Bagi penggemar drama China (Dracin) ia bukan sekadar kisah percintaan “menye-menye” biasa, tapi cara “healing” sederhana untuk menghadapi hidup.
Dracin cocok untuk penghilang stres
Dalam wawancaranya bersama Putri Tanjung, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap pernah menonton Dracin yang berdurasi pendek saat stres guna menghibur diri.
“Kalau stres, dugaan saya ya, saya itu nonton drama China yang pendek-pendek itu. Menghibur, kadang-kadang ceritanya mirip-mirip, tapi tonton aja udah,” ucapnya.
Belakangan ini masyarakat Indonesia memang gemar-gemarnya menonton Dracin maupun Drakor. Secara umum, Drakor memiliki 16 hingga 20 episode. Sementara, Dracin memiliki lebih banyak episode sekitar 25 hingga 50 episode.
Namun, seperti yang dikatakan Purbaya, Dracin memiliki durasi tayang lebih pendek yakni sekitar 30-45 menit, daripada Drakor yang berdurasi 60-90 menit.
Senada dengan Purbaya, Dwi (25), perempuan asal Surabaya ini mengungkap sebetulnya masih sering gonta-ganti drama, dari Negeri Ginseng ke Negeri Tirai Bambu. Tergantung mood, kata dia, sebab keduanya memiliki kisah unik masing-masing.
“Cuman kalau aku lagi pusing banget sama kehidupan, misalnya suntuk dan capek, pilihanku ya Dracin soalnya drama percintaannya bikin aku rileks,” ujar Dwi, Senin (5/1/2026).
Dwi tak menampik banyak orang yang menganggap kisah di Dracin terlalu lebay atau “menye-menye”, tapi bagi seorang wiraswasta seperti dia, Dracin masuk daftar alasannya agar bahagia menjalani hidup.
“Untuk mbak-mbak usia 25 tahun yang pusing banget sama kehidupan, apalagi yang isinya cuman kerja, kerja, dan kerja, Dracin ini jadi cara healing tersendiri buat aku. Kasarannya, semacam penyembuh luka dari kejamnya dunia,” kata Dwi.
Kisah cinta yang menyembuhkan luka masa lalu
Selama 2 tahun ini, Dwi sudah menonton sekitar 30 judul Dracin yang berbeda. Misalnya, “Hidden Love”, “When in Fly Towards You”, hingga “The First Forst”. Judul terakhir yang ia sebutkan itu jadi salah satu Dracin favoritnya.
“The First Forst” bercerita soal trauma masa lalu tokoh perempuan (Wen Yifan) yang pernah mengalami pelecehan. Ketika dewasa, ia bertemu kembali dengan teman laki-laki SMA-nya yang pernah ia taksir (Sang Yan). Dari sanalah kisah cinta dan proses penyembuhan luka dari masing-masing tokoh dimulai.
“Aku bisa melihat karakter ‘Yifan’ ini pada diriku sendiri. Dari situ aku belajar buat menyembuhkan diri dari luka masa laluku. Dan itu memang nggak mudah,” ujar Dwi.
Kisah Yifan dan Yan juga membuat Dwi sadar bahwa tidak apa meminta bantuan dari orang sekitar. Tidak apa pula membiarkan orang lain masuk dan hadir di hidup kita, jika niatnya memang baik untuk membantu.
“Dari Dracin aku merasa mendapat ‘pelukan’ hangat, agar lebih kuat dan bisa menerima masa laluku,” kata Dwi.
Dracin mengingatkanmu agar tidak halu
Berbeda dengan Dwi yang ingin menghadapi masa lalunya dengan menonton Dracin, Ines (24) merasa seolah bisa kabur dari kenyataan hidup meski tak berlangsung lama. Namun, dari Dracin itulah ia bisa menghadapi kenyataan kembali.
Selama satu tahun terakhir, Ines berhasil menghabiskan 50 judul Dracin yang hampir seluruh ceritanya berakhir bahagia. Di mana tokoh utama pasti mendapatkan sesuatu yang dia inginkan asal mau bekerja keras. Baik itu meraih cita-cita, pujaan hati, hingga harga diri untuk diakui.
“Pokoknya yang baik akan selalu menang dan yang jahat akan selalu mendapat konsekuensi atau akibat dari perbuatannya. Masalahnya, dunia hari-hari ini nggak bekerja demikian. Jadi jangan halu!” kata Ines.
Selain itu, ujar Ines, alur cerita Dracin juga mudah ditebak sehingga membuat mereka merasa bahagia dibanding Drakor yang terkadang punya plot twist atau misteri.
Pelarian dari kehidupan yang tegang
Urban Cultural Interpreter, Dhahana Adi Pungkas berujar antusiasme masyarakat Indonesia terhadap Drakor maupun Dracin meningkat karena adanya gejala latah sosial terutama pada generasi muda. Artinya, masyarakat kerap meniru budaya yang sedang menjadi tren sehingga menular secara cepat dan masif.
“Drakor dan Dracin sering kali menjadi cermin aspirasi, sekaligus pelarian dari ketegangan hidup sehari-hari (coping mechanism). Maka dari itu peniruannya tidak sekadar spontan, tapi berakar pada kebutuhan akan imajinasi dan identitas baru masyarakat,” ujar Dhahana dikonfirmasi Mojok.co, Senin (5/1/2026).
Fandom Cultural Researcher, Dimas Ramadhiansyah juga menjelaskan Dracin kini tak hanya sebagai hiburan, tapi bisa menjadi medium bagi penonton untuk membayangkan kehidupan alternatif yang berbeda dari konteks lokal mereka sendiri.
“Penggemar akhirnya memiliki posisi imajiner yang menghubungkan imajinasi mereka dengan budaya global, sekaligus memperluas pengalaman emosional yang tidak selalu dapat diperoleh dari lingkungan sosial lokal,” tutur Dimas.
Penjelasan Dhahana dan Dimas menegaskan alasan Dwi dan Ines menyukai Dracin bukan sekadar FOMO, melainkan ada makna yang lebih mendalam dari sekadar menonton percintaan “menye-menye”. Seperti cara Dwi mengobati luka masa lalunya dan Ines yang belajar menerima kenyataan hidup.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Sulitnya Masuk Jurusan Bahasa Mandarin Unesa, Terbayar usai Lulus dan Kerja di Perusahaan Tiongkok atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














