Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

SCBD Adalah Tempatnya Orang Selingkuh Malah Diromantisisasi, Bikin Culture Shock Orang Jogja yang Kerja di Jakarta

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
20 Maret 2024
A A
SCBD Adalah Tempatnya Orang Selingkuh Malah Diromantisisasi, Bikin Culture Shock Orang Jogja yang Kerja di Jakarta.mojok.co

Ilustrasi SCBD Adalah Tempatnya Orang Selingkuh Malah Diromantisisasi, Bikin Culture Shock Orang Jogja yang Kerja di Jakarta (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Warga Jogja yang kerja di Jakarta mengalami banyak culture shock. Selain karena UMR yang selangit dan makanan yang tak cocok di lidah mereka, ada juga skandal perselingkuhan di tempat kerja yang bahkan sudah jadi budaya. Orang Jogja menyebutnya skandal SCBD, di mana perselingkuhan malah diromantisisasi.

***

Setelah dua tahun tabok-tabokan dengan kecilnya UMR Jogja, Ananda Fauzan (25) memutuskan pergi dari tanah kelahirannya itu. Kemudian dia memilih Jakarta, kota metropolitan yang ia anggap bisa membuka peluang buat mendapat kehidupan yang lebih baik.

Alasannya pindah ke Jakarta sederhana, yakni UMR di sana nominalnya dua kali lipat Jogja. Dalam kepalanya, gaji besar bisa membuat semuanya lebih mudah. Paling tidak, rencana-rencana besarnya di masa mendatang tak akan terkendala lagi oleh urusan biaya.

Fauzan, sapaan akrabnya, lulus dari salah satu PTS di Jogja pada 2021 lalu. Sebagai “lulusan Covid-19“, ia memiliki rasa kekhawatiran soal karir. Bagaimana tidak, ia lulus di tengah situasi negara yang lagi collapse. Banyak pekerja kehilangan mata pencahariannya, sementara dia malah menetas jadi tenaga kerja baru.

Untungnya, kekhawatiran itu tak sepenuhnya menjadi kenyataan. Hanya beberapa bulan setelah lulus, Fauzan diterima kerja di salah satu lembaga konsultan pendidikan. Ia menjadi koordinator bagi para tentor bimbingan siswa yang ingin mendaftar ke perguruan tinggi.

Persoalannya, upah yang didapat cukup bikin Fauzan mengernyitkan dahi. “Dua juta sekian, tapi terima bersih cuma satu satu juta delapan ratus,” kisahnya kepada Mojok, Jumat (15/3/2024) lalu.

Lama-lama, kalau dia pikir kok upahnya itu tak sedanding dengan tanggungjawabnya. Selama dua tahun bekerja pun, ia tak pernah mengalami kenaikan gaji. Paling mentok hanya bonus pada saat-saat high season menjelang penerimaan mahasiswa baru.

“Akhirnya setelah dua tahun kerja di sana, memutuskan resign setelah ada tawaran dari salah satu company yang kantornya di SCBD Jakarta,” tegas Fauzan.

Ada banyak culture shock di Jakarta, tapi soal selingkuh paling sulit ia terima

Fauzan baru pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta. Seumur hidupnya, baru kali ini ia akhirnya bisa tinggal dan menetap di kota metropolitan tersebut. Meski belum pernah ke Jakarta sebelumnya, ia selalu berpikir kalau Jogja dan eks ibu kota Indonesia itu hanya sebelas dua belas. Namun, kenyataannya jelas panggang jauh dari api.

Memang di Jogja juga ada SCBD, kawasan blok Seturan-Condongcatur-Babarsari-Demangan. Tapi sudah pasti, SCBD yang itu jelas berbeda dengan yang di Jakarta.

Sebagai informasi, Fauzan kerja di salah satu perusahaan yang berkantor di SCBD. Meski sebagai karyawan baru gajinya masih terhitung kecil jika dibanding pekerja yang lain, standard upah yang ia dapat jelas di atas rata-rata penghasilan buruh Jogja. 

“Di atas UMR Jakarta. Kalau aku hitung hampir tiga kali Jogja lah,” katanya menjelaskan. Per 2023, saat Fauzan pertama kerja di Jakarta, UMR ibu kota berada di angka Rp4,9 juta. Sementara awal 2024 lalu naik menjadi Rp5,06 juta.

Sebagai orang yang baru pertama kali merantau, apalagi langsung kerja di SCBD, jelas ada banyak kekagetan alias culture shock yang ia alami. Misalnya, dari yang paling kecil saja, soal makanan. Fauzan bilang, sebagai orang yang lidahnya “Jogja banget”, sangat tricky buat mencari makanan yang cocok. Tak setiap tempat makan cukup bikin dia berselera.

Iklan

Selain itu, dia juga bilang, “keramahtamahan Jogja” sangat sulit dia jumpai di Jakarta. “Di sini orangnya gampang banget ngomong ‘anjing’, gampang marah lah. Parkir salah sedikit kena omel, bahkan suruh bayar lebih. Wah, aku dulu awalnya takut banget sih enggak bisa adaptasi,” kenangnya, menceritakan kesan awal tinggal di Jakarta.

Lambat laun, ia mulai terbiasa. Cita rasa kuliner Jakarta mulai nyetel di lidahnya. Sikap galak orang-orangnya juga mulai bisa ia maklumi. Namun, satu hal yang masih menggangunya saat ini: budaya selingkuh antarteman di kantornya.

Gara-gara klaim “jatuh cinta karena terbiasa”

Mulanya, Fauzan mengira kalau kedekatan beberapa teman kerjanya masih dalam batas toleransi. Ya, sekadar dekat sebagai teman kantor lah. Namun, lama-lama kok ada yang janggal. 

“Ada yang janjian staycation di weekend. Nginep setelah pulang kerja. Ya padahal aku juga tahu mereka-mereka ini beberapa udah berkeluarga,” kata Fauzan.

Akhirnya, ia menyadari satu hal bahwa itu memang perselingkuhan. Masalahnya, itu tak hanya terjadi di satu pasangan saja, tapi lebih. Saat nongkrong dengan kawan-kawannya di kantor lain, nyatanya mereka juga menceritakan hal yang sama.

“Jadi udah terang aja gitu. Kalau di kantor pada deket, saling guyonan, tapi pas nongkrong pada mesra-mesraan. Gila, sih, di Jogja aku belum nemu yang kayak begini.”

Selain UMR dan Makanan, Orang Jogja yang Kerja di Jakarta Kaget karena Ada Budaya Romantisisasi Perselingkuhan Antarteman Kantor.mojok.co
Ilustrasi perselingkuhan di SCBD (Herzindag/Unsplash.com)

Dalam beberapa kesempatan, Fauzan sempat bertanya ke rekan kerjanya yang suka main belakang, “kenapa, sih, kalian milih buat selingkuh?”, kira-kira begitu pertanyaannya.

Lantas, jawaban yang ia dapat cukup identik. Beberapa temannya memberinya jawaban yang nadanya kurang lebih sama. Kalau enggak bilang “kesepian”, ya karena “jatuh cinta karena terbiasa” alias witing tresna jalaran seka kulina.

“Pembelaan mereka sih, ‘kita kerja nyaris sepuluh jam sehari selama seminggu, ketemu teman kantor lebih sering ketimbang ketemu istri. Jadi wajar kalau tumbuh benih-benih asmara’,” kata Fauzan, menirukan temannya. “Tapi bagiku itu bullshit, sih!”

Di Jakarta, bos menormalisasi dan teman kerja meromantisisasi

Umumnya, teman-teman Fauzan yang selingkuh adalah bapak-bapak muda di usia awal 30-40 tahunan. Sementara selingkuhannya masih lajang. Meski, ada juga kasus laki-laki dan perempuan sama-sama sudah berumah tangga.

Yang bikin ia lebih heran lagi, bosnya seperti tak ingin ambil pusing meski tahu kejadian itu salah. Menurut Fauzan, bosnya memang punya hak buat menganggap perselingkuhan sebagai persoalan pribadi. Namun, bukankah tetap saja bakal mengganggu profesionalitas, pikirnya.

“Dulu aja sempat mau ada larangan pacaran antarteman kantor. Lah, kok ini selingkuh malah dibiarin aja,” ujarnya.

Parahnya lagi, di lingkungan teman-teman kerjanya, perilaku ini malah diromantisisasi. Misalnya, mereka saling mendukung hubungan terlarang itu. Banyak juga yang malah memuji dengan kata-kata, misalnya, “kalian pasangan yang cocok banget”.

“Sampai, ya, kalau lagi nongkrong udah biasa gitu mereka bikin snap di IG. Makanya wajar banget enggak sih kasus perselingkuhan ketahuan di medsos. Orang mereka juga open gitu, kok.”

Kata pakar, perselingkuhan di tempat kerja itu “wajar” tapi jangan “diwajarkan”

Di media sosial X, isu perselingkuhan di tempat kerja kembali ramai baru-baru ini. Khususnya di akun @worksfess, yang mana seorang sender mengirimkan keresahannya terkait budaya perselingkuhan antarteman kantor di Jakarta. 

Sender yang masih memiliki moral dan norma cuma bisa ngang ngong ngang ngong. Work! pic.twitter.com/3ST27qLWp6

— WORK (@worksfess) March 19, 2024

Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Drajat Tri Kartono sendiri menjelaskan, secara sosiologis perasaan sepi memang jadi pemicu perselingkuhan di lingkungan kerja. Menurutnya, semakin masyarakat itu sibuk, ditambah tingginya persaingan di tempat kerja, maka perasaan kesepian bisa muncul kapan saja.

“Orang akan merasa sepi ketika hidup itu semakin banyak orang, padat, dan semakin tinggi tingkat persaingan di antara mereka,” jelasnya.

Derajat mengatakan, selama bekerja, otomatis sebagian besar waktun mereka habiskan di kantor bersama rekan kerjanya.Banyaknya waktu yang mereka habiskan di kantor itulah yang turut berpengaruh dalam  memunculkan rasa nyaman dan memicu “niat” buat berselingkuh.

Meski perselingkungan di tempat kerja amat rawan dan wajar terjadi, kata Drajat, ia tidak bisa dinormalisasikan. “Perselingkuhan itu merupakan perilaku yang tidak wajar dan tidak bisa diterima,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di FnB

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 22 Maret 2024 oleh

Tags: jakartakota jakartaperselingkugan di tempat kerjaperselingkuhanselingkuha
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO
Sehari-hari

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO
Cuan

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)
Pojokan

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Evakuasi WNI saat terjadi konflik luar negeri MOJOK.CO

Saat Terjadi Konflik di Luar Negeri, Evakuasi WNI Tak Sesederhana Asal Pulang ke Negara Asal

16 Maret 2026
Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan Mojok.co

Sulitnya Jadi Penjual Gudeg, Susah-susah Siapkan Makanan Khas Jogja Berujung Dapat Celaan Wisatawan

15 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.