Dua bintang muda bulu tangkis Indonesia urung bersinar terang di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan. Namun, mereka mencoba memetik arti lain dari kekalahan yang mereka terima.
***
Mohammad Zaki Ubaidillah (Ubed) dari sektor tunggal putra dan Putri Kusuma Wardani (Putri KW) dari tunggal putri harus terhenti di babak 16 besar Daihatsu Indonesia Masters 2026. Langkah mereka terhenti di hari yang sama, Kamis (22/1/2026).
Di sektor tunggal, dua nama bintang muda ini sebenarnya digadang-gadang bakal bersinar di Daihatsu Indonesia Masters 2026.
Ubed bertekad mengerahkan kemampuan terbaik karena event ini menjadi debutnya di Istora Senayan. Sementara Putri KW, setelah memastikan lolos ke babak 16 besar, menegaskan akan habis-habisan.
Gema “Ayo jangan nyerah!” di Istora untuk Putri KW yang berkali-kali tersungkur
Saya menyimak penuh pertandingan Putri KW pada Kamis sore, menghadapi Huang Yu-Hsun dari Chinese Taipei.
Di tribun, teriakan-teriakan suporter menggema. Memberi dukungan pada Putri KW yang sejak gim pertama tampak kesulitan menguasai pertandingan.
Putri KW kalah 17-21 di gim pertama. Di gim kedua, terjadi drama saling kejar poin dengan atlet Taipei tersebut. Berkali-kali Putri KW bahkan harus tersungkur karena tak bisa mengatasi perlawanan yang diberikan Huang Yu-Hsun.

“Ayo jangan nyerah, Put!”
“Put, kamu pasti bisa, Put!”
“Tenang, Put, pelan-pelan!”
“Indonesia! prok-prok-prok-prok. Indonesia! Prok-prok-prok-prok.”
Di gim kedua, Putri KW memang sempat menumbuhkan asa setelah membalikkan asa secara dramatis dengan poin 21-19. Namun, di gim ketiga ia harus tumbang dengan poin 17-21.
Ubed dihajar peringkat 10 dunia di Istora Senayan
Sementara Ubed harus kalah dalam dua gim sekaligus saat menghadapi pebulu tangkis peringkat 10 dunia, Loh Kean Yew (Singapura).
Ubed sebenarnya punya dua modal penting saat menghadapi Loh Kean Yew. Pertama, bermain di rumah sendiri. Kedua, di perempat final SEA Games 2025 Thailand lalu, Ubed berhasil menumbangkan Loh Kean Yew dalam dua gim sekaligus.

Di gim pertama Ubed sebenarnya tampil berani. Hanya memang ia harus mengakui keunggulan lawan dengan poin tipis 19-21.
Sementara di gim kedua, pengalaman dan kematangan Loh Kean Yew yang bicara. Ia mampu mengontrol dan mendominasi jalannya pertandingan. Ubed tampak kesulitan keluar dari tekanan hingga ditekuk 10-21.
Lelah, kalah, dan hikmah
“Saya belum bisa menghasilkan yang terbaik karena lawan juga pasti mempersiapkan strategi dan pola bermain yang sangat luar biasa, karena tadi dari gim pertama sampai gim ketiga saya kesulitan,” jelas Putri KW menjelaskan situasi di dalam lapangan.
“Lawan sudah merancang strategi ambil bola dari depan dan bola atasnya itu jumping jumping, itu yang membuat saya kesulitan karena sedikit enggak kelihatan (arah bolanya),” sambung pebulu tangkis peringkat 7 dunia itu.

Di luar faktor tersebut, Putri KW mengaku kelelahan. Wajar saja, Daihatsu Indonesia Masters 2026 (Super 500) adalah turnamen ketiga Putri KW di bulan ini. Sebelumnya, Putri KW juga tampil di Malaysia Open (Super 1000) dan India Open (Super 750).
“Kelelahan itu pasti ada, tapi kan kita juga harus mengontrol, namanya juga pertandingan kan kita harus habis-habisan. Saya berusaha untuk bisa mengeluarkan semua permainan saya dan bisa kuat di lapangan,” beber Putri KW.
Meski urung bersinar, Putri KW mencoba memetik sisi lain dari kekalahan yang ia alami. Yakni, ia masih punya waktu untuk istirahat dan recovery lebih panjang, latihan lebih intensif, serta melakukan evaluasi atas performa di beberapa turnamen terakhir.
Pasalnya, Putri KW dijadwalkan akan turun di kejuaraan bergengsi internasional, All England 2026 pada Maret 2026 mendatang.
Belajar dari lawan
Di pihak lain, Ubed mengakui kalau sebenarnya targetnya di Daihatsu Indonesia Masters 2026 tidak tercapai. Ia ditarget bisa lolos perempat final atau bahkan melaju jauh.
Ubed juga mengakui, meski menang di turnamen sebelumnya, tapi dari segi pengalaman ia masih kalah dari Loh Kean Yew. Hal tersebut, kata Ubed, terlihat dari kemampuan lawan dalam mengatur tempo permainan dan mengendalikan situasi saat berada di bawah tekanan.
“Mungkin kalau dibilang, saya masih kalah pengalaman. Saya belum bisa benar-benar melawan tempo permainan dia,” tutur Ubed.

“Di SEA Games dulu saya bisa main lebih lepas, sementara di sini mungkin agak tegang, apalagi main di Istora dengan banyak penonton,” sambungnya.
Dari kekalahan itu Ubed merasa mendapat banyak pelajaran dan pengalaman berharga, perihal pengaturan tempo, kontrol permainan, serta cara menghadapi lawan yang lebih matang secara teknis maupun mental.
“Ada hal positif yang saya dapat. Saya belajar dari dia bagaimana cara menaikkan tempo permainan. Lalu, saat sedang tertinggal, bagaimana tetap bisa mengontrol lawan dengan mengatur pukulan, buangan, dan kecepatan,” ucap peraih medali perak SEA Games 2025 Thailand tersebut dengan senyum.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Indonesia Masters 2026 Jadi Tempat Merawat Kenangan Keluarga, Rela Cuti Kerja demi “Napak Tilas” Mendiang Ayah di Istora atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














