Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Mengintip Kesuksesan “Segoro Bening”, Inisiatif Gotong Royong Warga Wirobrajan Jogja untuk Mengatasi Stunting

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
20 Agustus 2025
A A
stunting di wirobrajan jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi - Mengintip Kesuksesan "Segoro Bening", Inisiatif Gotong Royong Warga Wirobrajan Jogja untuk Mengatasi Stunting (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Masyarakat di Kemantren Wirobrajan, Jogja, memiliki inisiatif unik untuk menekan angka stunting. Inisiatif ini bernama “Segoro Bening”. Berawal dari inisiatif lokal, kini malah jadi percontohan nasional, karena kesuksesannya.

***

Setiap Jumat pagi, derap langkah puluhan relawan dan karyawan Kemantren Wirobrajan memecah keheningan gang-gang sempit di Kota Jogja. Dalam sebuah program yang mereka sebut “Jumat Sedekah,” mereka tidak sekadar berjalan sehat, melainkan mengusung misi mulia: mengantar paket bahan makanan bergizi langsung ke rumah-rumah keluarga yang membutuhkan.

Di balik paket berisi telur, tempe, tahu, dan sayuran itu, tersimpan satu harapan besar: membebaskan generasi mendatang dari ancaman stunting.

Gotong royong ini menjadi pondasi utama keberhasilan mereka menyelesaikan masalah stunting di Kemantren Wirobrajan, Kota Jogja. Sebab, masalah ini memang harus diselesaikan bersama-sama. 

Kepala Jawatan Sosial Kemantren Wirobrajan, Agung Nugroho, mengakui bahwa keterbatasan anggaran seringkali menjadi penghambat. Oleh karena itu, gerakan gotong royong ini pun pun menjadi jawaban. 

“Dengan melibatkan TNI, Polri, Puskesmas, sekolah, sampai hingga pelaku usaha, Alhamdulillah program yang kami sebut ‘Segoro Bening’ ini bisa berjalan secara konsisten,” kata Agung kepada  Mojok, Rabu (13/8/2025).

stunting di wirobrajan jogja.MOJOK.CO
Potret petugas di puskesmas yang melakukan pengecekan terhadap para bayi di Kota Jogja. Upaya ini untuk memetakan bayi-bayi yang memiliki kerentanan stunting (dok. Pemkot Jogja)

Segoro Bening: inovasi lokal yang punya dampak nasional

Segoro Bening merupakan kepanjangan dari “Semangat Gotong Royong Bebas dari Stunting. Ia di-launching dua tahun lalu, tepatnya pada 20 September 2023.

Menurut Agung, program ini mengusung konsep “gerakan orang tua asuh” yang menjangkau 60 hingga 80 keluarga berisiko stunting. Dana operasionalnya murni berasal dari swadaya masyarakat, seperti sumbangan dari belasan pelaku usaha, UMKM, hingga donasi sukarela yang dikelola secara transparan.

“Adapun distribusi dilakukan secara rutin setiap hari Jumat, Mas. Makanya kerap disebut dengan gerakan ‘Jumat Sedekah’,” jelasnya.

stunting di wirobrajan jogja.MOJOK.CO
Konsep dari Segoro Bening adalah “gerakan orang tua asuh”. Ia telah menjangkau lebih dari 60 hingga 80 keluarga berisiko stunting. (dok. Kemantren Wirobrajan)

Paket bantuan yang diberikan berisi protein hewani, seperti telur, tempe, tahu, dan sayuran. Menurut Agung, paket ini dipilih karena sangat efektif untuk meningkatkan berat badan dan gizi balita. 

Sementara data penerima bantuan didapatkan dari Puskesmas. Para penerima merupakan para baduta dan balita berisiko (kondisi wasting dan underweight, kenaikan berat badan kurang dari 2 ons setiap bulan) serta para ibu hamil dengan kondisi KEK (Kurang Energi Kronis).

stunting di wirobrajan jogja.MOJOK.CO
Monev Stunting Kemantren Wirobrajan Selasa, 8 Juli 2025 bersama Forkompintren Wirobrajan, DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) dan Tim Pendamping Keluarga (TPK) Kemantren Wirobrajan. (dok. Pemerintah Kemantren Wirobrajan)

Meluruskan stigma warga Wirobrajan, bahwa stunting bukan aib

Namun, harus diakui, tim di lapangan kerap menghadapi tantangan yang tidak terduga. Agung menyebut, ada banyak keluarga yang keliru memahami stunting. Ia disamakan gizi buruk, sehingga banyak orang merasa malu dan menolak bantuan. 

“Banyak yang masih menganggap stunting itu aib. Jadi begitu kami memetakan daftar penerima manfaat dari puskesmas, eh, warga menolak karena malu kalau dianggap gizi buruk,” paparnya.

Iklan

Alhasil, Agung pun mengubah cara pendekatannya. Ia menerapkan sebuah pendekatan yang disebut “psikososial”. Tim lapangan menggandeng RT, RW, hingga LPMK untuk memastikan bahwa bantuan tidak cuma benar-benar sampai, tapi juga memberi pemahaman mengenai stunting.

“Jadinya di lapangan itu nggak cuma distribusi bantuan, tapi kami juga ajak ngobrol. Kami juga memberi edukasi, hati ke hati. Agar mereka menjadi paham soal stunting dan tak perlu malu lagi menerima bantuan.”

stunting di wirobrajan jogja.MOJOK.CO
Tim Lapangan mendatangi rumah untuk menjalankan program Jumat Sedekah. (dok. Kemantren Wirobrajan)

Berkontribusi pada penurunan angka stunting di Jogja

Inovasi dan konsistensi ini membuahkan hasil luar biasa. Angka stunting di Kemantren Wirobrajan turun signifikan dari 11,5 persen pada awal 2023 menjadi 7,8 persen di tahun 2024. 

Keberhasilan ini pun mengantarkan Wirobrajan meraih penghargaan sebagai best practice 2023 karena memiliki angka stunting terendah. Selain itu, mereka berhasil menjadi yang pertama dalam penimbangan serentak balita pada Juni 2024 dengan tingkat partisipasi mencapai 98 persen, jauh lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya.

“Ini semua buah dari sinergitas. Antarlembaga saling berkontribusi, mulai dari puskesmas, tim lapangan, dan pihak lain di tataran paling kecil masyarakat,” ujarnya.

stunting di wirobrajan jogja.MOJOK.CO
Program Segoro Bening sukses dan menjadi percontohan nasional terkait program yang berhasil menurunkan angka stunting. (dok. Kemantren Wirobrajan)

Kisah sukses ini sejalan dengan progres yang dicatatkan Pemerintah Kota Jogja secara keseluruhan. Menurut Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kota Jogja, Iswari Paramita, angka prevalensi stunting di Kota Jogja turun menjadi 14,8 persen pada tahun 2024. 

Angka ini turun dua poin dari tahun sebelumnya dan menempatkan kota ini sebagai wilayah dengan angka stunting terendah di DIY. Jauh di bawah rata-rata provinsi yang sebesar 17,1 persen.

Namun, Mita mengakui memang ada kesenjangan antar kelurahan. Misalnya, angka stunting di Kelurahan Gedongkiwo turun hingga di bawah 10 persen, sementara beberapa kelurahan lainnya masih menghadapi tantangan lebih berat. 

“Itu yang kini menjadi PR bersama, bagaimana agar ke depan semua kalurahan merata angka penurunan stuntingnya,”  jelas Mita, saat dihubungi Mojok, Jumat (15/8/2025).

Kendati demikian, angka tersebut sudah melampaui target penurunan stunting di Kota Jogja. Bagi Mita, kunci dari kesuksesan ini tak lain dan tak bukan karena keterlibatan multisektor.

“Pembagian tugas penanganan antara Pemkot, dinas, dan stakeholder yang terkait, membuat percepatan penurunan stunting di Jogja dapat dilakukan dengan efektif. Wirobrajan itu salah satu bukti nyata,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Mita menjelaskan bahwa keberhasilan Kemantren Wirobrajan— yang kini program Segoro Bening bakal direplikasi oleh beberapa kabupaten lain seperti Paser, Cirebon, dan Semarang—membuktikan satu hal: “stunting bukanlah masalah yang sulit diselesaikan, asalkan ditangani bersama-sama.”

Harapan yang tumbuh dari dapur warga Wirobrajan

Bagi Siti (32), seorang ibu rumah tangga di Wirobrajan, kehadiran tim relawan di depan pintu rumahnya adalah sebuah titik balik. Dia mengaku kalau awalnya merasa malu dan takut dicap sebagai keluarga “melahirkan anak dengan gizi buruk”.

ibu ibu PKK.MOJOK.CO
Penjabat Ketua TP PKK Kota Yogyakarta Atik Wulandari saat tegur sapa dengan penerima bantuan MPASI di Kelurahan Wirobrajan. (dok. Pemerintah Kemantren Wirobrajan)

Namun, pendekatan hangat para relawan dan obrolan tentang pentingnya gizi mengubah segalanya. 

“Mereka datang bukan cuma kasih bantuan, mereka juga ajak ngobrol. Saya jadi paham stunting itu bukan aib, tapi masalah yang bisa diselesaikan,” katanya, Senin (18/8/2025), sambil tersenyum.

Sejak saat itu, setiap Jumat pagi menjadi hari yang dinantikan. Paket berisi telur, tempe, tahu, dan sayuran bukan lagi sekadar bantuan, melainkan simbol kepedulian yang nyata. 

Siti kini bisa memasak makanan bergizi seimbang untuk anaknya tanpa harus pusing memikirkan biaya. Ia juga aktif mengajak tetangganya untuk mengikuti program posyandu.

“Sekarang saya punya harapan,” tuturnya. “Melihat anak saya semakin berat badannya naik, saya yakin dia akan tumbuh jadi anak sehat.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Lansia di Kota Jogja Butuh Berkegiatan untuk Tetap Bugar dan Produktif, Sekolah Lansia Menjadi Jawabannya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2025 oleh

Tags: Jogjakemantren wirobrajanpenanganan stuntingpilihan redaksisegoro beningstuntingstunting di jogjawirobrajanwirobrajan jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Sehari-hari

Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama

31 Maret 2026
Kerja Susah di Jogja, Diledek Orang Surabaya Gak Bakal Sukses. MOJOK.CO
Urban

Nekat Tinggalkan Surabaya untuk Meniti Karier di Jogja, Menyesal Tak Dengarkan Nasihat Orang Tua yang Terlanjur Kecewa

31 Maret 2026
Resign after lebaran karena muak dengan kantor toxic demi work life balance di Jogja MOJOK.CO
Urban

Nekat Resign After Lebaran karena Muak Kerja di Kantor Toxic, Pilihan “Ngawur” untuk Cari Happy tapi Stres Tetap Tak Terhindarkan

30 Maret 2026
Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co
Pojokan

Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kucing, hewan peliharaan

Memelihara Kucing Membuat Saya Menjadi Manusia: Tak Saling Bicara, tapi Lebih Memahami ketimbang Sesama Manusia

26 Maret 2026
Pintu timur Stasiun Tugu Jogja, titik keberangkatan kereta api terbaik dibandingkan Stasiun Lempuyangan

Dibanding Stasiun Lempuyangan, Saya Lebih Pilih Stasiun Tugu Jogja yang Mahal dan Ramai asal Tak Harus Menahan Emosi Menunggu Jemputan

27 Maret 2026
4 Oleh-Oleh “Red Flag” Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Ulang sebagai Buah Tangan Mojok.co

4 Oleh-Oleh Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Berkali-kali sebelum Dibeli

29 Maret 2026
Ortu dihina karena miskin. Anak kuliah sebagai mahasiswa jurusan Psikologi UIN buktikan lulusan PTN ecek-ecek malah hidup lebih terhormat MOJOK.CO

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Anak Kuliah di UIN, Dicap PTN Ecek-ecek tapi Lulus Punya Karier Lebih Terhormat

25 Maret 2026
Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Mending, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati Mojok.co

Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Tinggi, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati

25 Maret 2026
Salah paham pada kuliner sate karena terlalu miskin. Baru benar-benar bisa menikmatinya setelah dewasa untuk self reward MOJOK.CO

Salah Paham ke Sate: Kaget dan Telat Sadar kalau 1 Porsi Bisa buat Diri Sendiri, Jadi Self Reward Tebus Masa Kecil Miskin

31 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.