondok Pesantren Tunarungu Jamhariyah. MOJOK.CO
ilustrasi – Pondok Pesantren Tunarungu Jamhariyah yang terletak di Sleman. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Luas ponpes tersebut tak besar seperti pondok kebanyakan. Anak-anaknya terdiri dari 25 orang saja. Kebanyakan mereka berasal dari luar daerah, seperti Purworejo, Klaten, Jawa barat, Lampung, Kalimantan, sampai Jakarta. 

“Nah, itu namanya Daffa* (8) dari Jakarta. Keluarganya broken home, saya nggak bisa membayangkan anak sekecil itu harus menghadapi kerasnya Jakarta,” kata Winda menunjuk Daffa yang baru saja lewat di hadapan kami.

Perempuan bercadar itu ingat betul saat pertama kali Daffa diboyong ibunya ke ponpes. Anak berusia lima tahun itu tampak tak aturan. Rambutnya sudah dicat berwarna merah. Pertama kali tiba di ponpes, Daffa hanya bisa meraung-meraung, menangis seharian. Sebab, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk mengekspresikan diri.

“Saya ajari dia pipis di toilet, biar nggak sembarangan. Terus saya mandikan, saya ajari sikat gigi, saya tunjukkan jenis shampo,” tutur perempuan asal Magelang itu.

Lambat laun, Daffa sudah bisa mandiri, bahkan ia sudah bisa menulis beberapa huruf. Suatu hari, saat pulang liburan ke rumahnya, Daffa memberikan secarik kertas untuk ibunya. Kertas itu berisi kalimat ‘terima kasih, Bu’ yang ia tulis dengan pensil.

Ibunya yang begitu bahagia melihat perkembangan Daffa, langsung mengirim pesan ke Winda. Ia merasa terharu hingga mengucapkan rasa terima kasih kepada Winda.

“Mungkin Allah sudah gariskan takdir saya bekerja di sini,” kata Winda.

Iklan

Dari Magelang, mengajar di pondok pesantren Sleman

Winda sebetulnya bukan lulusan pesantren ataupun berlatar pendidikan tinggi. Ia juga tak punya keluarga seorang difabel. Hanya saja, Winda mengaku merasa tergugah hatinya untuk membantu orang-orang di sekitarnya.

“Bukan apa-apa, niat saya sebenarnya di sini bukan untuk bekerja, tapi ingin menyalurkan kemampuan yang saya bisa untuk membantu anak-anak,” ujarnya.

Anak-anak di Pondok Pesantren Tunarungu Jamhariyah. MOJOK.CO
Santri di Pondok Pesantren Tunarungu Jamhariyah, Sleman. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Bahkan, Winda mengaku beberapa kali mendapakatkan tawaran kerja di luar tapi tak diambilnya. Kalau tujuannya hanya uang, kata dia, tak akan ada habisnya. Baginya, amal jariyah lah yang terpenting.

“Berat Mbak kalau harus meninggalkan mereka, saya sudah anggap santri dan santriwati di sini seperti anak saya sendiri,” kata Winda.

Perempuan asal Magelang itu tak menjelaskan secara rinci dari mana ia mengenal Pondok Pesantren Tunarungu Jamhariyah, yang jelas saat pindah ke Jogja ia bertemu dengan Ummi, istri dari Randi Pranarelza, pendiri ponpes.

Mulanya, tahun 2019, Winda hanya membantu memasak di ponpes, tapi seiring berjalannya waktu ia merasa perlu untuk belajar bahasa isyarat. Ia pun belajar secara mandiri dari Ummi, sembari melihat Youtube. Para santri juga sering membantunya belajar. Kadang-kadang ada bahasa isyarat khusus yang dipahami oleh mereka sendiri.

Belajar bahasa isyarat secara mandiri

Dari petugas dapur, Winda akhirnya diangkat sebagai pengajar sekaligus pengasuh. Di Pondok Pesantren Tunarungu Jamhariyah, tugasnya adalah mengajari huruf hijaiyah dengan bahasa isyarat. Untuk mengajari santri memahami bahasa isyarat tidaklah mudah. Winda sendiri harus bertahun-tahun mempelajarinya.

Sama seperti bahasa universal, bahasa isyarat juga punya pakem seperti Bahasa Indonesia. Tapi ada juga bahasa turunan seperti Jawa Krama, Inggil, Ngoko, dan bahasa daerah lain. Bahkan ada bahasa yang hanya bisa diinterpretasikan oleh teman-teman tunarungu itu sendiri.

Tulisan santri di ponpes. MOJOK.CO
ilustrasi – tulisan para santri di pondok pesantren tunarungu. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Ada juga yang belajarnya cepat dari melihat gerak bibir dan bahasa tubuh, termasuk ekspresi wajah” kata Winda.

Tak hanya itu, Winda juga harus mengajari mereka salat dan puasa. Agar, ketika mereka sudah lulus dari Pondok Pesantren Tunarungu Jamhariyah, para santri sudah punya bekal ilmu baik formal maupun pendidikan agama.

Winda berharap masyarakat bisa saling menghargai sesama. Ia tak ingin lagi melihat teman-teman tuli diusir hanya karena mengemis. Bahkan kalau bisa, masyarakat ikut membantu mereka.

“Mereka bukannya nggak paham. Mereka ngerti loh apa yang kita maksud. Kitanya yang harus belajar bahasa mereka,” kata perempuan asal Magelang itu.

Hampir dua jam lebih saya berbincang, Winda izin pamit sebentar untuk mengurus anak-anak yang sudah kembali dari kegiatan berenang. Saya pun berterima kasih dan pergi ke joglo untuk menata barang-barang. 

Salah satu anak menghampiri saya, saya yang tak bisa bahasa isyarat hanya menyapanya dengan melambaikan tangan seraya berkata, “Halo!”. Anak itu menjawab kalimat saya tanpa suara, ia tertawa dan menggerakkan bibirnya, “Halo!”.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Ketulusan Guru Honorer yang Kuliah Sambil Mengajar Siswa Difabel di Surabaya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 6 Februari 2025 oleh

Tags: bahasa isyaratdifabelguru ngajipanti penyandang disabilitaspondok pesantren tunarungusantri difabel
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

diafebl jogja, JDA.MOJOK.CO
Sosok

Sukri Budi Dharma, Memberdayakan Difabel Jogja Melalui Seni di JDA

20 Juli 2025
Mengenal Ngaji dengan Bahasa Isyarat ala Pondok Pesantren Tunarungu-Tuli Jamhariyah Sleman
Video

Mengenal Ngaji dengan Bahasa Isyarat ala Pondok Pesantren Tunarungu-Tuli Jamhariyah Sleman

21 Maret 2025
Pendiri Ponpes Tuli di Sleman. MOJOK.CO
Sosok

Perjalanan Keliling Asia untuk Belajar Bahasa Isyarat demi Ajari Ngaji Anak-anak Tuli di Sleman

13 Februari 2025
Memanusiakan Difabel bersama Relawan PRYAKKUM. MOJOK.CO
Aktual

Memanusiakan Difabel bersama Relawan PRYAKKUM dengan Mewujudkan Lingkungan yang Inklusif

7 Desember 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
merantau di Jogja.MOJOK.CO

Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

25 Februari 2026
Jangan Remehkan Supra X 125, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang Mojok.co

Jangan Remehkan Supra X 125 Lawas, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang

25 Februari 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026
7 buah legendaris dalam game Blox Fruits yang jadi incaran MOJOK.CO

7  Koleksi Buah Legendaris di Game Blox Fruits yang Jadi Incaran: Tak Cuma Memperkuat, Tapi Juga Jadi Aset Berharga

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.