Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Busur Panah Tak Sekadar Alat bagi Atlet Panahan, Ibarat “Suami” bahkan “Nyawa”

Kenia Intan oleh Kenia Intan
19 Desember 2025
A A
Busur Panah Tak Sekadar Alat bagi Atlet Panahan, Ibarat “Suami” bahkan “Nyawa” Mojok.co

Ilustrasi Busur Panah Tak Sekadar Alat bagi Atlet Panahan, Ibarat “Suami” bahkan “Nyawa”

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mendung yang menggantung sedari siang akhirnya tumpah sore itu. Hujan mengguyur Supersoccer Arena Kudus (SSA), lokasi di mana  MilkLife Archery Challenge (MLARC) KEJURNAS Antar Club 2025 digelar. Sebuah kompetisi panahan yang digagas Persatuan Panahan Indonesia (Perpani), Milklife, dan Djarum Foundation. 

Atlet yang tengah bertanding di kategori recurve mix group U18 dan umum buru-buru menyelamatkan busur panah mereka. Memindahkannya dari lapangan ke tenda tempat berteduh yang disediakan penyelenggara. Salah satunya Lintang Ayoedya Koesworo (18) yang sedang bertanding bersama Muhammad Kukuh Imanuallah (19) mewakili klubnya, Abhipraya Archery Club Semarang. 

Bagi para atlet panahan, busur memang barang berharga. Tanpanya, mereka tidak bisa bertanding. Lebih buruk lagi, mereka bak tidak punya nyawa, tidak punya hidup. Itulah yang dirasakan Lintang terhadap busur-busurnya. 

“Tanpa itu aku nggak bisa manah, tanpa manah aku nggak bisa dapat uang, nggak bisa hidup,” ujar Lintang kepada Mojok setelah pertandingan, Kamis (18/12/2025). 

Lintang Ayoedya Koesworo membidik papan target (Dok: Milklife Archery)

Protektif dan sensi kalau menyangkut busur panah

Tidak heran kalau Lintang sangat protektif terhadap busurnya. Ketika pertandingan ke luar kota seperti di Kudus ini misal, dia menyimpan busur dalam hardcase untuk menghindari lecetan. Tidak lupa melilitnya dengan kain demi meredam benturan. 

Dia jadi teringat suatu pengalaman pada 2023. Waktu itu hujan deras mengguyur lapangan. Dia langsung membereskan busur dan anak panahnya. Sesampainya di rumah, bukannya langsung mandi, Lintang malah mengeringkan printilan-printilan busurnya. Dijejer satu persatu supaya lebih cepat kering. 

“Aku pulang jam 3 sore, tapi baru mandi selepas Isya karena ngeringin busur. Besoknya aku langsung tumbang,” kenangnya sambil tertawa. 

Rasa sayang semakin besar karena dua busurnya saat ini adalah hasil jerih payahnya sendiri. Lintang menabung hadiah yang dimenangkannya dari pertandingan demi pertandingan sejak kelas 3 SD hingga kini duduk di bangku kuliah. Dia juga mendapat insentif sebagai salah satu atlet yang terpilih dalam Program Semarang Emas (PSE). 

Itu mengapa Lintang dan banyak atlet panahan agak sensi ketika busurnya tersenggol atau kenapa-kenapa. Bahkan, dia sempat ngambek selama seminggu kepada temannya yang tidak sengaja melempar batu ke busurnya. 

“Aku deketin dia, aku tapuk (tabok) mukanya,” kenang dia. Temannya pun langsung minta maaf. 

Busur panah nomor satu, suami nomor dua

Tidak jauh berbeda, Wan Aras (24) dari Bhayangkara Archery Raja Ampat (BARA) pun demikian dengan busur panahnya. Kalau boleh meminjam istilah anak muda zaman sekarang, dia amat “kecintaan” dengan busur compound miliknya. 

Ya bagaimana lagi, atlet panahan memang harus bonding dengan alatnya. Di lapangan, alat dan atlet bak satu kesatuan. Ketitisan atau ketepatan membidik target adalah hasil kerja sama antara atlet dan alatnya. 

Selain bonding yang begitu kuat, membeli alat dan pernak-pernik panahan di daerah Timur Indonesia cukup sulit. Itu mengapa, Aras menjaga baik-baik busur panahnya.

Saat hujan misalnya, dia rela tidak pakai jaket dan melilitkannya ke busur supaya tidak basah. Selama pertandingan di Kudus ini, dia dan beberapa atlet di klub BARA rela busurnya naik taksi online. Sementara atletnya (pemiliknya) naik ojek online. 

Iklan

“Pokoknya suami nomor dua, busur nomor satu karena ini penting banget,” kelakar Aras dan teman-temannya di klub. Kebetulan, suami Aras juga seorang atlet panahan dan tergabung di BARA. 

Wan Aras bersama panah compound miliknya (Dok: Kenia Intan/Mojok)

Menyematkan doa dan nama

Aras memang tidak memberi nama khusus untuk busurnya. Namun, dia mengaku selalu mendoakan yang baik-baik untuk busur dan anak panahnya. Terlebih menjelang pertandingan.

Sementara, Lintang memberi nama busur dan pernak-pernik panahannya dari mitologi Yunani. Dua busur yang dimilikinya saat ini diberi nama Zeus dan Athena. 

Lintang memang penggemar mitologi Yunani. Nama Zeus dipilih karena dia adalah dewa dari segala dewa. Lintang berharap makna nama ini bisa menjadikan busurnya sebagai dewa atas busur-busur lain dan menjadikannya pemenang. Walaupun dia tetap menyadari, namanya pertandingan pasti ada menang dan kalah. Semangat yang sama juga berlaku pada Athena yang merupakan dewi perang. 

Kendati menyayangi busurnya setengah mati, Lintang tidak lantas “terjebak” mengandalkan alat sepenuhnya. Sebab, di panahan, atlet tetap berperan penting dalam menyasar target. Apalagi panah recurve, setidaknya atlet berperan hingga 70 persen dalam ketitisan membidik sasaran. 

“Jadi kalau alatnya mahal dan bagus, tapi atletnya malas-malasan, tetap saja percuma,” tutupnya.

Penulis: Kenia Intan
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Memanah di Tengah Hujan, Ujian Atlet Panahan Mensiasati Alam dan Menaklukkan Gentar agar Anak Panah Terbidik di Sasaran atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 23 Desember 2025 oleh

Tags: busurBusur panahMilkLife Archery ChallengeMLARCPanahpanahan
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Nonton Olahraga Panahan. MOJOK.CO
Catatan

Sempat “Ngangong” Saat Pertama Kali Nonton Olahraga Panahan, Ternyata Punya Teropong Sepenting Itu

25 Desember 2025
Olahraga panahan di MLARC Kudus. MOJOK.CO
Ragam

Regenerasi Atlet Panahan Terancam Mandek di Ajang Internasional, Legenda “3 Srikandi” Yakin Masih Ada Harapan

23 Desember 2025
Slipknot hingga Metallica Menemani Latihan Memanah hingga Menyabet Medali Emas Panahan MOJOK
Ragam

Slipknot hingga Metallica Menemani Latihan Memanah hingga Menyabet Medali Emas Panahan

21 Desember 2025
Praja bertanding panahan di Kudus. MOJOK.CO
Sosok

Nyaris Menyerah karena Tremor dan Jantung Lemah, Temukan Semangat Hidup dan Jadi Inspirasi berkat Panahan

20 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
Derita anak bungsu. MOJOK.CO

Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah

9 Januari 2026
19 Tahun Gempa Jogja dan Teror di Bangsal Rumah Sakit MOJOK.CO

19 Tahun Setelah Gempa Besar Mengguncang, Ingatan akan Teror di Sebuah Rumah Sakit Besar di Jogja Datang Kembali

8 Januari 2026
pasar wiguna.MOJOK.CO

Dari Coffee Shop “Horor”, Nira, hingga Jam Tangan Limbah Kayu: Pasar Wiguna Menjaga Napas UMKM Lokal

8 Januari 2026
Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Kenangan lepas perjaka di kawasan prostitusi Stasiun Rambipuji, Jember MOJOK.CO

Kenangan Lepas Perjaka di Stasiun Rambipuji Jember, Mencari Kepuasan di Rel Remang dan Semak Berbatu dengan Modal Rp30 Ribu

5 Januari 2026

Video Terbaru

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

PB Champion Klaten: Tempat Badminton dan Mental Juara Dibentuk

3 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.