Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Upaya Mahasiswa UNY Mengatasi Luka Batin dan Amarah pada Hidup Lewat Puisi

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
18 Desember 2024
A A
Jurusan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) membaca puisi. MOJOK.CO

Ilustrasi - mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berpuisi karena marah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Puisi tak hanya berisi kumpulan sajak yang lebay. Ia bisa menjadi media bagi seseorang untuk mengekspresikan perasaan mereka. Bagi mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), puisi dapat menyembuhkan luka batinnya.

***

Pernah melihat kisah Rangga dan Cinta dalam film Ada Apa dengan Cinta (AADC)? Cerita cinta dua remaja di masa SMA itu masih mengenang di hati para penonton.

Rangga yang diperankan oleh Nicholas Saputra dan Cinta yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo, berhasil membuat penonton terbawa perasaan (baper) ketika saling mengirim puisi lewat surat.

Misalnya lagi, kalau ingin film yang lebih baru, ada Dilan 1990 yang diperankan oleh Iqbal Ramadhan. Dalam film itu, Dilan mampu memikat hati Milea lewat puisinya.

Meskipun terdengar klise tapi Psikolog David Comer Kid dan Emanuele Castano pernah membuktikan, bahwa dengan membaca fiksi sastra dapat meningkatkan empati.

Fiksi sastra tak hanya merujuk pada novel, tapi juga puisi. Keduanya berujar fiksi sastra dapat membuat seseorang lebih cepat mendeteksi dan memahami emosi orang lain.

Meskipun para psikolog itu melakukan percobaan kepada seribu orang peserta di New York, Janu (25) sempat membuktikannya. Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu kini lebih berani mengungkapkan perasaannya lewat puisi.

Menyatakan cinta lewat puisi

Ketertarikan Janu dengan puisi bermula dari bacaan pertamanya. Dia tak sengaja menemukan buku berjudul Sayap-sayap Patah karya Kahlil Gibran di perpustakaan sekolah.

Bak tokoh Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta, Janu juga menyatakan cinta kepada dambaan hatinya lewat puisi. Kalau sebagian orang merasa puisi itu lebay, Janu tak berpikir demikian.

“Aku mulai suka membuat puisi dari zaman SMA, ketika aku jatuh cinta dengan wanita,” ujarnya.

Janu menempuh pendidikan di sekolah teknik menengah (STM) yang mayoritas diisi oleh laki-laki. Saat itu dia merasa kehidupannya mulai gersang, sampai dia bertemu gadis SMA yang menurutnya cantik.

“Setiap pulang sekolah tuh aku ngasih puisi yang idenya aku buat dari buku Sayap-sayap Patah itu,” ucap mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu.

Dari sana, Janu mengaku mulai berani mengungkapkan perasaannya. Apalagi, saat melihat respon perempuan tersebut yang dengan senang hati menerima puisinya.

Iklan

Psikolog Kidd dan Castono menjelaskan dalam fiksi sastra, ketidaklengkapan karakter membuat pembaca mencoba memahami pikiran orang lain.

“Fiksi sastra memungkinkan anda memasuki lingkungan baru dan anda harus menemukan jalan anda sendiri,” ujar Kidd.

Mungkin itu juga yang dialami perempuan idaman Janu. Berkat memahami perasaan Janu, perempuan itu pun luluh hatinya. Tak lama kemudian, mereka berpacaran. Saat itulah Janu tahu, perempuan tersebut mengoleksi puisi-puisinya.

Pelipur lara bagi mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY

Ketertarikan Janu terhadap puisi tak berhenti sampai akhirnya mereka berpacaran. Terlebih, hubungannya dengan perempuan tersebut tak bertahan lama.

Meski sudah putus, Janu mengaku tetap menyukai puisi. Bahkan di kala hatinya pilu, dia justru terinspirasi menyalurkan perasaannya lewat puisi.

Setelah lulus SMA, dia pun kuliah di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyajarta (UNY). Saat itu dia makin menggeluti dunia sastra, khususnya puisi.

“Dulu di kampus kan banyak komunitas yang senang berdiskusi soal puisi. Mereka juga sering mendiskusikan buku-buku,” ucap mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu.

Janu selalu tergelitik saat melihat diksi-diksi indah yang dia temui di jalan. Buru-buru dia mengeluarkan telepon genggamnya untuk mengetik diksi itu di notes agar tidak lupa. Catatan itu menjadi bahan bakarnya untuk menulis puisi.

Membahasakan perasaan seseorang

Janu merasa puisi dapat membahasakan apa yang tidak bisa dia katakan. Ibarat musik, puisi dapat menghiburnya. Misalnya, kata Janu, mendengarkan lagu Bernadya dapat meluapkan rasa sedihnya.

Begitu pula dengan puisi. Bahkan menurut Janu, kalimatnya bisa lebih mendalam ketimbang lirik lagu. Lebih-lebih kalau puisi itu dia buat dengan kalimatnya sendiri.

“Bagi orang-orang introvert yang nggak suka keramaian seperti aku tuh, puisi menjadi salah satu media alternatif untuk aku bercerita kepada orang lain. Apa yang aku rasakan,” ucap mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu.

Kebanyakan puisinya berisi tentang perasaan pribadi. Ketika dia merasa lelah menghadapi hari, Janu mulai menuliskan berbagai perasaannya seperti marah, sedih, dan senang.

Lambat laun, saat dia mulai beranjak dewasa, Janu lebih sering menuliskan puisi kemarahannya atas hidup. Salah satu puisinya berjudul Sebatang Rokok Sebelum Imsak. Begini isinya:

Pagi yang gigil sedikit kesiangan bangun sahur

Melahap nasi dan juga omong kosong keluarga

Duduk di teras menyalakan sebatang rokok

Asapnya mengepul memenuhi rongga pikiran yang kalut

Sebatang rokok sebelum imsak dan subuh

Aku dan sebatang rokok ini saling bertaruh

Siapa yang akan habis lebih dulu.

Merekam karya mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY

Setidaknya sudah ada sekitar 300 puisi yang Janu masukkan ke medium sejak tahun 2017. Beberapa coretan juga dia simpan di sticky notes, tapi ada juga yang dia buang.

“Karena kadang-kadang kayak cuman ya udah, pengen nulis aja,” katanya.

Di beberapa kesempatan, Janu bersama teman-temannya mulai mengikuti lomba dengan membuat kumpulan puisi. Dia dan sembilan orang teman kuliahnya membuat buku berjudul Melipat Agustus.

“Dan itu menang sayembara yang diadakan oleh Bentang Pustaka, tapi karena satu dua hal, bukunya tidak jadi terbit,” kata mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu.

Meski begitu, Janu dan teman-temannya masih mendapatkan uang pembinaan. Hal itu pun membuat semangatnya bertambah untuk mengikuti tantangan di Instagram.

Tantangan itu berupa membuat puisi selama 30 hari. Jadi setiap harinya, dia harus rutin mengunggah di akun pribadinya. Rencana itu sedang dia geluti saat ini.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Berjuang Mengejar Cinta dengan Terus Ngetwit Puisi Romantis

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 22 Desember 2024 oleh

Tags: Jurusan Sastra Indonesiamenulis puisiSastra Indonesia UNYuny
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP alumnus UNY. MOJOK.CO
Kampus

Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional

21 Januari 2026
5 Esai Terpopuler Mojok 2025 (Mojok.co/Ega Fansuri)
Esai

5 Esai Terpopuler Mojok 2025: Sebuah Rekaman Zaman dan Keresahan Lintas Generasi

1 Januari 2026
Didikan bapak penjual es teh antar anak jadi sarjana pertama keluarga dan jadi lulusan terbaik Ilmu Komunikasi UNY lewat beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO
Kampus

Didikan Bapak Penjual Es Teh untuk Anak yang Kuliah di UNY, Jadi Lulusan dengan IPK Tertinggi

29 Desember 2025
UAD: Kampus Terbaik untuk “Mahasiswa Buangan” Seperti Saya MOJOK.CO
Esai

UNY Mengajarkan Kebebasan yang Gagal Saya Terjemahkan, sementara UAD Menyeret Saya Kembali ke Akal Sehat Menuju Kelulusan

16 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

bpjs kesehatan.MOJOK.CO

Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

5 Februari 2026
blok m jakarta selatan.mojok.co

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
tan malaka.MOJOK.CO

Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi

6 Februari 2026
Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO

Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

4 Februari 2026
Krian Sidoarjo dicap bobrok, padahal nyaman ditinggali karena banyak industri serap kerja dan biaya hidup yang masuk akal MOJOK.CO

Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

5 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.