Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Pengalaman Tak Terduga saat Tinggal Setahun di Bantaran Kali Code Jogja, Motor Parkir Sembarang Tak Hilang

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
30 Januari 2024
A A
Kali Code adalah Sebaik-baiknya Tempat Bertahan Hidup di Jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kali Code Jogja Tak Menawarkan Kemewahan, Tapi Memberi Harapan Para Perantau dan Mahasiswa untuk Bertahan Hidup (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di luar dugaan, tinggal di bantaran Kali Code Jogja yang dianggap kumuh ternyata tidak semengerikan itu. Bahkan, saya justru merasa nyaman dan terbayang untuk tinggal lagi di sana jika ada kesempatan.

Kali Code yang membelah Sleman, Kota Jogja, dan Bantul ini punya panjang sekitar 41 kilometer. Hulunya berada di kaki Gunung Merapi dan bermuara di Sungai Opak.

Permukiman di bantaran Kali Code kerap dianggap kumuh dan kotor. Di sebagian titik sungainya memang banyak sampah.

Namun, saya pernah mengontrak rumah di permukiman bantaran Kali Code dekat pusat Kota Jogja pada 2018 silam. Jika mengingat kembali, itu terkesan seperti pilihan yang cukup aneh. Pasalnya, saya bersama seorang teman kuliah di daerah Condongcatur, Sleman. Rumah kami, jaraknya barangkali tidak sampai 100 meter dari badan sungai.

Teman saya, menemukan kontrakan murah itu lewat OLX. Saat itu, harganya hanya Rp8 juta per tahun dengan spesifikasi dua kamar, satu kamar mandi, ruang tamu, dan dapur. Selain murah, saat itu kami terpikir untuk tinggal di pusat Kota Jogja agar akses ke mana-mana mudah.

Permukiman bantaran Kali Code yang aman

Kami tinggal di Kampung Jogoyudan, Jetis, Kota Jogja. Kampung yang padat dengan akses jalan yang cukup sempit. Salah satu tantangan awal terasa saat pindahan. Mobil pick up nyaris tidak muat masuk gang.

Namun, setelah itu kami mendapati bahwa kehidupan di sana terasa begitu hangat. Warganya ramah dan banyak anak-anak yang bisa bermain bebas di jalanan.

suasana tepi kali code.MOJOK.CO
Kehangatan suasana di permukiman tepi Kali Code (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Kehidupan kampung yang kami tinggali sepintas terlihat keras. Namun, ternyata sangat aman. Padatnya permukiman dengan lahan yang terbatas membuat kebanyakan rumah tidak punya garasi untuk parkir kendaraan.

Motor pun setiap hari kami parkir di pinggir gang depan rumah. Awalnya khawatir, tapi pemilik kontrakan meyakinkan bahwa daerah itu aman.

“Di sini hampir semuanya memarkirkan kendaraan di pinggir gang,” kata pemilik kontrakan.

Di kampung, ada beberapa tempat parkir bersama, namun tentu tidak cukup untuk mewadahi semua motor milik warga. Sehingga, pinggiran gang jadi pilihan utama.

Setahun tinggal di kampung bantaran Kali Code, bahkan sesekali lupa mengunci stang motor, ternyata tetap aman. Hal itu jadi salah satu pengalaman di luar dugaan bagi kami.

Tidak terganggu nyamuk

Awalnya saya sempat menduga bahwa tinggal di permukiman padat dekat sungai akan terganggu dengan nyamuk. Namun, ekspektasi itu terbantahkan selama tinggal di sana.

Lingkungan cukup bersih dan tidak ada genangan air dari got yang membuat nyamuk bersarang. Meski, ada gangguan lain dari tikus dan kecoak yang kerap datang. Pasalnya, bangunan rumah kami berada di kampung bagian bawah dengan sinar matahari yang tidak terlalu mencukupi.

Iklan

Tinggal di perkampungan padat membuat kami kerap berinteraksi dengan warga yang kebanyakan bekerja di sektor informal. Banyak di antara mereka yang bekerja sebagai ojol maupun tukang parkir. Bahkan, sesekali saya kaget saat sedang berada di kawasan sekitar Tugu Jogja dan Malioboro karena bertemu dengan bapak-bapak tetangga kontrakan yang sedang bekerja memarkirkan kendaraan.

Pengalaman tinggal di bantaran Kali Code sebagai perantau membuat kami melihat realitas kehidupan kebanyakan warga Jogja. Jauh dari ingar bingar kemewahaan pariwisata yang biasa digembor-gemborkan.

Tantangan di bantaran sungai Jogja

Memang, kami tinggal tidak persis di bantaran kali. Saya pernah berbincang dengan Rozi (22), lelaki yang dulu pernah ngekos persis di rumah tepi Kali Code. Begitu membuka jendela kamar, aliran sungai sudah terlihat.

Rozi tinggal di sana selama hampir enam bulan saat mengikuti bimbingan belajar khusus jelang seleksi masuk kuliah. Pasalnya, tempat bimbingan belajarnya berada di kawasan Kotabaru Jogja.

“Nggak bawa kendaraan jadi cari yang terjangkau dengan jalan kaki,” katanya.

Tinggal persis di pematang sungai membuatnya punya pengalaman yang berbeda dengan saya. Ia mengaku, Kali Code kadang mengeluarkan bau.

“Kadang kalau siang, begitu matahari terik, itu seperti bau comberan terangkat dari sungai,” kelakarnya.

Namun, selain hal itu baginya tidak banyak masalah saat tinggal di sana. Biasanya yang ngekos di perkampungan sekitar sana adalah pekerja.

Sebenarnya, saya dan rekan sempat ingin melanjutkan tinggal lebih lama di sana. Namun, ia mendapat pekerjaan yang memaksanya harus mencari tempat tinggal lain yang lebih dekat dengan kantornya. Sehingga, kami pun berpisah dengan kontrakan di tepi Kali Code.

kali gajahwong jogja.MOJOK.CO
Sisi lain, bantaran Kali Gajahwong di selatan Jogja saat musim hujan (Gusti Aditya/Mojok.co)

Kendati begitu, Kampung Jogoyudan yang termasuk permukiman di tepi Kali Code yang relatif tertata. Pasalnya, lokasinya berada di jantungnya Jogja. Jika menilik bantaran lebih ke selatan, situasinya bisa berbeda karena perhatian pemerintah tidak sebaik di kawasan pusat perkotaan.

Penulis: Hammam Izzuddin

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Nestapa Para Manusia Tanpa Rumah dan Ditinggal Keluarga yang Bernaung di Sekitar UGM Bertahun-tahun

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 30 Januari 2024 oleh

Tags: DIYJogjaKali Codepariwisata
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO
Ragam

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO
Ragam

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)
Pojokan

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO
Liputan

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

12 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.