Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Jalanan Jogja Hening dari Klakson, Tapi Warganya Dongkol sama Suara Tat-Tet-Tot Patwal Para Pejabat

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
24 Januari 2025
A A
klakson, patwal Polisi. MOJOK.CO

Ilustrasi - Jalanan Jogja Hening dari Klakson, Tapi Warganya Dongkol sama Suara Tat-Tet-Tot Patwal Para Pejabat (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi beberapa orang, salah satu culture shock di Jogja adalah tak ada suara bising klakson yang bersahutan di jalanan. Sayangnya, warga Jogja malah dongkol dengan suara berisik lain: tat-tet-tot dari kendaraan patwal pejabat.

***

Klakson, di satu sisi, memang menjadi medium komunikasi di jalan raya. Tapi di sisi lain, penggunaan di waktu yang kurang bisa bikin orang-orang naik darah.

Di Jakarta, misalnya, suara klakson yang bersahutan jamak dijumpai di tengah kemacetan. Tak cuma itu, banyak juga pengendara nggak sabaran, yang sudah menyalakan klakson bahkan ketika lampu lalu lintas masih berwarna kuning.

Jalanan Jogja hening dari klakson

“Kalau di Jakarta berisiknya sebelas dua belas sama video suara klakson di India,” kata Mecca (23), mahasiswa Jogja yang pernah tiga bulan magang di Jakarta.

Ketika mulai ngekos di Jakarta pertengahan 2023 lalu, ia kaget kondisi jalanan ibu kota memang se-chaos itu. Memang, kalau soal kemacetan, jangan ditanya lagi.

Masalahnya, di balik kemacetan itu, ada orang-orang tak sabaran yang makin memperkeruh suasana.

“Kalau soal macet, Jogja juga macet,” kata dia.

“Bedanya, di sini hening dari klakson. Di Jakarta udah tahu macet, orang-orang nglakson nggak putus-putus. Jadinya jalanan jadi adu urat.”

Konon, pengendara di Jogja sabar-sabar

Akhirnya, di situ letak perbedaannya. Bagi Mecca, Jogja maupun Jakarta sama macetnya. Tapi di kota pelajar ini orangnya sabar-sabar.

“Seenggaknya masih jarang nemuin orang yang nglakson sembarangan saat macet. Sopan-sopan dan paham kapan kudu mainin klakson,” kata mahasiswa asal Jawa Barat yang kuliah di Jogja sejak 2021.

Romantisme jalanan Jogja yang hening dari klakson ini juga jadi perbincangan di media sosial. Sebagai misal di Instagram. Beberapa akun menyebut bahwa salah culture shock di Jogja adalah tak dijumpai suara klakson di jalanan.

 

View this post on Instagram

 

Iklan

A post shared by Info Jogja Terkini (@infojogjaterkini)


Banyak netizen mengamini hal tersebut.

“Emang sedikit sih yang klakson-klakson gitu. Lima tahun hidup di Jogja adem ayem. Pas pindah ke kota lain, waduh gedeg nih telinga,” tulis salah satu netizen di kolom komentar @infojogjaterkini, dikutip Jumat (24/1/2025).

“Memang. Yang mengaku mencintai Jogja tidak membunyikan klakson sembarangan di jalanan,” sambung netizen lain.

Namun, banyak juga warganet yang tidak sepakat. Beberapa mengaku kalau saut menyaut suara klakson di tengah kemacetan juga terjadi di Jogja. Pun, seandainya bukan suara klakson yang bikin dongkol, warga Jogja diresahkan dengan sumber kebisingan lain: suara tat-tet-tot mobil patroli dan pengawalan (patwal).

Sialnya, mobil-mobil patwal ini tidak sedang membuka jalan pejabat penting seperti misal RI 1, tetapi pejabat-pejabat nggak jelas dan rombongan study tour.

Pengalaman nyaris ditabrak motor patwal polisi

Soal kendaraan patwal pejabat, Jalu, warga Gunungkidul yang bekerja sebagai driver ojol di Jogja, punya pengalaman buruk. Ceritanya, sekitar setahun lalu, Jalu sedang melintas jalur searah di Jalan Sudirman.

Siang itu, ia sedang membawa seorang penumpang. Saat berada di perempatan Jalan Cik Di Tiro, depan kantor DPD Golkar DIY, suara tat-tet-tot patwal sudah terdengar dari kejauhan.

Jalu tak terlalu menghiraukan, sebab posisi lampu lalu lintas juga sedang berwarna merah. “Nggak mungkin diterobos juga,” pikirnya kala itu.

Namun, kendaraan-kendaraan yang berhenti satu per satu melipir. Ternyata, motor patwal menyuruh kendaraan-kendaraan di depannya untuk menyingkir.

“Penumpang saya bilang, ‘nggak usah melipir, Mas, kayak yang buru-buru cuma mereka aja’,” ujarnya, menirukan permintaan si penumpang. Jalu pun cuma bisa mengiyakan.

Sayangnya, motor polisi itu makin memepetnya sambil terus mengklakson. Roda belakang motornya juga ditabrak sampai ia dan penumpangnya nyaris terjungkal.

“Minggir, goblok. Jangan di tengah jalan,” kira-kira begitu kata sang polisi kepada Jalu.

Karena gentar, Jalu pun menyingkir ke kiri. Sekejab, kata-kata kotor keluar dari mulut si polisi. Dalam keadaan tubuh gemetar, ia memperhatikan mobil-mobil yang dikawal.

“Kalau dari platnya sih, jelas itu bukan pejabat RI 1. Plat AB, kayaknya cuma pejabat-pejabat sini (Jogja).”

Iring-iringan patwal bus study tour juga meresahkan

Selain patwal iring-iringan mobil pejabat, warga Jogja dibikin resah dengan polisi yang mengawal bus-bus study tour. Masalahnya, dalih “melayani wisatawan” sama sekali tak masuk akal karena motor-motor patwal ini kerap menerobos lampu merah.

Lagi2 penyalahgunaan patwal @polresjogja, kali ini oleh rombongan wisata SMPN 26 Depok. Kritik publik thd tindakan koruptif aparat dgn salahgunakan diskresi terus diabaikan!
Relakah kita jk wisata #Jogja dibangun dr kultur koruptif birokrasi & aparat?
cc @PoldaJogja @humas_jogja pic.twitter.com/d5DGmwLZCd

— Elanto Wijoyono (@joeyakarta) February 23, 2023


Elanto Wijoyono, pria asal Jogja, merupakan sosok yang kerap memberhentikan patwal. Menurutnya, pengawalan yang dilakukan polisi, baik untuk beberapa pejabat dan rombongan bus study tour, merupakan hal yang tak substantif.

“Alasan petugas klise bahwa mereka memberikan pelayanan kepada masyarakat dan tidak mau membahas lebih jauh soal kemungkinan gratifikasi dan bisa lagi pula mereka bisa berkilah soal itu,” katanya.

Sosok ini juga kerap menyuarakan keresahannya tentang patwal melalui akun Twitter pribadinya, @joeyakarta.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Jalur Lambat Ringroad Utara, Jalan Paling Diskriminatif Bagi Pengguna Roda Dua di Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 24 Januari 2025 oleh

Tags: Jogjaklaksonklakson jogjapatwalpatwal pejabatpatwal polisi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO
Edumojok

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT MOJOK.CO
Edumojok

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT

2 Februari 2026
Toko musik analog, Dcell Jogja Store. MOJOK.CO
Bidikan

Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog

2 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana MOJOK.CO

Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana

9 Februari 2026
Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026
Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO

Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.