Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Lipsus

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
23 Februari 2026
A A
bubur, sunan gresik.MOJOK.CO

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Melalui Dapur dan Semangkok Bubur Harisah (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Langit di pesisir Gresik masih remang. Di sebuah pelataran sederhana yang berlantai tanah dan beratap rumbia, api mulai merayap menjilati pantat periuk tanah liat yang berukuran besar. 

Tidak lama berselang, aroma beras yang mendidih dan menyatu dengan air perlahan menguar, menembus kabut tipis, dan memancing siapa saja yang menghirupnya untuk datang.

Di sekeliling periuk yang mengepulkan asap itu, orang-orang mulai berdatangan. Mereka adalah rakyat jelata: para petani, buruh pelabuhan, hingga para paria yang dihantui kelaparan.

Mereka duduk melingkar dengan tatapan kosong, menunggu dengan sabar. Di tengah-tengah mereka, seorang laki-laki asing berjubah sederhana tersenyum ramah. Tangannya yang cekatan tak henti-hentinya mengaduk bubur panas di dalam periuk tersebut.

Laki-laki itu hemat kata-kata. Ia hanya sibuk menyodorkan mangkuk-mangkuk kayu berisi bubur hangat. Sementara rakyat jelata itu menerimanya dengan tangan gemetar dan mata yang berkaca-kaca.

Kira-kira begitulah sejarawan asal Amerika Serikat, M.C Ricklefs, menggambarkan situasi di Jawa, lebih tepatnya wilayah Gresik, pada awal abad ke-15 lalu. Hari ini, pemandangan yang demikian mungkin terlihat seperti hal sepele. 

Namun, dalam konteks masa itu, dari ruang sesederhana dapur yang penuh jelaga tersebut, benih-benih peradaban Islam pertama kali ditanamkan dan mengakar kuat di tanah Jawa. Sebelum agama menyentuh pikiran dan akal budi, ia harus terlebih dahulu memeluk hal yang paling rentan dari manusia, yakni perut yang lapar.

Majapahit runtuh, Sunan Gresik memeluk rakyat dengan semangkuk bubur

Mengapa semangkuk bubur itu sangat penting? Ricklefs, dalam bukunya Mystic Synthesis in Java (2006), memberikan penjelasannya. Saat itu, Kerajaan Majapahit yang pernah digdaya sedang berada di ambang senjakala. Perang saudara yang berlarut-larut, dikenal dengan sebutan Perang Paregreg, telah menguras habis kas negara dan menghancurkan tatanan sosial masyarakat.

“Dampak dari perang elite politik ini sangat brutal bagi rakyat jelata di akar rumput. Lahan-lahan pertanian terbengkalai, sistem pengairan hancur, dan siklus gagal panen terjadi di mana-mana,” kata Ricklefs.

Gresik saat itu memang dikenal sebagai kota pelabuhan yang ramai dikunjungi kapal-kapal dagang internasional. Namun, kemewahan pelabuhan itu tidak menetes ke bawah. Di daratan, ketimpangan sosial menganga lebar, disusul oleh musim paceklik, penyakit, dan kerentanan pangan yang mencekik leher rakyat kecil.

Di tengah kemelut dan keputusasaan inilah, seorang ulama pendatang tiba di pesisir utara Jawa. Ia berlabuh di daerah Sembalo, Manyar, yang berjarak sekitar 9 kilometer dari pusat Gresik saat ini. 

Namanya adalah Maulana Malik Ibrahim, yang kelak dihormati dengan sebutan Sunan Gresik. Berasal dari luar Jawa–banyak catatan menyebutkan ia berasal dari Kashan, Persia, atau Samarkand–ia datang bukan sekadar membawa wahyu Tuhan, tapi juga sepasang mata yang sangat jeli dalam membaca realitas sosial.

Sebagai seorang pendatang, Sunan Gresik melakukan observasi yang tajam. Ia melihat bahwa kepasifan, sikap diam, dan keputusasaan masyarakat Jawa saat itu bukanlah karena mereka pemalas. Kepasifan itu berakar pada satu tragedi kemanusiaan yang mendasar, yakni kemiskinan dan kelaparan massal akibat perang saudara.

Menolak masuk istana, memilih sawah dan dapur

Dengan kecerdasan seorang dan insting seorang pejuang kemanusiaan, Sunan Gresik mengambil keputusan taktis yang sangat cemerlang. Di saat banyak utusan asing atau pedagang besar lebih suka merapat ke gerbang keraton untuk melobi penguasa dan kaum elite, ia justru memilih memunggungi istana. Ia menyingsingkan lengan bajunya dan turun ke pematang sawah.

Iklan

Dia menyadari bahwa khotbah tentang surga dan neraka tidak akan terdengar oleh telinga orang yang perutnya melilit. Maka, langkah dakwah pertamanya adalah urusan perut. 

Seperti dicatat Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo (2012), misalnya, Sunan Gresik mengajari para petani jelata itu cara bercocok tanam yang lebih efisien dan membangun sistem pengairan atau irigasi agar bencana gagal panen bisa diputus. 

Tidak hanya bertani, ia juga merawat dan mengobati orang-orang yang jatuh sakit dengan meramu daun-daunan tertentu secara cuma-cuma. Ia juga membuka jalur perdagangan di sekitar pelabuhan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat bawah. 

Di tengah kesibukannya itulah, dapurnya selalu mengepul. Ia membuka ruang makan terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan. Pendekatan kultural dan personal ini adalah kunci. Ia tampil dengan wajah yang ramah, penuh welas asih, suka menolong, dan sama sekali tidak menentang atau menyerang secara tajam tradisi serta kepercayaan lokal (Hindu-Buddha) yang saat itu dianut oleh masyarakat.

Bubur Harisah, kuliner yang meruntuhkan kasta

Lalu, di antara sekian banyak jenis makanan, mengapa bubur yang menjadi pilihan sosialnya? Di sinilah letak kejeniusan strategi sang Wali.

Pada masa krisis pangan, beras adalah komoditas mewah yang sangat berharga. Memasak nasi seperti biasa tentu akan menguras banyak persediaan beras dan hanya cukup untuk memberi makan segelintir orang. 

Namun, jika beras dimasak dengan takaran air yang melimpah hingga hancur menjadi bubur, segenggam beras bisa mengembang berkali-kali lipat. Bubur adalah solusi ekonomi yang sangat praktis; makanan murah yang mampu mengganjal puluhan perut yang kelaparan sekaligus.

Banyak catatan menyebut, resep bubur yang dimasak oleh Sunan Gresik saat itu terinspirasi dari Bubur Harisah, makanan khas Timur Tengah. Di negeri asal, makanan ini terbuat dari tepung gandum yang dicampur dengan kaldu ayam, kambing, atau sapi. Namun, karena keterbatasan, sang Wali memodifikasinya dengan campuran santan dan rempah yang kuat.

Lebih jauh lagi, olahan bubur memiliki makna sosiologis yang sangat revolusioner pada masa itu. Ingatlah bahwa masyarakat Jawa saat itu hidup dalam cengkeraman sistem kasta peninggalan kebudayaan Hindu yang sangat kaku. 

Siapa kamu, dan dari keluarga mana kamu berasal, menentukan dengan siapa kamu boleh berbicara, bergaul, dan–yang paling penting–dengan siapa boleh makan bersama. Rakyat jelata yang terbuang sering kali diperlakukan secara tidak setara.

Sunan Gresik mendobrak tembok tebal kasta itu lewat cara yang paling lembut. Ya, membagikan bubur. Saat berdagang dan membuka dapur umumnya, ia memperlakukan semua orang dari berbagai kasta sosial secara setara. Saat orang-orang dari berbagai latar belakang yang sama-sama miskin dan lapar itu duduk melingkar memakan bubur dari periuk yang sama, hierarki sosial runtuh seketika.

Sebagaimana dicatat Fadly Rahman dalam Jejak Rasa Nusantara (2016), bubur adalah makanan yang egaliter. Ia lembut, mudah dicerna oleh anak kecil hingga orang tua renta, oleh mereka yang bugar maupun yang sedang terbaring sakit. Menikmati semangkuk bubur bersama-sama menghadirkan sebuah perjumpaan yang setara. 

Di ruang makan itu, tidak ada sebutan “Gusti” (tuan) atau “Kawula” (hamba). Semua adalah manusia yang berhak untuk hidup dan kenyang. Bubur bukan lagi sekadar soal rasa atau urusan mengganjal lambung, melainkan tentang pengakuan martabat. 

Ia mengirimkan pesan tanpa suara: di sini, kalian diizinkan duduk sejajar, dan kalian berharga. Perlakuan setara inilah yang memicu gelombang simpati yang masif dari masyarakat kasta bawah.

Sunan Gresik melebur ke dalam tradisi makan bersama

Keberhasilan Islam berurat akar di tanah Jawa juga tidak lepas dari kelihaian membaca tradisi lokal. Menurut Clifford Geertz dalam The Religion of Java (1960), jauh sebelum Islam datang, masyarakat Jawa adalah masyarakat agraris komunal yang sangat menghargai kebersamaan. Mereka memiliki ritus-ritus kuno yang selalu berpusat pada aktivitas kumpul dan makan bersama, seperti kenduri, bancaan, atau slametan. 

Praktik slametan bahkan sering dipandang sebagai inti atau jantung dari praktik keagamaan dan sosial orang Jawa, di mana harmoni dan kompromi dirayakan lewat makanan.

Islam tidak datang layaknya buldoser yang menghancurkan tradisi tersebut. Para wali, termasuk Sunan Gresik, membiarkan tradisi berkumpul dan makan bersama itu tetap hidup. Namun, perlahan-lahan mereka mengisinya dengan muatan nilai dan doa-doa Islam. Proses islamisasi ini bersifat kontinuitas, bukan sekadar memutus habis kepercayaan masa lalu.

Orang-orang miskin itu pada awalnya mungkin datang ke pelataran rumah sang ulama semata-mata karena dorongan rasa lapar. Namun, setelah perut mereka kenyang, mereka pulang dengan membawa sesuatu yang baru di hati mereka: rasa dihargai. Tidak ada tuntutan, “Jika kamu makan bubur ini, kamu harus memeluk agamaku.” Dakwah berjalan sangat sunyi.

Masyarakat pribumi melihat ajaran baru ini bukan sebagai sekumpulan hukum abstrak yang mengekang, tetapi sebagai sebuah pengalaman sosial yang mengayomi dan welas asih. Mereka takjub melihat seorang tokoh agama yang mau mengotori tangannya di lumpur sawah dan berdiri di depan panasnya periuk, mengaduk bubur, demi orang-orang yang bukan siapa-siapanya.

Dari kekaguman atas kebaikan yang konkret itulah, kepercayaan (iman) perlahan mekar. Mereka secara sukarela dan tanpa paksaan mengucapkan syahadat.

Bubur Harisah, warisan Sunan Gresik yang terus dimasak

Ratusan tahun telah berlalu sejak wafatnya Maulana Malik Ibrahim pada tahun 1419 M (822 Hijriah). Jasad sang Wali kini terbaring diam di desa Gapura, Gresik. Namun, jejak kebaikan dari dapur masa lalunya ternyata tidak pernah benar-benar padam. Ia mengkristal menjadi ingatan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Jika sejarah militer dicatat di atas prasasti batu atau daun lontar, sejarah sosial masyarakat jelata dicatat di atas piring dan mangkuk. Warisan “politik kenyang” Sunan Gresik itu masih berdetak kuat hingga detik ini. 

Jutaan peziarah yang datang berkunjung ke makamnya di Gresik tidak hanya membawa doa, tetapi di sana mereka juga melestarikan sebuah tradisi unik: menyantap Bubur Harisah secara bersama-sama. Bubur, yang di masa kini dibuat dari campuran gandum dan daging (sebagaimana resep aslinya) ini menjadi artefak hidup.

Ia adalah monumen kuliner yang terus mengingatkan kita pada metode dakwah paling awal di tanah tersebut.

Lebih jauh lagi, warisan berbagi makanan ini bertransformasi menjadi tulang punggung budaya santri dan masyarakat Jawa pada umumnya. Tradisi saling mengirim makanan kepada tetangga, bersedekah lewat kenduri, dan menyediakan logistik gratis dalam setiap peringatan keagamaan adalah kelanjutan dari napas kemanusiaan sang Wali.

Akhirnya, dengan menengok kembali adegan di dapur sederhana pada awal abad ke-15 itu memaksa kita untuk merenung di tengah bisingnya zaman modern. Hari ini, kita hidup di era di mana agama terkadang ditampilkan dengan wajah yang tegang, kaku, eksklusif, dan penuh amarah. 

Seringkali esensi agama terjebak pada perdebatan teologis yang keras atau pertarungan identitas di media sosial. Sementara kepedulian terhadap kemanusiaan yang nyata justru terpinggirkan. Kisah Sunan Gresik dan periuk buburnya seolah menepuk bahu kita dengan lembut.

Ia mengingatkan sebuah kebenaran historis yang luar biasa puitis. Islam mampu bertahan, menyebar luas, dan dianut oleh jutaan manusia di Nusantara bukan karena kerasnya sabetan pedang atau paksaan kekuasaan yang menakutkan, tapi melalui dapur dan semangkuk bubur.

Rasa Sanga merupakan konten khusus Liputan Mojok untuk Ramadan 2026/1447 H. Menarik benang merah khazanah kuliner Jawa dari riwayat Wali Sanga.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2026 oleh

Tags: Asal usul Bubur Harisah di IndonesiabuburBubur HarisahgresikMaulana Malik IbrahimSejarah Bubur Harisa Sunan GresikSejarah Islam di JawaSunan GresikWali Songo
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Pulau Bawean Begitu Indah, tapi Menjadi Anak Tiri Negeri Sendiri MOJOK.CO
Esai

Pengalaman Saya Tinggal Selama 6 Bulan di Pulau Bawean: Pulau Indah yang Warganya Terpaksa Mandiri karena Menjadi Anak Tiri Negeri Sendiri

15 Desember 2025
Sidoarjo cocok untuk slow living daripada Jakarta Timur. MOJOK.CO
Ragam

Sidoarjo Cocok untuk Perintis, Tak Harus Kerja Keras di Jakarta Sampai Mental Rusak

1 Agustus 2025
Soal Bus Wisata, Jogja Sangat Tidak Kreatif Kalah dari Surabaya MOJOK.CO
Esai

Perkara Transportasi Wisata, Jogja Sangat Tidak Kreatif dan Perlu Belajar dari Cara Surabaya Mengelola Trans Jatim Bus Jaka Tingkir

23 Mei 2025
Menganti daerah yang membingungkan: Gresik bukan, Surabaya juga bukan? MOJOK.CO
Ragam

Menganti Gresik bikin Pusing: Tak Mau Disebut Gresik, Tapi kalau Ngaku-ngaku Surabaya Banyak yang Tak Terima

17 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Toxic sibling relationship antar saudara kandung karena rebutan sertifikat tanah. Saudara kandung bisa jadi mafia tanah soal warisan MOJOK.CO

Saudara Kandung di Desa Itu Bak Mafia, Justru Jadi Orang Paling Busuk dan Licik demi Sikat Sertifikat Tanah Saudara Sendiri

20 Februari 2026
Ramai, 'Cukup Aku Saja yang WNI': Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia MOJOK.CO

Ramai, ‘Cukup Aku Saja yang WNI’: Saya Justru Bangga Melepas Status Warga Negara Austria Demi Paspor Indonesia

20 Februari 2026
PGPAUD, Guru PAUD.MOJOK.CO

Nekat Kuliah di Jurusan PGPAUD UNY demi Wujudkan Mimpi Ibu, Setelah Lulus Harus ‘Kubur Mimpi’ karena Prospek Kerja Suram

19 Februari 2026
Mila Sejahtera Bus Sialan, 15 Jam Disiksa Berakhir Demam MOJOK.CO

Rangkaian Penderitaan Naik Bus Mila Sejahtera dari Jogja Menuju Jember: Disiksa Selama 15 Jam, Berakhir Demam Tinggi dan Diare. Sialan!

19 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026

Video Terbaru

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.