Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Keramahan di Sepanjang Jalan Rembang-Jogja yang Sulit Ditemui Saat ke Surabaya

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
6 Februari 2024
A A
Ironi Jalan Persatuan UGM: Di Area Kampus, tapi Bikin Resah Mahasiswa dan Tak Ramah Perempuan.MOJOK.CO

Ilustrasi - Ironi Jalan Persatuan UGM: Di Area Kampus, tapi Bikin Resah Mahasiswa dan Tak Ramah Perempuan (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Perjalanan motoran dari Rembang ke Jogja ternyata memberi kesan tersendiri perihal keramahan orang-orang di sepanjang jalan. Keramahan yang, setidaknya buat saya pribadi dan dua teman saya, agak berbeda dengan saat melakukan perjalanan ke Surabaya.

***

Setidaknya sudah empat kali saya motoran dari Rembang, Jawa Tengah ke Jogja. Yang paling baru adalah pada Senin, 29 Januari 2024 lalu.

Sementara kalau ke Surabaya, tentu tidak terhitung sudah berapa kali sejak saya kuliah pada 2017 silam.

Dan dari dua rute perjalanan yang berlawanan tersebut, saya punya penilaian tersendiri perihal orang-orang yang saya temui di sepanjang jalan.

Saling tegur sapa meski tak kenal

Setelah keluar dari Rembang, nyaris sepanjang jalan hujan mengguyur tanpa henti dari kabupaten ke kabupaten yang saya lalui untuk menuju ke Jogja. Benar-benar tak ada satu daerah pun yang tak basah.

Alhasil, saya pun harus banyak berhenti untuk berteduh jika hujan yang mengguyur rapat dan deras.

Namun, motoran sendirian dan kehujanan di sepanjang jalan nyatanya tak membuat saya merasa nelangsa-nelangsa amat.

Sebab, setiap berteduh, ada saja orang—yang tentu saya tak kenal—mengajak berbincang, begitu akrab, seolah kami pernah kenal sebelumnya.

Seperti misalnya saat saya memasuki Kudus, Jawa Tengah. Beberapa saat sebelum melintasi jembatan ikonik “Kudus Kota Kretek”, awalnya hanya gerimis kecil-kecil. Sehingga saya masih berani untuk menerabas.

Akan tetapi, persis saat melintasi jembatan, gerimis kecil-kecil tadi seketika berubah jadi hujan deras. Saya pun lantas sesegera mungkin memacu motor, mencari tempat berteduh terdekat.

“Weh, bawa tas gunung, mau muncak po, Mas? Jangan nekat, Mas, musimnya kayak gini,” ujar seorang pria gemuk di samping saya saat kami sama-sama berteduh di sebuah mini market.

“Mboten (tidak), Mas, mau ke Jogja,” jawab saya sembari tersenyum.

Tak lama setelah itu, pria berumur kisaran 30an tahun itu menyodori saya sebatang rokok yang baru saja ia beli dari mini market tersebut.

Iklan

Lantas, kami pun berbincang panjang sembari menunggu hujan sedikit mereda. Sesekali juga melempar candaan

Bahkan, ia sempat berpamitan saat hendak melanjutkan perjalannya ke Semarang.

“Aku disik (duluan), Mas. Alon-alon wae (Pelan-pelan saja),” ujarnya.

Kepedulian pada musafir yang kehujanan

Tak berhenti di situ, hujan deras pun memaksa saya harus kembali berhenti dan mencari tempat berteduh saat saya tiba di Kopeng, Jawa Tengah.

Saya sempat bingung harus berteduh di mana. Lantaran tak ada mini market atau toko dengan emperan luas yang bisa dijangkau untuk berteduh.

Maka, saya pun berteduh ngasal di teras rumah warga setempat.

Keramahan di Sepanjang Perjalanan Rembang-Jogja yang Sulit Ditemui Saat ke Surabaya MOJOK.CO
Ilustrasi – Menemukan keramahan dala perjalanan Rembang ke Jogja yang tak ditemui di Surabaya. (Aly Reza/Mojok.co)

“Masuk sini aja, Mas. Deres, pasti lama itu.” Suara itu datang dari dalam rumah, sedikit mengagetkan saya yang berdiri menggendong tas gunung sembari mendekap tas berisi laptop.

“Oh nggeh, Bu, matur nuwun. Mpun teng mriki mawon (Oh iya, Bu, terima kasih. Sudah di sini saja),” belas saya.

Mendengar jawaban saya, ibu-ibu—kira-kira berumur 40an tahun lebih sedikit—itu keluar menghampiri, menanyakan dari mana dan hendak ke manakah saya pergi.

“Ya sudah, kalau pegel berdiri, masuk saja, duduk di ruang tamu. Saya tinggal masuk dulu,” tuturnya kemudian.

Keramahan saat ke Jogja yang sulit ditemui saat ke Surabaya

Dua hal di atas adalah keramahan-keramahan yang amat jarang saya alami saat perjalanan dari Rembang ke Surabaya, Jawa Timur (atau sebaliknya). Dalam kasus ini adalah saat melintasi Pantura.

Jika kebetulan saya berhenti di mini market dan duduk bersebalahan dengan seseorang, tak akan ada percakapan yang terjadi. Kecuali jika saya lah yang mencoba mengajak berbincang duluan.

Namun, itupun menjadi sesuatu yang riskan. Karena bisa jadi sapaan saya justru dianggap mengganggu dan terkesan sok akrab. Sebab, demikianlah yang sering teman saya, Sohib (26) alami.

“Pernah nyoba nyapa (saat duduk dengan orang asing di mini market), tapi dari gelagat dan caranya menjawab kayak kurang nyaman,” katanya.

Sohib sendiri sudah beberapa kali motoran dari Surabaya-Rembang (juga sebaliknya) dan Rembang-Yogyakarta (juga sekitarnya), saat kami sama-sama masih suka ekspedisi mendaki gunung-gunung di Jawa Tengah berdua.

“Memang terasa bedanya. Kalau jalan ke Jawa Tengah, rasanya orang-orangnya lebih hangat dan ramah. Ini subjektif loh. Bukan berarti aku menganggap orang Jawa Timur nggak ramah,” lanjutnya.

“Kalau di Jawa Timur, khususnya di Surabaya ya, harus kenal dulu baru bisa saling sapa dengan akrab.” tuturnya.

Pun jika ada kasus berteduh di teras orang seperti yang saya alami, jika si pemilik rumah tahu pun pasti hanya sekadar tahu.

“Memang tidak melarang, hanya saja seperti nggak peduli,” sambung Sohib.

Keramahan di Jateng-Jogja yang tulus dan tak patut dicurigai

Ada satu momen yang paling Sohib ingat saat ekspedisi mendaki gunung-gunung di Jawa Tengah, yakni saat ia baru saja turun dari Gunung Sumbing via Butuh, Kaliangrik di tengah musim hujan pada 2022 silam.

Dalam perjalanan meninggalkan kawasan pendakian, hujan deras tak pelak membuat tubuhnya basah kuyup dan sedikit menggigil.

Lalu seorang bapak-bapak petani yang mengendarai motor modifan khas motor-motor warga lereng gunung mendekati motor Sohib yang melaju pelan.

“Kalau kedinginan mampir rumah saya dulu, di depan sana. Ada api unggun buat menghangatkan badan. Kira-kira begitulah yang si bapak bilang,” beber Sohib menirukan apa yang si bapak petani ucapkan.

“Gak curiga sama sekali. Karena setelah beberapa kali mendaki di Jateng, ternyata keramahan mereka tulus,” ungkapnya.

Dan benar saja, si bapak-bapak petani itu benar-benar mempersilakan Sohib untuk berteduh dan menghangatkan badan di rumahnya.

“Seingatku malah dibuatin teh anget juga. sSi bapak nawarin makan juga. Terus ngobrol-ngobrol,” ucapnya mencoba mengingat-ingat.

“Dan ini jarang aku temui saat mendaki di Jatim. Jarang ya, bukannya nggak ada (keramahan) sama sekali,” pungkasnya.

Sohib juga mengaku memiliki kenangan hangat saat singgah di Yogyakarta beberapa kali.

Saat berkunjung di beberapa tempat wisata, tiap berpapasan dengan warga lokal, pasti ia sering menerima sapaan “monggo” atau sekadar anggukan kepala dan senyum ramah dari mereka

Kehangatan di Jogja yang sulit ditemui di Surabaya

Teman saya yanga lain, Dzikri (23), mengungkapkan hal yang kurang lebih sama.

Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga itu menyebut bahwa di Yogyakarta, sesimpel kita duduk di depan pintu kamar kosan saja, pasti orang-orang dari kamar sebelah akan “permisi” lebih dulu jika hendak lewat di depan pintu kamar kita.

“Pas aku nginep di kosmu (di Surabaya), kayak nggak kenal yawis (yasudah) nggak kenal. Cuek aja,” ungkap pemuda asal Rembang itu.

“Orang-orang di Jogja itu ramah. Yang gathel biaya hidup dan UMR-nya” imbuhnya sembari menahan tawa.

Reporter: Muchamad Aly Reza

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Surabaya Tidak Selalu Indah, Masih Banyak Hal Negatif yang Membuat Warganya Resah dan Putus Asa

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 6 Februari 2024 oleh

Tags: Jogjapilihan redaksirembangSurabayaYogyakarta
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO
Ragam

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)
Pojokan

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO
Ragam

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO
Ragam

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

indonesia masters 2026, badminton.MOJOK.CO

Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

19 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa MOJOK.CO

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

19 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.