Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Aku Diremehkan Cuma Karena Hobi Baca Komik, Sampai Kini Jadi Jalanku Buat Lulus Kuliah

Dwi Akbar Setiawan oleh Dwi Akbar Setiawan
13 November 2024
A A
Aku Diremehkan Cuma Karena Hobi Baca Komik, Sampai Kini Jadi Jalanku Buat Lulus Kuliah.MOJOK.CO

Ilustrasi - Aku Diremehkan Cuma Karena Hobi Baca Komik, Sampai Kini Jadi Jalanku Buat Lulus Kuliah (Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Salahkah jika saya kecanduan baca komik? Mungkin ini hanya keluh kesah saya, karena saya merupakan salah satu orang yang kecanduan membaca buku komik.

Saya termasuk “pecandu” yang tidak tahu tempat dan waktu. Selama ada jeda kosong, duduk maupun berdiri, saya selalu sempatkan buat membaca. Sebelas dua belas lah dengan Wapres Gibran yang konon juga gemar melumat komik.

Tidak peduli saat mengantri di Indomaret, makan di cafe atau burjo, bahkan saat menonton film sekalipun, saya masih bisa menyempatkan diri untuk membaca potongan chapter. Hal seperti ini yang membuat saya dinilai sebelah mata oleh teman-teman saya.

Sulit untuk minder saat sudah dibilang begitu. Apalagi, saya selalu mengaitkan konotasi candu sebagai hal yang buruk. Walaupun membaca sendiri adalah hal yang baik, awalnya saya tidak yakin kalau komik termasuk salah satu yang baik. Beda dengan baca buku-buku berat, nonfiksi, maupun sastra berkelas.

Sering sekali saya ditegur perkara kecanduan baca komik

Teman-teman kerap menganggap saya tidak bisa fokus terhadap satu hal jika sudah membaca komik. Karena hal itu, saya sering ditegur oleh mereka. 

Misalnya, saat itu kami sedang makan di sebuah burjo. Bukannya makan sambil mengobrol, saya malah makan sambil sibuk membaca, baik komik fisik maupun digital melalui HP saya.

“Masa iya, lu tiap berapa menit baca. Hidupmu kayak ngga tenang kalo sehari belum baca komik”, kata teman saya sambil tertawa mengejek. 

“Kalo makan sama temen, ya ngobrol! Jangan liat hp mulu, ga sopan soalnya.” 

Mendengar hal ini terus terusan membuat saya kaget. Sebab, dari kecil saya tidak terlalu memikirkan kalau membaca komik bisa bikin dianggap tak sopan. Lagipula, saya sudah membaca komik sejak kelas 3 SD. Kebiasaan saya baca komik ini jarang dikomentari ataupun dimarahi.

Rela keluar duit banyak demi beli komik

Saya dulu selalu menabung untuk membeli komik. Mulai dari Donald Duck, Doraemon, Naruto, Ben 10, hingga Batman. Sebagai anak kelas 3 SD, mau tak mau saya kudu menabung dulu untuk membeli satu komik bekas.

Biasanya saya membeli komik-komik ini di toko loakan daerah Ponorogo. Satu komik saya beli dengan harga Rp14 ribu–uang yang saya dapatkan dari hasil menabung selama seminggu.

Selain komik fisik, saya juga gandrung dengan komik web. Bahkan, saya rela untuk menghabiskan beberapa uang untuk membaca komik sehari lebih cepat di Webtoon. Setiap bulan saya bisa habis Rp30 ribu sampai Rp100 ribu hanya demi membaca komik di Webtoon–belum dengan pajak. 

“Anjing! Nggak betah ‘kah nunggu satu minggu biar baca gratis? Uang segitu mending buat makan,” kata teman saya, terheran-heran.

Begadang dua hari hanya agar bisa mengejar 800 chapter

Omon-omon soal “gila komik”, ingatan saya selalu menuju ke masa SMA. Bahkan kalau boleh dibilang, masa-masa SMA adalah puncak dari kecanduan saya, melebihi sekarang. Misalnya, saking gilanya, saya pernah begadang dua malam hanya untuk menamatkan chapter komik.

Iklan

Sejujurnya, begadang dua malam itu hal yang mungkin wajar-wajar saja, jika ada gunanya–sebagaimana lagu Rhoma Irama. Namun, begadang saya mungkin terdengar konyol karena demi mengejar 800 chapter komik Kingdom. Padahal, waktu-waktu itu mendekati UTBK.

Awalnya, saya tak bisa fokus mempersiapkan UTBK karena di kepala saya terngiang-ngiang chapter demi chapter di komik Kingdom. Namun, saya juga tak bisa fokus membaca komik, karena kepikiran UTBK. Alhasil, dari 800 chapter di komik tersebut, hanya 200 yang bisa saya baca dalam waktu hampir sebulan.

Alhasil, pada malam di mana saya bedagang selama dua hari itu, 600 chapter sisanya saya sikat habis. Tujuannya, biar saya plong: tidak kepikiran lagi dengan isi komik dan bisa fokus UTBK.

Komik membuka jalanku lulus kuliah di UNS

Membaca komik masih menjadi rutinitas saya hari ini, meskipun memang tak seintens dulu. Jika dulu saya bisa menghabiskan 15 komik dalam sebulan, sekarang paling banyak hanya tujuh judul.

Meski kerap dipandang sebelah mata, toh, kegemaran baca komik malah membuka jalan saya untuk lulus kuliah di Jurusan Sastra Inggris UNS. Bagaimana tidak, topik skripsi saya adalah soal komik. 

Sejak awal, saya memang sudah berniat mengerjakan skripsi sesuai dengan hal favorit saya, yakni baca komik. Bagi saya, tema-tema dalam komik cukup luas dan bahkan bisa menyentuh masalah-masalah yang terbilang kompleks. 

Pada pertengahan 2024, saat memasuki semester lima, saya mulai mencari bahan-bahan untuk skripsi. Saya memutuskan untuk memilih komik berjudul Garden of the Dead Flowers (2020) sebagai bahan skripsi. Garden of the Dead Flowers merupakan komik asli Indonesia yang sudah rilis di Webtoon internasional

Saat saya mencoba berkonsultasi dengan dosen pembimbing, beliau terlihat girang. Tentunya ini berita baik, sampai saya diarahkan untuk mengambil pendekatan yang dalam skena sastra dianggap sulit, yakni multimodality. Konon, di antara teman satu kelas, hanya saya yang mengambil pendekatan multimodality untuk skripsi.

Penulis: Dwi Akbar Setiawan

Editor: Ahmad Effendi

Catatan:

Liputan ini diproduksi oleh mahasiswa Program Magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo periode Oktober-November 2024

BACA JUGA Orang Indonesia Meremehkan Komik Sementara Tsubasa dan Doraemon Mengubah Dunia

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 13 November 2024 oleh

Tags: baca komikkomikwebtoon
Dwi Akbar Setiawan

Dwi Akbar Setiawan

Artikel Terkait

Pameran buku anak termasuk komik. MOJOK.CO
Ragam

Komikus Era 80-an Akui Sulitnya Membuat Karya di Masa Kini, bahkan Harus Mengamati Lewat Drakor untuk Kembangkan Cerita Anak

15 November 2025
Komik Indonesia di tengah popularitas Manga dan Manhwa MOJOK.CO
Ragam

Manga dan Manhwa Semakin Populer di Kalangan Anak Muda, ke Mana Komik Karya Indonesia?

20 September 2025
Keruntuhan komik di Indonesia disebut gara-gara Manga, padahal pemerintah sendiri MOJOK.CO
Ragam

Komik Jadi Bacaan Populer di Indonesia Sejak 50-an, Diruntuhkan karena Cap “Dewasa”

17 September 2025
Cerita di Balik Kesuksesan Komik Kamvret: Sempat Mencoba Jadi Guru, tapi Demam Panggung, Kini Bisa Servis Motor dari Hasil Bikin Komik Lucu
Geliat Warga

Cerita di Balik Kesuksesan Komik Kamvret: Sempat Mencoba Jadi Guru, tapi Demam Panggung, Kini Bisa Servis Motor dari Hasil Bikin Komik Lucu

30 April 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026
Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana MOJOK.CO

Wisuda TK Rasa Resepsi Pernikahan: Hentikan Normalisasi Pungutan Jutaan Rupiah Demi Foto Toga, Padahal Anak Masih Sering Ngompol di Celana

9 Februari 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.