Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
18 Februari 2026
A A
Tarawih di masjid Jogja

Ilustrasi - Tarawih di masjid Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tarawih jadi ibadah sunah paling diburu di bulan Ramadan, tidak terkecuali di Jogja. Namun, bagi mereka yang belum pernah atau ingin coba-coba mencari lokasi tarawih karena datang dari luar kota, seperti Pasuruan, Jawa Timur, ini adalah panduan paling tepat untuk menemukan masjid yang menerapkan tarawih sesuai anjuran Nahdlatul Ulama (NU).

***

“Ada teman bikin thread eksplor lokasi tarawih,” adalah asal-mula saya menemukan thread di Twitter yang mengulas satu per satu tempat ibadah di Jogja sebagai lokasi tarawih.

Dari thread ini, saya menghubungi Kirom (23) yang masih melanjutkan perburuan lokasi tarawihnya sampai dua tahun setelah postingan.

Berasal dari Pasuruan, semua bermula dari Nahdlatul Ulama

Kirom bercerita kepada saya bahwa asal-muasal dirinya memulai eksplorasi masjid untuk salat tarawih adalah keresahan pribadi.

Sebagai seseorang yang berasal dari Pasuruan, Jawa Timur, Kirom punya kebiasaan yang berbeda dengan kultur di Jogja dalam salat tarawih.

Wilayah Pasuruan di Jawa Timur memang dikenal lekat dengan budaya Nahdlatul Ulama. Wilayah ini mempunyai banyak pesantren NU. Praktik keagamaan di kawasan ini juga menerapkan tradisi NU, seperti salat tarawih 20 rakaat dengan 3 witir.

Lahir dan besar dengan budaya ini di rumah dan pesantren, Kirom merasa canggung dengan masjid di sekitar kosnya. Lokasi tarawih terdekatnya menerapkan salat tarawih 11 rakaat versi Muhammadiyah yang tidak familiar baginya.

“Jujur, sebenarnya ‘perburuan’ ini bermula dari keresahan pribadi aja sih. Sebagai orang yang lahir dan besar dengan kultur NU rasanya agak canggung awal-awal di sini karena masjid sekitar kosku rata-rata tarawihnya pakai setting-an 11 rakaat ala Muhammadiyah,” kata Kirom, Rabu (18/2/2026).

Dari sinilah semua bermula. Ia mulai menyambangi satu per satu masjid untuk mengetahui jumlah rakaat sampai gaya salat yang digunakan. Kurang lebih, pada pencarian rumah ibadah pertamanya, Kirom menuliskan 6 masjid yang menggunakan 23 rakaat dalam salat tarawih.

Misi mencari tarawih 23 rakaat di Jogja

Mulanya, misi ini diawali dengan riset paling canggih dan mudah, yaitu gerilya medsos. Kirom menyusuri Twitter, Facebook, sampai Google Maps untuk mempersempit opsi pencarian.

Setelah berhasil menemukan beberapa pilihan, barulah ia mulai menyisir opsi yang tersedia.

Dari kelananya ini, Kirom mengatakan, yang sebenarnya coba ditemukannya secara khusus adalah tata cara dan jumlah rakaat salat. Sebab, perbedaan salat tarawih di Jogja dan Pasuruan membuat Kirom ingin menghidupkan kembali nuansa yang jarang ditemukannya, sekalipun mengatakan tidak mempermasalahkan perbedaan ini.

“Sebenarnya aku sendiri juga nggak masalah sih dengan perbedaan ini, tapi kadang-kadang kangen aja sama vibes tarawih ala NU kayak pas di rumah,” kata dia.

Iklan

“Dari situlah, kemudian aku mulai riset kecil-kecilan tuh di Twitter, Facebook sampai Google Maps buat cari-cari masjid yang punya vibes tarawih kayak di rumah, kemudian aku cobain satu per satu,” tambah Kirom.

Hasil penelusuran lokasi tarawih di Jogja

Berburu lokasi tarawih paling strategis di Jogja

-A Thread-

— Miftahul (@balagadut) March 29, 2023

Dalam utasnya, ia menyoroti beberapa poin. Mulai dari jumlah rakaat, kecepatan salat, agenda, waktu, sampai dengan nilai tambahan yang bisa menjadi pertimbangan.

Salah satu contohnya, Masjid Sultan Agung Babadan Baru yang berlokasi di Sleman, Jogja, berjumlah 23 rakaat. Salatnya dilakukan dengan kecepatan medium, beragendakan salat isya, wiridan, ceramah, dilanjutkan tarawih. Kemudian, serangkaian agenda ini akan selesai pada pukul 20.30 WIB.

Menurut Kirom, nilai tambahan dari destinasi tarawih ini adalah masjidnya yang menggunakan AC, beraroma wewangian aromatik misk khas Arab, dan terdapat koran yang bisa dibaca di area depannya.

Temuan ini dibandingkan dengan Masjid Mardliyyah Islamic Center yang rakaatnya bisa berjumlah 11 atau 23 dengan kecepatan slow bagi mereka yang ingin menikmati sebenar-benarnya makna tarawih.

Kali ini, rangkaian tarawih terdiri dari salat isya, ceramah, dan tarawih yang akan selesai pada pukul 21.30 WIB apabila berjumlah 23 rakaat. Keunggulannya, menurut Kirom, masjid ini terbilang nyaman, ditambah imam salat yang membaca Al-Qur’an dengan tartil, membuat jamaah dapat lebih menghayati dalam ibadahnya.

Lokasi tarawih paling direkomendasikan menurut kenyamanan dan ajaran NU

Dari penelusurannya, Kirom merekomendasikan 2 lokasi tarawih di Jogja yang mengingatkannya dengan Pasuruan. Lokasi ini adalah Masjid Nurul Huda Gemawang dan Masjid Jami’ Al-Ikhlas Sono yang sama-sama berjumlah 23 rakaat.

Masjid Nurul Huda Gemawang terletak di Dusun Gemawang, Sinduadi, Sleman, sedangkan Masjid Jami’ Al-Ikhlas Sono berlokasi di Dusun Sono Raya Sinduadi. Posisi kedua masjid yang berada di wilayah perkampungan membuat ibadah terasa lebih nyaman dan khusyuk.

Menurutnya, budaya dari kedua dusun ini juga terasa sangat kental dalam beribadah. Ia akan dimulai dengan pujian dan syair sebelum dan sesudah salat, serta dipenuhi dengan jamaah yang saling bersikap baik terhadap satu sama lain.

“Alasannya karena dua masjid ini lokasinya di wilayah perkampungan. Jadi, emang kebanyakan jamaahnya adalah warga sekitar. Kultur kampungnya juga masih kerasa kental banget, mulai dari pujian dan syair yang dilantunkan sebelum dan sesudah salat sampai bagaimana para jamaahnya saling beramah-ramat dan ngobrol setelah bubaran tarawih,” kata Kirom

“Rasanya adem ngeliatnya, dan kadang aku sebagai pendatang juga ngerasa disambut dengan baik. Jadi, cukup mengobati kangen kampung halaman lah,” kata dia menambahkan.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA Tarawih Tengah Malam di Masjid Gedhe Kauman Jogja, Sebenar-benarnya Sunnah Rasul di Bulan Ramadan Menurut Gus Baha dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2026 oleh

Tags: cerita ramadanMuhammadiyahNahdlatul Ulamarakaat tarawihsalat tarawihtarawih di jawa timurtarawih di jogja
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan yang Sama MOJOK.CO
Esai

Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan

9 Maret 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO
Esai

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang "Gagal" yang Dihina Hidupnya, Buktikan Bisa Lolos CPNS hingga PNS. MOJOK.CO

Dulu Kerap Dihina, Ditolak Kampus Top hingga Nyaris DO dan Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos Seleksi CPNS

10 Maret 2026
Anselmus Way, lulusan FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) pilih usaha keripik singkong hingga ayam geprek, tapi sukses MOJOK.CO

Lulusan FISIPOL UGM Jualan Keripik dan Ayam Geprek, Tapi Jadi Penopang Ekonomi Keluarga usai Nyaris Putus Asa

7 Maret 2026
Karjimut di Jogja yang merantau pilih tidak mudik Lebaran. MOJOK.CO

“Bohong” ke Keluarga Saat Mudik Lebaran: Rela Habiskan Uang Berjuta-juta agar Dicap Sukses padahal Cuma Karjimut di Jogja

9 Maret 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Lebaran.MOJOK.CO

Lebaran adalah Neraka bagi Pekerja Usia 30 tapi Belum Menikah, Sudah Mapan pun Tetap Kena Mental

8 Maret 2026
Ogah mudik apalagi kumpul keluarga saat Lebaran. MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Jadi Ajang Menambah “Dosa”: Dengar Saudara Flexing hingga Pura-pura Sukses agar Tidak Dihina Tetangga di Desa

9 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.