Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Jamu Ginggang Pakualaman, Pilihan Sehat Tanpa Pahit Obat yang Digandrungi Anak Muda Jogja

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 Juni 2024
A A
Jamu Ginggang Pakualaman, Pilihan Sehat Tanpa Pahit Obat yang Digandrungi Anak Muda Jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi Jamu Ginggang Pakualaman, Pilihan Sehat Tanpa Pahit Obat yang Digandrungi Anak Muda Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Warung Jamu Ginggang Pakualaman sudah melegenda di Jogja. Eksis sejak 1920-an, pengelolanya kini merupakan generasi kelima. Dulu, para pembeli di warung ini kebanyakan adalah orang tua. Namun, sekarang wajah-wajah anak muda jauh lebih mendominasi.

***

Aroma khas empon-empon langsung tercium ketika saya masuk ke warung Jamu Ginggang Pakualaman, Kota Jogja, pada Kamis (6/6/2024) siang. Semerbak tersebut, rupanya berasal rempah kering yang dipajang di ruangan, bersebelahan langsung dengan kursi para pembeli.

Ciri khas warung yang menjual ramuan tradisional, pikir saya.

Ketika tiba, saya menjadi satu-satunya pengunjung. Beberapa bapak-bapak berseragam PNS dan sekelompok anak muda baru saja meninggalkan tempat duduk mereka tak lama setelah saya datang.

Jamu Ginggang Pakualaman, Pilihan Sehat Tanpa Pahit Obat yang Digandrungi Anak Muda Jogja.MOJOK.CO
Warung Jamu Ginggang Pakualaman, Kota Jogja, berdiri sejak 1920-an (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Saya pun langsung menyambar daftar menu yang terletak di masing-masing meja. Ada puluhan menu yang bisa dipesan. Sejenak, saya terdiam karena bingung menentukan pesanan. Jujur, Ginggangadalah warung jamu pertama yang saya kunjungi, seumur hidup.

“Kalau anak-anak muda, biasanya pesan yang manis, Mas. Ada beras kencur. Bisa ditambah campuran madu, telur, bisa juga pakai anggur,” kata seorang perempuan tua, seolah mengerti kebingungan saya.

Ida (60), nama perempuan tersebut, rupanya adalah sang peracik jamu di Ginggang Pakualaman. Puluhan tahun meracik ramuan herbal di tempat tersebut, Ida tahu betul karakter, keluhan, dan jamu seperti  apa yang dibutuhkan para pembeli mereka.

Karena tak ingin lama berpikir, saya pun memesan minuman sesuai rekomendasi Ida. Segelas es beras kencur, lengkap dengan campuran madu, anggur merah, dan telur.

Warung Jamu Ginggang yang masih tradisionalitas

Dirintis sejak 1920-an oleh seorang tabib Kraton Jogja, nuansa jadul warung jamu Ginggang masih dipertahankan hingga sekarang. Ida mengatakan, sejak 1950-an, bentuk ruangan bahkan belum mengalami perubahan signifikan. Pengelola hanya  mempermak beberapa bagian yang terlihat kusam, seperti cat dinding.

Sementara untuk alat dan cara pembuatan jamu, semuanya masih dilakukan secara tradisional. Lumpang batu, misalnya, masih mereka gunakan untuk menumbuk rempah-rempah. Begitu pula alat cuci dari batu tetap dipertahankan buat mencuci rempah yang baru datang. Entah benar atau tidak, konon, khasiat ramuan bisa lebih terasa kalau cara mengolahnya masih dengan cara kuno.

Di warung ini, rupanya Ida tak benar-benar meracik semua pesanan secara real time. Di dapur, berbagai jenis jamu sudah dibikin dan dipisahkan di wadah berdasarkan jenisnya. 

Jamu Ginggang Pakualaman, Pilihan Sehat Tanpa Pahit Obat yang Digandrungi Anak Muda Jogja.MOJOK.CO
Ida (60) tengah meracik jamu pesanan pembeli (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Misalnya, ia sudah dibedakan mana beras kencur, kunir asem, galian, paitan, sampai serbuk rahasia dan angin alias mentol yang juga dibikin dari bahan herbal. Semua jamu tersebut dibikin tanpa pengawet, pemanis buatan, dan hanya mengambil bahan rempah berkualitas dari Pasar Beringharjo.

“Saat ada pesanan, kita tinggal racik sesuai permintaan,” ujar Ida. “Ini pesanan masnya, saya ambil beras kencurnya. Tinggal ditambahin telur, madu, sama anggur,” sambungnya, sambil meracik jamu pesanan saya.

Iklan

Oleh karena itu, pesanan saya pun siap secara kilat. Kurang dari lima menit, beras kencur lengkap dengan madu, anggur, dan telur, sudah siap di meja saja.

Jamu Ginggang Pakualaman, Pilihan Sehat Tanpa Pahit Obat yang Digandrungi Anak Muda Jogja.MOJOK.CO
Beras kencur lengkap dengan madu, telur, dan anggur. Harga Rp17.000 (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Tak lama setelah pesanan saya tiba, situasi warung menjadi ramai. Banyak muda-mudi datang. Kata Ida, di antara mereka yang memang langganan tetap. Tapi ada juga wajah-wajah anyar yang baru ia lihat.

Ketagihan jamu karena susah minum obat

Dahulu, jamu memang lekat dengan stigma minumannya kaum sepuh. Namun, berkaca dari para pembeli warung jamu Ginggang, nyatanya banyak anak muda yang mulai menggemari ramuan herbal ini.

Salah satunya Oni (24), mahasiswa UAD yang sudah sejak SMP mulai menggandrungi jamu. Mahasiswa asal Jogja ini mengaku, ia memang susah minum obat. Padahal, semua metode sudah dicoba: digerus, pakai pisang, campur roti, dan sejenisnya.

“Tapi ya balik-balik lagi. Susah ketelen, pasti aku muntahin,” kata Oni, Kamis (6/6/2024).

Karena kesulitan itu, sejak SMP ia rutin mengganti obat dengan jamu. Awalnya memang jamu yang “manis-manis”, tapi lama-lama lidahnya mulai terbiasa dengan paitan alias jamu yang pahit.

“Mungkin sugesti, sih. Tapi jujur tiap sakit terus minum jamu, pasti langsung seger. Tubuh juga kerasa lebih fit juga, apalagi buat mahasiswa semester akhir yang sering begadang gini,” lanjutnya sambil tertawa.

Jamu Ginggang Pakualaman, Pilihan Sehat Tanpa Pahit Obat yang Digandrungi Anak Muda Jogja.MOJOK.CO
Sejumlah muda-mudi datang menikmati racikan herbal di warung ini. (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Oni termasuk rutin minum jamu di Ginggang, paling tidak dua sampai tiga kali seminggu. Bahkan, kelakarnya, ia lebih sering njamu ketimbang ngopi di coffee shop. 

Oni juga mengaku, awalnya dia kerap datang sendiri ke warung Jamu Ginggang. Namun, belakangan teman-teman kuliahnya juga mulai doyan minum jamu seperti dirinya.

Ramai anak muda sejak pandemi Covid-19

Rudi Supriyadi (60), sang pemilik warung Jamu Ginggang, menyebut sejak meneruskan usaha tersebut sejak 1950-an, pelanggannya kebanyakan orang tua. Kalaupun ada anak muda, bisa dihitung jari.

Namun, semua berubah ketika pandemi Covid-19. Sejak saat itu, entah bagaimana awalnya, mulai banyak anak muda yang datang ke warungnya.

“Tiap saya tanya, katanya biar kondisi bugar. Biar imun kuat dari virus gitu,” ungkap Rudi.

Hal itu kemudian berlanjut sampai sekarang. Para pembeli baru tadi, kini malah menjadi pelanggan setianya. Rudi juga menyebut, sekarang kalau dihitung, rata-rata pelanggannya adalah anak muda.

“Mungkin 60 persen itu anak muda. Kelihatan saja dalam sehari yang kelihatan beli itu anak-anak mahasiswa, bukan orang sepuh lagi,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Warteg Jogja Buyarkan Ekspektasi Perantau Surabaya, Rasa Masakan Tak Bisa Dibandingkan dengan Warteg Surabaya

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 6 Juni 2024 oleh

Tags: jamuJamu Ginggangjamu ginggang pakualamanJogjaobat herbal
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)
Pojokan

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO
Ragam

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO
Ragam

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

15 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.