Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Dari Jogja Mencari Harimau Jawa 10 Hari Membelah Ujung Kulon, Hutan Jadi Mencekam Saat “Mbah Gembong” Datang

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
4 April 2024
A A
harimau jawa di ujung kulon.MOJOK.CO

Ilustrasi harimau jawa (Ega/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Harimau jawa tidak pernah benar-benar punah. Itulah yang dipercaya segelintir pegiat konservasi sejak lama. Berbagai tanda dan kesaksian membuat mereka terus mencari. Termasuk pada 2018 dan 2019, saat berbagai elemen Mapala dari Jogja dan berbagai kota lain 10 hari membelah Taman Nasional Ujung Kulon.

***

Jauh sebelum geger temuan sehelai rambut yang punya DNA identik dengan harimau jawa baru-baru ini, sudah banyak kalangan yang berusaha membuktikan bahwa karnivora besar ini masih mendiami hutan-hutan lebat di Pulau Jawa. Salah satunya, Didik Raharyono yang sejak 1997, mulai mencari bukti eksistensi harimau jawa yang sudah dinyatakan punah oleh IUCN sejak 1980-an.

Berdasarkan sejumlah kesaksian, pada 1997 Didik melakukan pencarian di Taman Nasional Meru Betiri, Jawa Timur. Perjalanannya terus berlanjut hingga ke berbagai titik hutan di Pulau Jawa.

Upaya itu ia seriusi dengan menginisiasi Peduli Karnivor Jawa (PKJ) yang pada perjalanannya tidak cuma fokus pada harimau jawa melainkan pelestarian karnivora lain. Apa yang lulusan Biologi UGM ini lakukan kemudian memantik upaya serupa dari berbagai kalangan. Termasuk dari elemen Mapala, relawan, dan peneliti yang pada 2018-2019 lalu berusaha memverifikasi kesaksian dari ranger di Taman Nasional Ujung Kulon.

“Kebetulan saat di Ujung Kulon kami absen ikut. Kami saat itu konsentrasi ke dugaan harimau jawa yang ada di hutan jati Jawa Tengah,” tuturnya kepada Mojok, Rabu (3/4/2024).

Namun, ekspedisi “Menjemput Harimau Jawa” di  Blok Gunung Payung Semenanjung Ujung Kulon juga tak lepas dari pengaruh kegigihan Didik dalam mencari bukti keberadaan sang raja hutan tersebut. Fajar Kuncoro (34), salah seorang dari Jogja yang terlibat dalam perjalanan membelah hutan pada 27 Juni – 8 Juli 2018 itu kemudian membagikan cerita proses menantang saat mencari jejak-jejak karnivora besar itu.

Ekspedisi swadaya

Ekspedisi Menjemput Harimau Jawa diinisiasi oleh Yayasan Astacala, Kappala Indonesia, Peduli Karnivor Jawa (KPJ), dan sejumlah Mapala dari berbagai kota. Saat itu, Fajar berangkat dari Bingkai Indonesia, sebagai pihak yang dipercaya membantu proses dokumentasi.

Seperti ekspedisi di Meru Betiri dan titik lain sebelumnya, penjelajahan di Ujung Kulon berangkat dari kesaksian dan bukti dokumentasi. Pada 25 Agustus 2017 terdapat video dari petugas TN Ujung Kulon yang mengindikasikan keberadaan seekor anakan harimau jawa. Meski tangkapan gambar dalam video itu banyak dianggap mirip macan tutul, namun tim ekspedisi punya dugaan berbeda.

“Kalau lihat dari buktinya, kami ada asumsi bahwa itu tetap harimau jawa. Dari ukurannya memang masih anakan,” kata Fajar saat Mojok temui.

harimau jawa di ujung kulon.MOJOK.CO
Penampakkan harimau jawa di TN Ujung Kulon pada 1938 (Wikimedia Commons)

Selepas melakukan survei di lokasi Cidaon, Ujung Kulon, tim ekspedisi akhirnya melakukan upaya pengumpulan dana secara swadaya. Total, menurut Fajar, terkumpul sekitar Rp70 juta lewat berjualan beragam merchandise. Biaya itu, bisa mendukung proses penjelajahan di dalam hutan selama 10 hari.

Ekspedisi panjang membelah hutan belantara didukung dengan tim dengan kapasitas mumpuni di berbagai aspek penjelajahan alam. Para Anggota Mapala dari Universitas Telkom, UIN Syarif Hidayatullah, UIN Sunan Kalijaga Jogja, dan berbagai perguruan tinggi lain yang ikut masing-masing punya skil dalam aspek navigasi, vegetasi, dan berbagai kemampuan bertahan hidup di alam bebas.

Selepas melakukan beragam pembelakan di kawasan TN Ujung Kulon, mereka akhirnya berangkat masuk ke dalam hutan belantara. Peserta ekspedisi yang berjumlah 34 orang dibagi menjadi lima tim yang menyusuri hutan dengan rute yang berbeda.

“Di awal kami membelah teluk pakai kapal, untuk mempersingkat waktu karena jika jalan bisa 4 hari,” kata lelaki dari Jogja ini.

Iklan

Kotoran hingga cakar harimau jawa di sepanjang perjalanan

Salah satu tim yang terdiri dari penjelajah senior dengan kemampuan fisik mumpuni melakukan penjelajahan dengan rute terjauh. Satu tim lain menyusuri aliran sungai, sementara tiga tim lain berpencar melakukan perjalanan membelah Ujung Kulon dari utara ke selatan. Mereka kemudian merencanakan untuk berkumpul kembali di utara tepatnya di sebuah titik dekat muara sungai area Cidaon.

Sepanjang perjalanan, Fajar dengan regunya yang terdiri dari tiga orang menemukan beberapa jejak, kotoran, hingga bekas cakaran yang memperkuat dugaan eksistensi harimau jawa. Cakaran ia temukan di pohon kayu menyan.

“Dari ukurannya memang lebih besar dari macan tutul. Warga lokal juga bilang kalau harimau jawa itu suka dengan bau dari kayu menyan,” katanya.

anggota ekspedisi harimau jawa dari jogja.MOJOK.CO
Fajar, salah satu anggota dari Jogja pada ekspedisi “Menjemput Harimau Jawa” (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Fajar ingat, sekitar pada hari kelima perjalanan, ia menemukan semacam lorong yang tersusun dari tumpukan ranting dan daun kering. Dari ukurannya, lagi-lagi ia menduga bahwa itu bisa jadi tempat persinggahan harimau jawa.

“Selain itu sempat juga mencium bau bangkai, tapi kami tidak berhasil menemukan lokasinya. Yang jelas baunya cukup kuat,” terangnya.

Di perjalanan, regunya juga beberapa kali berjumpa dengan petapa yang sedang melakukan ritus spiritual di kawasan Ujung Kulon. Di pesisir selatan taman nasional ini memang terdapat sebuah tempat bernama Sri Sangyang Sirah yang konon jadi lokasi moksa Prabu Brawijaya 5.

Petapa yang ia temui di jalan juga punya cerita soal perjumpaannya dengan sosok yang diduga harimau jawa. Namun, lagi-lagi kesaksian tidak cukup untuk menjadi bukti keberadaan spesies yang sudah dinyatakan punah tersebut.

“Kalau kesaksian, ada sekitar 7 orang yang mengaku pernah melihat, termasuk dari kalangan warga lokal,” kata lelaki berambut gondrong tersebut.

Baca halaman selanjutnya…

Hewan besar seperti harimau jawa yang meneror perkemahan

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 6 April 2024 oleh

Tags: ekspedisi menjemput harimau jawaharimau jawaJogjaujung kulon
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO
Urban

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co
Pojokan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO
Urban

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia MOJOK.CO
Esai

Destinasi Baru Wisata Jogja: Dari Klitih hingga Perang Sarung, Harusnya Masuk Wonderful Indonesia

23 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Remehkan Supra X 125, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang Mojok.co

Jangan Remehkan Supra X 125 Lawas, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang

25 Februari 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya! MOJOK.CO

Minyak Jelantah Warga Jogja Kini Dibeli Pertamina Rp5.500 Per Liter, Cek 10 Titik Tukarnya!

23 Februari 2026
Honda Supra X 125

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa MOJOK.CO

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.