Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Awalnya Tak Tega Lihat Anak Sakit hingga Dampingi Istri ke Puskesmas, Lalu Sadar Pentingnya Peran Seorang Bapak

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
7 November 2025
A A
Seorang bapak di Semarang tak tega lihat anak stunting, hindari isu fatherless. MOJOK.CO

ilustrasi - bapak temani anak periksa stunting. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi bapak asal Semarang ini, mengurus anak bukan hanya tugas istri. Ia tak ingin anaknya tumbuh tanpa kehadiran ayah, baik secara fisik maupun emosional (fatherless). Maka, ketika anaknya terindikasi stunting ia tak ingin meninggalkannya sendiri.

Antar anak dan istri ke puskesmas Semarang

Sobirin (43) tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk memeriksakan anaknya yang terindikasi stunting di Puskesmas Sekaran, Semarang. Padahal sebelumnya, ia bersama istrinya rutin mengecek kondisi kesehatan anaknya hingga dokter menyuruh pemeriksaan lebih lanjut.

“Sebetulnya dari usia dua tahun itu kami sudah cek rutin, tapi kali ini agak beda. Nama anak saya masuk daftar pemeriksaan lebih lanjut di Puskemas Sekaran, Semarang,” ucap Sobirin saat ditemui Mojok di Puskesmas Sekaran, Semarang pada Kamis (16/10/2025).

Sejujurnya, itu juga merupakan pengalaman pertama Sobirin, sebab dua orang anaknya tidak pernah terindikasi stunting sebelumnya. Alih-alih meninggalkan istrinya sendiri untuk memeriksakan anak ke Puskesmas Sekaran, Semarang, Sobirin memutuskan untuk mendampingi. 

Ia tak ingin meninggalkan anak dan istrinya sendiri, apalagi anaknya masuk daftar urutan tiga terakhir saat pemeriksaan dokter. Beruntung Sobirin punya shift kerja malam, sehingga ia bisa masih menunggu anaknya sampai selesai pemeriksaan. Sebagai kepala keluarga, ia merasa bertanggungjawab penuh. Ia tak ingin menjadikan kehidupan anaknya fatherless.

Pemeriksaan stunting di Puskesmas. MOJOK.CO
Pemeriksaan stunting di Puskesmas Sekaran, Kota Semarang. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Melansir dari UNICEF tahun 2021, sekitar 20,9 persen anak di Indonesia mengalami fatherless–kehidupan anak tanpa kehadiran ayah secara fisik atau emosional.

“Saya sering menemani anak saya bermain. Dia kan cowok jadi suka lari-lari. Nah, ketika saya tahu dia ada gejala tersebut saya agak sedih,” kata Sobirin.

Ayah punya peran mendisiplinkan anak

Sobirin berujar akhir-akhir ini anaknya jadi susah makan. Sebagai kepala keluarga, Sobirin juga punya peran untuk mendisiplinkan anaknya. Ketika ia tidak mau makan, kadang-kadang Sobirin harus turun tangan untuk membujuk anaknya. Sementara istrinya bertugas menyiapkan makanan.

Sobirin mengaku pelajaran membagi peran tersebut ia dapatkan dari daycare yang rutin diadakan oleh Dinas Kesehatan. Secara umum, program tersebut guna memberikan edukasi kepada orang tua, bagaimana cara memenuhi gizi dan memberikan pola asuh yang optimal kepada anak.

Pendaftaran dilakukan melalui puskesmas di kecamatan yang terdapat daycare Rumah Pelita untuk di-skrining kesehatan terlebih dahulu. Kemudian, jika hasil skrining tidak menunjukkan tanda positif TB dan imunisasi sudah lengkap, maka balita bisa diinden atau masuk langsung ke daycare Rumah Pelita apabila terdapat kuota peserta.

Pemkot Semarang cegah stunting. MOJOK.CO
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng luncurkan program Keluarga Cemara di Puskesmas Kedungmundu pada Rabu (10/9/2025). (Dok. Pemkot Semarang)

Layanan daycare rumah pelita bersifat gratis dan ditujukan khususnya bagi keluarga kurang mampu dan keluarga dengan balita masalah gizi.

“Walaupun saya sudah punya dua anak sebelumnya, tapi yang namanya orang tua itu harus selalu belajar karena tiap dari mereka punya karakter yang beda,” kata Sobirin.

Dari program tersebut Sobirin juga tak hanya belajar tentang cara mengurus anak, tapi juga mengurus dirinya sendiri agar punya pola hidup sehat. Dengan begitu, anak-anaknya bisa mencontoh perilaku baik dirinya.

Peran penting ayah dalam mencegah stunting

Sementara itu, Siti (39) mengaku terbantu atas pembagian peran dalam keluarganya. Ia pun tak ingin anak-anaknya tumbuh tanpa kehadiran ayah (fatherless). Apalagi, saat pemeriksaan kesehatan seperti yang harus anaknya jalani. Jujur saja, ia tak berani sendiri.

Iklan

“Saya beruntung karena suami saya bisa mengantar ke Puskesmas Sekaran, Semarang sekaligus mendampingi,” ucap Siti saat ditemui di Puskesmas Sekarang, Semarang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Moch Abdul Hakam menjelaskan peran seorang ayah memang begitu penting dalam keluarga, terutama dalam pemeriksaan kesehatan. Di mana anak tidak boleh ditinggalkan sendiri tanoa kehadiran ayah secara fisik maupun psikologis (fatherless).

Abdul Hakam mengungkap kehadiran ayah yang sering absen sering menjadi kendala tersendiri bagi anak yang mengalami stunting. Beberapa kendala yang menyebabkan ibu hamil tidak mengikuti kelas ibu hamil dan pemeriksaan kehamilan (ANC) secara rutin, yakni:

  1. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran. Sebagian ibu belum memahami pentingnya pemeriksaan kehamilan dan manfaat kelas ibu hamil untuk menjaga kesehatan ibu dan janin.
  2. Faktor ekonomi dan pekerjaan. Ibu hamil yang bekerja atau memiliki keterbatasan biaya transportasi sering menunda atau melewatkan jadwal pemeriksaan.
  3. Kurangnya dukungan dari keluarga atau suami. Tidak semua keluarga memberikan dukungan bagi ibu hamil untuk mengikuti kegiatan kesehatan. (contoh: tidak ada yang mengantar)
  4. Rasa takut atau tidak nyaman. Beberapa ibu merasa cemas terhadap hasil pemeriksaan atau tidak nyaman dengan suasana fasilitas kesehatan.
  5. Keterbatasan waktu pelaksanaan kelas. Jadwal kelas ibu hamil terkadang tidak sesuai dengan waktu luang ibu.

“Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan peningkatan edukasi, dukungan keluarga, dan inovasi pendekatan seperti pelaksanaan kelas ibu hamil berbasis komunitas, integrasi dengan program ‘Keluarga Cemara’, serta pemanfaatan media digital untuk edukasi jarak jauh,” ucap Hakam.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Rahasia Sukses Semarang untuk Menggenjot Masalah Stunting hingga Jadi Peringkat ke-2 Terendah di Jawa Tengah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

 

Terakhir diperbarui pada 7 November 2025 oleh

Tags: cek stuntingciri stuntingfatherlessPuskesmas SekaranSemarangstunting
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Ironi bapak kerja habis-habisan 60 jam agar anak tak susah finansial. Tapi peran sebagai ayah dipertanyakan karena anak mengaku fatherless MOJOK.CO
Sehari-hari

Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”

26 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO
Catatan

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh” MOJOK.CO
Sehari-hari

Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”

31 Januari 2026
Jembatan Persen di Gunungpati, Semarang, dari kayu menjadi baja dan bercor beton MOJOK.CO
Kilas

Jembatan Persen di Gunungpati Semarang, Dari Kayu Jadi Bercor Beton berkat Aduan “Solusi AWP”

24 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Remehkan Supra X 125, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang Mojok.co

Jangan Remehkan Supra X 125 Lawas, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang

25 Februari 2026
kerja di jepang, merantau.MOJOK.CO

Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati

23 Februari 2026
Mall Kokas di Jakarta Selatan (Jaksel) macet

Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite

20 Februari 2026
Pakai hp android Samsung S26 terintimidasi user iPhone. Tapi tak berpaling karena Samsung lebih berguna dari iPhone yang hanya memperdaya pengguna MOJOK.CO

Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya

26 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.