Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Pantai Bama Baluran Situbondo: Indah tapi Waswas Gangguan Monyet Nakal, Itu karena Ulah Wisatawan Sendiri

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
25 Desember 2025
A A
Wisata Pantai Bama di Taman Nasional Baluran, Situbondo: Indah tapi waswas gangguan monyet MOJOK.CO

Ilustrasi - Wisata Pantai Bama di Taman Nasional Baluran, Situbondo: Indah tapi waswas gangguan monyet. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pantai Bama bisa menjadi opsi destinasi wisata untuk menutup hari usai puas berkeliling di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur. Hamaparan pasir putih lembut dan cahaya sore yang jatuh di atas laut biru memberi rasa damai tersendiri, selain tentu bisa jadi objek kamera untuk mengisi galeri.

Sayangnya, keindahan itu tidak bisa sepenuhnya dinikmati. Sebab, wisatawan harus dilingkupi rasa waswas gara-gara keberadaan monyet ekor panjang yang meresahkan. Dan siapa nyana, kelakuan “nakal” monyet-monyet ekor panjang di Pantai Bama, Taman Nasional Baluran, Situbondo, itu pada mulanya adalah karena “ulah” oknum wisatawan/pengunjung yang datang.

Keindahan dan kedamaian di Pantai Bama Baluran

Saya ke Taman Nasional Baluran pada awal 2022 silam. Mulanya, Savana Bekol menjadi destinasi wisata utama yang saya dan pacar saya (yang saat ini sudah menjadi istri saya). Kami ingin merasakan sensasi “ala Afrika” di ujung timur pulau Jawa itu.

Sebagai anak pesisir, saya sebetulnya tak terlalu tertarik dengan pantai: sudah biasa melihatnya di kampung halaman. Namun, menjelang sore hari itu, saya mengikuti saja kemauan pacar saya untuk menutup hari di Pantai Bama yang berada di ujung Taman Nasional Baluran.

Sejujurnya, saya awalnya takjub dengan keindahan pantai tersebut. Pasirnya lembut. Laut biru yang ditingkahi warna jingga cahaya sore indah sekali. Setidaknya begitu yang kami tangkap saat beberapa langkah menuju Pantai Bama.

Sesaat saya merasa amat damai sekali. Sepertinya asyik kalau duduk berdua, berbincang hal-hal sederhana, atau sekadar diam menatap matahari terbenam.

Duduk sebentar di Pantai Bama Baluran, langsung diincar puluhan monyet ekor panjang

Namun, keindahan dan kedamaian destinasi wisata di Situbondo itu hanya bisa kami nikmati dari kejauhan.

“Kalau bawa makanan, hati-hati, Mas,” ucap seseorang yang baru saja beranjak dari pantai.

“Tasnya mending taruh depan aja, Mas, daripada direbut monyet,” timpal seorang yang lain.

Dari situ, saya sebenarnya sudah mulai waswas. Ternyata ada puluhan monyet yang bertengger di dahan-dahan pohon. Mata mereka tajam mengincar kami.

Saya dan pacar kemudian memutuskan mengambil duduk agak jauh dari pepohonan. Biar tidak terlalu dengan gerombolan monyet ekor panjang itu.

Baru sejenak kami duduk, beberapa saat setelah memindah tas saya ke depan, tiba-tiba puluhan monyet turun dari pohon, bergerak mendekati arah kami.

Tiap saya menghentikan gerakan memindah tas, monyet-monyet itu ikut berhenti. Tapi kalau saya menggerakkan tas saya lagi, mereka kembali bergerak mendekat.

Lalu ketika saya mengelurkan sebotol air, tiba-tiba monyet-monyet itu bergerak agresif: hendak merebut. Saya dan pacar langsung berdiri, berlari menghindari kejaran monyet-monyet itu. Mereka baru berhenti mengejar setelah botol air itu saya lemparkan ke arah mereka.

Iklan

Tas amblas digondol monyet ekor panjang

Ternyata sudah menjadi rahasia umum bahwa kelakuan monyet-monyet ekor panjang di Pantai Bama, Taman Nasional Baluran amat meresahkan pengunjung destinasi wisata di Situbondo tersebut. Itu lah kenapa muncul julukan “monyet nakal”—untuk monyet-monyet ekor panjang di Pantai Bama.

Sore itu, selain dua orang yang saya temui di awal, beberapa orang lain yang kami temui berikutnya juga mengakui hal yang sama. Satu dari mereka malah mengaku tasnya amblas digondol para monyet.

Sama seperti saya, awalnya ia hanya ingin menikmati sore sembari menyantap bekal yang mereka bawa di tas. Namun, baru juga tas dibuka, gerombolan monyet menyerbu: merebut tas dan membawanya pergi.

“Mereka nggak takut. Kalau digertak, mereka malah nyerang, nyakar,” ucap salah satu wisatawan itu, sembari menunjukkan lengan kanannya yang tergores kuku monyet.

“Untung nggak ada barang berharga di tas itu, isinya cuma makanan dan minuman. Jadi ya sudah,” sambungnya.

Anak-anak sampai trauma

Sepulang dari menjelajahi beberapa destinasi wisata di Situbondo dan Banyuwangi pun, saya masih mendengar cerita serupa dari seorang teman yang pernah liburan keluarga ke Pantai Bama, Baluran.

Suatu kali, teman saya ikut kakaknya yang sudah berkeluarga liburan ke Situbondo. Pantai Bama menjadi salah satu yang dikunjungi.

Saat melihat para monyet ekor panjang itu, keponakan teman saya—yang saat itu kelas 1 SD—melihat primata itu sebagai hewan lucu. Tanpa rasa takut, saat melihat seekor monyet ekor panjang bertengger di pohon, ia meminta agar sang bapak memfotokan.

Saat itu, tidak ada yang memperingatkan kalau monyet-monyet itu agresif. Keluarga kakak teman saya hanya mendapat wanti-wanti agar tidak memberi makan satwa liar.

Alih-alih mendapat foto lucu, monyet itu justru langsung menyerang kakak teman saya. Untung HP-nya bisa langsung ia amankan. Namun, si anak amat ketakutan hingga menangis histeris.

“Pas perjalanan keluar, di sepanjang jalan kan ada banyak monyet, itu keponakanku ketakutan banget, padahal kami ada di dalam mobil. Sampai sekarang dia takut kalau sama monyet,” tutur teman perempuan saya itu.

Monyet jadi nakal ulah wisatawan

Pada sore setelah gagal menikmati Pantai Bama, saya sempat berbincang dengan seorang kenalan yang memberi kami tempat menginap: warga lokal sekaligus traveler dan tour guide.

Ia menjelaskan, agresivitas monyet ekor panjang yang kemudian meresahkan para wisatwan itu sebenarnya karena ulah oknum wisatawan sendiri.

Begini, bukan tanpa alasan kenapa ada larangan “memberi makan satwa liar”. Pertama, memiliki potensi bahaya bagi si satwa. Karena siapa tahu, makanan yang manusia konsumsi mengandung zat tertentu yang bahaya bagi si satwa.

Kedua, kebiasaan memberi makan satwa liar—apalagi di habitat alaminya—bisa mengubah habit alami si satwa. Khususnya jika itu dilakukan secara masif.

Dalam konteks monyet ekor panjang Pantai Bama, semula monyet-monyet itu mencari makan dari alam langsung. Namun, karena kebiasaan oknum wisatawan—dan sialnya teramat sering—memberi makan mereka, alhasil primata-primata itu berubah menjadi “ketergantungan” terhadap pemberian manusia.

Itu kemudian menjadi habit baru bagi para monyet ekor panjang Pantai Bama, yang kemudian berubah menjadi cenderung meminta paksa tiap kali melihat wisatawan datang dengan membawa kresek atau tas yang para monyet asumsikan berisi makanan.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Bagi Kami para Akamsi Pantai Kenjeran adalah Sebaik-baik Tempat Menenangkan Diri, Meski Banyak Begal dan Pungli atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

Terakhir diperbarui pada 25 Desember 2025 oleh

Tags: baluranpantai bamapantai situbondositubondotaman nasional baluranwisata situbondo
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Liputan

Juru Siar Acara Nikahan di Situbondo: Buka-buka Amplop dan Umumin Siapa-Sumbang-Berapa

4 Oktober 2020
Gus-Mut-dan-Sandal-Jepit-MOJOK.CO
Khotbah

Amar Makruf Gus Mut dan Dakwah Sandal Jepit Kiai Kholil

6 Juli 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mall Kokas di Jakarta Selatan (Jaksel) macet

Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite

20 Februari 2026
Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026
Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Peserta beasiswa LPDP bukan afirmasi tidak diafirmasi

Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang

21 Februari 2026
Pemilik kos di Depok, Sleman, Jogja muak dengan tingkah mahasiswa asal Jakarta yang kuliah di PTN/PTS Jogja MOJOK.CO

Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah

20 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.