Alfamart 24 jam, bagi sebagian orang, adalah “penolong” di tengah malam. Ketika butuh cemilan, rokok, atau kebutuhan lain yang mendesak, minimarket ini selalu siap melayani.
Namun, lebih dari itu. Bagi sebagian pekerja di Jakarta, minimarket ini adalah saksi “kehidupan malam” mereka yang menolak tidur demi bisa bertahan di tengah kerasnya ibu kota.
Siang ngantor, malam ngojol
Ketika sebagian besar warga kota telah terlelap, suasana di sebuah Alfamart 24 jam Jakarta Selatan justru tetap hidup. Cahaya putih dari dalam toko menembus kaca transparan, menerangi area parkir dan deretan kursi besi di depannya.
Bagi banyak orang, tempat ini bukan sekadar gerai retail, melainkan suaka sementara bagi mereka yang terpaksa menunda waktu istirahat demi kelangsungan hidup.
Di salah satu kursi besi tersebut, duduk seorang pria, panggil saja Rahman. Usianya 29 tahun. Saya mengenalnya karena dia teman sekantor kawan saya di Jakarta.
“Roman-romannya banyak duit nih. Seger bener mukanya,” sapa kawan saya malam itu, Sabtu (27/12/2025) saat menemui Rahman di Alfamart 24 jam kawasan Pancoran. Mereka memang rekan dekat, suka slengekan.
Mengenakan jaket hijau khas pengemudi ojek online, Rahman mengobrol sambil menyesap kopi botol yang dibelinya di dalam minimarket.
“Nganter dua lagi mau balik nih,” jawab Rahman.
Kehadiran Rahman di kursi besi minimarket tersebut pada jam-jam dini hari bukanlah tanpa alasan. Di balik identitasnya sebagai pengemudi ojek online pada malam hari, ia adalah seorang karyawan swasta di sebuah perusahaan kecil yang berlokasi di Jakarta Selatan.
Setiap bulan, ia menerima gaji sebesar Rp3 juta. Baginya, angka ini menjadi persoalan serius karena berada di bawah standar Upah Minimum Regional (UMR) DKI Jakarta, yang seharusnya Rp5,2 juta.
Alhasil, bagi Rahman, gaji tersebut tidak pernah cukup untuk menutupi biaya hidup di Jakarta yang terus merangkak naik. Terlebih lagi, ia memikul tanggung jawab moral dan finansial untuk membiayai sekolah adiknya di kampung halaman.
Oleh karena itu, mau tak mau ia harus berjuang lebih. Siang pagi hingga sore, ia bakal bekerja kantoran. Sementara malam hingga dini hari, ia beralih profesi sebagai driver ojo.
“Siang ngantor, malem ngojol buat tambah-tambah, Bang,” ungkapnya kepada saya.
Alfamart 24 jam tempat terbaik di malam hari
Rutinitas Rahman disusun dengan rapi, tapi sangat melelahkan. Selepas pulang kantor sekitar pukul lima sore, ia akan menyempatkan diri untuk istirahat sebentar di kos. Durasi istirahat ini sangat singkat, hanya bertujuan untuk memulihkan sedikit tenaga agar tubuhnya bisa digunakan kembali untuk bekerja di “shift” berikutnya.
Begitu waktu Isya’ tiba, Rahman bergegas menunaikan salat kemudian mengganti pakaiannya, menyalakan mesin motor, dan mulai nge-bid mencari pesanan sebagai pengemudi ojek online.
“Jam 2 apa jam 3 biasanya udahan sih, Bang, soalnya pagi jam 9 ngantor.” ujarnya.
Sebenarnya, sistem baru di ojol membuatnya harus online (bekerja) selama sembilan jam. Namun, bagi Rahman, selama sudah mendapat 10 orderan ia bakal offline.
“Yang penting cukup dulu aja buat nambal,” jelasnya.
Di tengah padatnya “jam kerja” tersebut, Alfamart 24 jam menjadi tempat krusial. Rahman dan sebagian besar rekan-rekannya memilih tempat ini karena alasan yang sangat mendasar: kurangnya ruang publik yang dapat diakses secara gratis di Jakarta.
“Coffee shop mahal, mau di warung-warung dah pada tutup. Kalau di taman pun bahaya, Bang.”
Bagi Rahman, Alfamart 24 jam menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki tempat lain, yaitu izin untuk singgah dengan biaya minimal. Misalnya, cukup dengan membeli sebotol Golda atau kopi botol lain dengan harga paling murah, Rahman merasa telah membayar izin duduk di kursi besi tersebut.
“Nggak bakal ada yang ngusir. Aman juga di sini.”
Berbagi lelah dan resah di Alfamart 24 jam
Rahman tidak sendirian. Dalam menjalani malam-malam panjang di depan Alfamart 24 jam itu, sering terlihat juga pengemudi ojek online lain yang juga sedang menatap layar ponsel dengan penuh harap.
Rahman cerita, kadang-kadang, terjadi interaksi singkat di antara mereka. Pembicaraan biasanya berkisar pada keluhan tentang sepinya pesanan, potongan biaya dari aplikasi yang dirasa memberatkan, hingga kondisi fisik yang sebenarnya sudah melewati batas wajar untuk bekerja.
“Ya namanya driver (ojol), pasti keluhannya sama, Bang,” kata dia. Malam itu, hanya Rahman driver ojol yang berada di Alfamart 24 tersebut.
Selain rekan sesama pengemudi, Rahman juga mengaku sering berinteraksi dengan para penumpangnya. Mulai dari para staf gudang, karyawan restoran 24 jam, petugas kebersihan, hingga “pekerja malam” lainnya.
Cerita-cerita yang didapat Rahman, rata-rata mereka punya keluhan yang sama seputar hidup di Jakarta. Jam kerja panjang, upah yang pas-pasan, dan hingga utang yang tak kunjung lunas.
“Yang paling kasihan kalau mengantar perempuan-perempuan pekerja malam, ya itu lah maksudnya. Mereka itu terpaksa melakukan itu ya karena Jakarta sekeras ini, Bang.”
Pertemuan-pertemuan singkat ini, bagi Rahman, menciptakan sebuah perasaan senasib di antara mereka. Mereka menyadari bahwa mereka bukanlah orang-orang yang gemar terjaga hingga pagi karena gaya hidup, tapi karena keadaan ekonomi.
***
Menjelang pukul tiga pagi, sebuah notifikasi pesanan akhirnya muncul di ponsel. Rahman pun segera bersiap.
Ia menghabiskan sisa kopinya, mematikan rokok, dan mengenakan helm, lau bersiap. Tidak ada drama atau keluhan panjang yang keluar dari mulutnya; yang ada hanyalah tubuh yang kembali dipaksa untuk bergerak membelah sisa malam Jakarta.
“Kayaknya abis ini gue langsung balik kos aja ya, Bang, orderan terakhir ini,” ujarnya sebelum berlalu.
Kepergian Rahman dari kursi besi itu menandakan berakhirnya aktivitas Rahman di Alfamart 24 jam itu. Namun, di malam berikutnya, Rahman bakal kembali lagi. Karena baginya, istirahat bukan opsi untuk bisa bertahan di tengah kerasnya ibu kota.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Pasar Petamburan Jadi Saksi Bisu Perjuangan Saya Jualan Sejak Usia 8 Tahun demi Bertahan Hidup di Jakarta usai Orang Tua Berpisah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













