Desisan menggelikan di telinga
Karena penasaran, di kos murahnya di Taman Siswa, Kota Jogja, itu Rami malah sering sengaja menunggu lewat tengah malam.
Memang tidak hampir setiap malam. Tapi amat sering ia mendengar suara-suara semacam itu. Kadang hanya bunyi “ceplak-ceplok”, sesekali bercampur suara laki-laki dan perempuan mendesis bersahut-sahutan.
“Geli di telinga. Tapi penasaran hahaha,” ucap Rami. Tapi ya lama-lama ia terbiasa juga. Walaupun ada nelangsa-nelangsanya sedikit karena masih jomblo sejak SD hingga di umur 24 tahun.
Saling pukul di kamar, tak ada yang peduli
Jika bunyi dan suara tengah malam itu membuat Rami penasaran, beda dengan suara lainnya yang ia dengar di kos murah Taman Siswa, Kota Jogja tersebut.
Pernah suatu kali ia mendengar suara ribut dari kamar lain. Terdengar keras sekali suara laki-laki dan perempuan saling membentak.
Rami juga menduga terjadi kekerasan di sana. Walaupun ia tak bisa memastikan, siapa yang memukul dan siapa yang sebenarnya dipukul. Yang jelas, ia mendengar ada suara tamparan, jeritan, bahkan sampai membentur triplek yang jadi pembatas. Untung tak sampai roboh.
“Aku intip ke luar kamar, penghuni lain nggak peduli. Aku ya nggak berani kalau mau ikut campur. Kecuali kalau ada suara minta tolong, pasti aku panggil pemilik kos,” akunya. Karena rumah si pemilik kos memang tidak berdekatan dengan lokasi kos.
Mencoba bertahan malah terusir gara-gara sengketa warisan
Meski begitu, nyatanya Rami bisa betah di kos murah Tamsis, Kota Jogja tersebut hingga tiga bulan. Tidak ada pilihan lain. Sementara itu kos paling murah yang bisa ia dapat.
Sayang, di saat Rami sudah mencoba berdamai dengan segala situasi di kos tersebut, situasi paling tak terduga lain malah datang.
Suatu hari tiba-tiba ada seseorang—bukan pemilik kos yang ia kenal—yang meminta agar penghuni kos segera meninggalkan kos tersebut. Dikasih waktu 1×24 jam. Rami tentu bingung, siapa orang ini kok tiba-tiba mengusir paksa?
“Dari penghuni lain yang lebih lama tinggal, baru aku tahu ternyata itu saudara pemilik kosnya. Bangunan dan tanah kos itu ternyata jadi sengketa warisan keluarga. Jancuk tenan,” jelas Rami.
Walhasil, mau tak mau Rami harus mengangkut barang-barangnya. Numpang lagi ke kos teman.
***
Rami kini sudah pindah tempat kerja dengan gaji lebih layak. Ia pun mulai tak mikir-mikir untuk mencari kos di harga Rp500 ribu-Rp600 ribuan.
“Tapi setiap kali melintasi kos lama di Taman Siswa, aku sering geleng-geleng kepala sambil tertawa-tertawa sendiri. Ada-ada saja hidup di perantauan ini,” tutup Rami.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Derita Tertipu Kos Campur Bebas Berkedok Kos Pria Muslim di Jogja, 5 Tahun Kerap Dengar Tangis dan Rintih Saat Malam atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














