Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Kedewasaan Bocah 11 Tahun di Arena Panahan Kudus, Pelajaran di Balik Cedera dan Senar Busur Putus

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
16 Desember 2025
A A
Kegigihan bocah 11 tahun dalam kejuaraan panahan di Kudus MOJOK.CO

Ilustrasi - Kegigihan bocah 11 tahun dalam kejuaraan panahan di Kudus. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Anak-anak berusia belasan tahun, tapi punya kedewasaan dan ketenangan pikiran yang melampaui usianya. Saya melihatnya di dalam arena MilkLife Archery Challenge (MLARC) Kejuaraan Nasional Antarklub 2025 (panahan) di Stadion Supersoccer Arena (SSA), Kudus. Pertandingan ini diselenggarakan oleh Persatuan Panahan Indonesia (Perpani), MilkLife, dan Djarum Foundation pada Selasa (9/12/2025) hingga Jumat (19/12/2025).

Dari pertandingan itu, saya mendapat banyak insight tentang ketenangan. Salah satunya dari Danesh (11). Ia memang gagal juara di kejuaraan tersebut, tapi caranya bersikap dan menerima hasil itu membuat saya takjub. 

Ketegangan dalam keheningan di arena panahan Kudus

Athar Danesh Firmansyah, atlet asal Jakarta Barat itu, berdiri tegap memegang busur panahnya sembari fokus membidik target. Setelah beberapa kali melepaskan anak panah, Danesh, sapaan akrabnya, langsung menoleh ke arah belakang untuk meminta saran dari sang pelatih.

“Tinggi lagi, Nes, arah jam 12,” kata sang pelatih usai mengecek papan target dari teropongnya.

Mendengar arahan tersebut, Danesh langsung bersiap lagi menghadap depan sembari mengangkat busur panahnya. Ia butuh konsentrasi penuh untuk sejenak melupakan rasa sakit di lengan kirinya yang bengkak.

“Atur napas Nes, tenang. Masih ada waktu,” kata sang pelatih di sela-sela pertandingan panahan, MilkLife Archery Challenge Kejuaraan Nasional Antarklub 2025 di SSA, Kudus, Selasa (16/12/2025).

Danesh rontgen. MOJOK.CO
H-1 sebelum pertandingan, Danesh harus dirontgen karena cedera di tangan. (Dok.Pribadi)

Sementara itu, Lila (ibu Danesh) hanya bisa mengamati anak keduanya itu dari kejauhan. Tepatnya di atas tribun SSA, Kudus. Perasaannya campur aduk, gelisah, sekaligus bangga melihat ketangguhan anaknya di atas lapangan hijau. Padahal kemarin sore, Lila baru saja mengantar Danesh ke ruang medis.

“Saya cuman bisa berdoa dan fokus dengan bahasa tubuh anak saya. Saya berusaha nggak terlalu berisik saat dia membidik supaya konsentrasinya terjaga, tapi begitu anak panah lepas, saya siap jadi suporter paling heboh,” tutur Lila.

“Intinya, saya hadir di sana supaya dia merasa ‘ada yang dukung’, apapun hasilnya,” lanjutnya.

Tangan cedera karena tali busur panah yang putus 

Sehari sebelum pertandingan, Danesh mengalami cedera di lengan kirinya karena string (tali busurnya) tiba-tiba putus saat latihan. Kejadian itu membuat tangannya bengkak sehingga harus di-rontgen di ruang medis.

Saat itu juga Danesh sebetulnya bisa saja mundur dari pertandingan esok hari, tapi ia memilih lanjut dan berjuang sampai akhir.

“Waktu dibawa ke ruang medis itu, saya sudah tanya ke Danesh, mau lanjut atau nggak? Ternyata dia mau lanjut. Nggak bisa diragukan lagi sih mental ini anak,” kata Pelatih Segar Archery Jakarta Barat sekaligus pelatih Danesh, Alwan yang mendampingi atletnya di Kudus.

Pertandingan panahan. MOJOK.CO
Atlet U13 dalam pertandingan MilkLife Archery Challenge Kejuaraan Nasional Antarklub 2025 di SSA, Kudus, Selasa (16/12/2025). (Sumber: MilkLife)

Masalah tak berhenti di situ. Usai mendapat jawaban dari Danesh, Alwan harus memutar otak untuk mencari busur pengganti. Beruntung, Danesh bisa menggunakan busur milik kakaknya yang sebetulnya lebih besar dibanding busur miliknya.

Panahan: seni mengalahkan ketakutan dan pergulatan pikiran

Meski berujung pulang tanpa gelar juara di Kudus, Danesh mengaku bangga bisa menyelesaikan pertandingan. Ia berhasil menahan rasa sakit, berusaha beradaptasi dengan busur panah baru hingga menang dari ketakutannya sendiri.

Iklan

Oleh karena itu, ia tetap tersenyum bangga saat pertandingan usai. Ia mungkin kalah di pertandingan, tapi merasa menang atas pergulatan dalam pikirannya sendiri.

Sejak mengikuti olahraga panahan tahun 2020, Danesh mengaku, jauh lebih kuat baik secara fisik maupun mental. Sebab setiap hari dia belajar fokus sekaligus ikhlas saat melepaskan anak panah. 

Danesh dan ibunya dalam pertandingan panahan di Kudus. MOJOK.CO
Lila mendampingi Danesh saat pertandingan panahan. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Dari olahraga panah aku belajar buat fokus pada target, terus waktu panah udah lepas dari busur baru ada perasaan ikhlas untuk menerima apapun hasilnya,” ucap Danesh saat ditemui Mojok di tribun SSA, Kudus.

“Kalau misalkan meleset pun, kita nggak boleh baper lama-lama. Harus segera move on untuk menyiapkan anak panah berikutnya.”

Ketenangan pikiran melampaui usia atlet panahan di Kudus

Usia Danesh masih 11 tahun. Tapi caranya menyikapi situasi–sebagaimana tergambar di atas–jauh melampaui usianya. 

Kedewasaan dan kejernihan berpikir tersebut sedikit banyak terbentuk dari prosesnya dalam berlatih panahan. Sebab, dalam panahan, ketenangan pikiran menjadi salah satu kemampuan yang harus ditempa para atlet. 

Pelatih Segar Archery Jakarta Barat sekaligus pelatih Danesh, Alwan, berujar panahan merupakan olahraga akurasi yang terukur, sehingga membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi serta fokus yang bagus. 

“Apalagi, olahraga ini tercatat dalam redaksi hadits nabi. Jadi, insyaallah juga bernilai pahala.” Ucap Alwan.

Panahan olahraga pertarungan pikiran. MOJOK.CO
Olahraga panahan membutuhkan kefokusan tingkat tinggi. (Sumber: MilkLife)

Lewat wawancara secara terpisah, pelatih Bhayangkara Archery Raja Ampat, Rafi, menjelaskan kalau di panahan ada latihan imagery untuk melatih ketenangan atlet. Biasanya, mereka dipersilakan duduk bersila dan memejamkan mata.

“Mereka diminta membayangkan seluruh proses memanah secara detail lewat pikiran. Mulai dari persiapan, memasang anak panah, hingga melepas anak panah. Jadi mereka nggak pegang busur, tapi gerakannya seolah-olah sedang bertanding,” tutur Rafi di SSA, Kudus.

“Latihan itu sama pentingnya dengan latihan fisik. Sebab atlet panahan perlu napas yang stabil untuk melepas anak panah mereka. Salah sedikit saja, arah bidikannya bisa bergeser. Lebih dari itu, latihan imagery tak hanya berguna saat pertandingan, tapi juga terbawa dalam kehidupan sehari-hari (membentuk seseorang dengan karakter sebagaimana tergambar dari sosok Danesh),” sambungnya. 

***

Tak ada mendung di wajah Danesh usai gagal di arena. Dia meninggalkan arena, menenteng peralatan panahannya tetap dengan wajah cerah, secerah matahari pagi di Kudus hari itu. 

Anak panahnya masih akan ia bidikkan ke kejuaraan-kejuaraan lain. Anak panah boleh meleset di satu kejuaraan, tapi masih ada anak panah-anak panah lain yang masih bisa ia luncurkan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Tak Minder Pakai Raket Murah, Meski Seadanya tapi Bisa Beri Kebanggaan pada Orangtua di Lapangan Bulu Tangkis atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 Desember 2025 oleh

Tags: archerykisah inspiratifkudusMilkLife Archery Challengeolahraga akurasiOlahraga Panahanpanahan
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Anak Akuntansi UGM burnout. MOJOK.CO
Edumojok

Anak dari Pulau Bangka Bela-belain Kuliah di UGM Sampai Jadi Wisudawan Terbaik, bikin Orang Tua Bangga dengan Gelar Sarjana Akuntansi

6 Maret 2026
Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu MOJOK.CO
Sehari-hari

Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu

4 Maret 2026
Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia
Edumojok

Bangkit usai “Kehilangan” Kaki dan Nyaris Gagal Jadi Sarjana, Akhirnya Lolos LPDP ke AS agar Jadi Ahli IT Pustakawan di Indonesia

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah

Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata

13 Maret 2026
SMP Taman Dewasa Jetis Jogja, penerima manfaat beasiswa JPD untuk pendidikan

Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home

17 Maret 2026
Pendidikan karakter Sunan Ampel di Pesantren Ampeldenta Surabaya melalui halal food dan halal living MOJOK.CO

Rasa Sanga (6): Melalui Halal Food dan Halal Living, Sunan Ampel Membentuk Karakter Generasi Islam Berkualitas

13 Maret 2026
Ilustrasi mudik lebaran, perumahan.MOJOK.co

Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang

11 Maret 2026
Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dilebih-lebihkan, padahal banyak jamet MOJOK.CO

Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina

14 Maret 2026
Cerita Felix. Kuliah di universitas Australia berkat beasiswa LPDP usai diejek dan ditertawakan. Tolak tawaran kerja dewan demi ajar anak-anak di kampung pedalaman MOJOK.CO

Lulusan Beasiswa Australia Tolak Tawaran Karier Mentereng, Lebih Pilih Jadi Guru Kampung karena Terbayang Masa Lalu

10 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.