Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Lipsus

Hubungan Istimewa di Balik Pohon Gayam sebagai “Tanaman Peneduh” dan Candi Borobudur

Redaksi oleh Redaksi
23 April 2026
A A
Aksi tanam 100 pohon gayam di sekitar Candi Borobudur, Magelang. MOJOK.CO

Warga Desa Karangrejo ikut menanam pohon di Hari Bumi. (Sumber: InJourney)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Guna memperingati Hari Bumi (Earth Day) yang dirayakan setiap tanggal 22 April, warga Desa Karangrejo bersama InJourney Destination Management melakukan aksi penanaman 100 pohon gayam di sekitar bantaran Sungai Sileng, Borobudur, Magelang pada Rabu (22/4/2026). 

Aksi Injourney Green ini sekaligus sebagai bentuk komitmen PT Taman Wisata Borobudur (TWB) dalam menjaga kelestarian lingkungan, memperkuat konservasi air, serta mendorong praktik pariwisata berkelanjutan di kawasan Borobudur.

Di balik “kemistisan” pohon gayam di sekitar Borobudur

Konon, pohon gayam dikenal sebagai tanaman peneduh yang mistis tapi kaya manfaat. Pohon Gayam yang artinya ‘ayom’ (teduh) atau ‘ayem’ (ketentraman) ini dipercaya mampu memberikan kesejukan bagi lingkungan sekitarnya.

Selain itu, penelitian membuktikan bahwa ratusan pohon gayam dapat memulihkan daerah aliran sungai (DAS) dari laju erosi sebab punya karakteristik biologis yang unik. Pertama, sistem perakaran yang menghujam dalam sehingga daya resap tanahnya tinggi. 

Kedua, spons alami yang mampu menyerap dan menyimpan air secara perlahan sehingga menjaga ketersediaan air tanah tetap stabil terutama di musim kemarau. Dengan keistimewaan tersebut, gayam pun dipilih sebagai pohon yang akan ditanam dalam aksi Injourney Green guna memperkuat konservasi air. 

Direktur Operasi PT TWB Supriadi Jufri. MOJOK.CO
Direktur Operasi PT TWB Supriadi Jufri menanam pohon gayam. (Sumber: InJourney)

Direktur Operasi PT TWB Supriadi Jufri berujar isu ketersediaan air perlu menjadi perhatian bersama, karena air merupakan pondasi utama bagi kehidupan masyarakat dan keberlangsungan sektor pariwisata.

“Gayam adalah tanaman yang dekat dengan masyarakat. Jika tumbuh baik, manfaatnya bisa dirasakan generasi selanjutnya. Upaya penghijauan ini sangat bermanfaat untuk menjaga bantaran sungai, memperbaiki kualitas lingkungan, serta menumbuhkan kesadaran warga agar semakin peduli terhadap kelestarian alam,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi yang diterima Mojok, Rabu (22/4/2026).

Ikatan istimewa Borobudur dan pohon gayam

Supriadi menegaskan pelestarian lingkungan merupakan bagian tak terpisahkan dari pengelolaan destinasi Candi Borobudur. Menurutnya, kawasan Borobudur tidak hanya harus dijaga nilai sejarah dan budayanya, tetapi juga keseimbangan alam yang menopang keberlanjutan kawasan tersebut.

“Melalui program Injourney Green, kami ingin memastikan bahwa pengembangan destinasi dilakukan secara bertanggung jawab dan memberi dampak nyata bagi lingkungan,” ucapnya.

“Penanaman pohon Gayam di bantaran Sungai Sileng adalah upaya konkret menjaga sumber daya air, mengurangi risiko erosi, sekaligus mewariskan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” lanjutnya.

Injourney Green Hari Bumi 2026. MOJOK.CO
warga Desa Karangrejo bersama InJourney Destination Management dalam aksi Injourney Green. (Sumber: InJourney)

Senada dengan Supriadi, Founder Studio Nawung, Atik mengatakan pemilihan pohon gayam memiliki nilai historis yang erat dengan kawasan Borobudur. Menurutnya, pohon gayam bukan sekadar tanaman, melainkan simbol keteduhan, ketentraman, dan keberlanjutan hidup masyarakat Jawa.

Sepengamatan Atik, pohon gayam tumbuh subur di kawasan Borobudur bahkan meninggalkan jejak identitas di sejumlah nama tempat, seperti Kali Gayam dan Dusun Gayam di Kelurahan Giripurno, Borobudur. 

“Pohon gayam tertua hingga kini masih dapat dijumpai di Dusun Giri Tengah, Kelurahan Kamal, Borobudur. Oleh karena itu, aksi penanaman pohon gayam di kawasan ini diharapkan mampu menghidupkan identitas lokal masyarakat dan menumbuhkan kesadaran ekologis di kawasan,” ucapnya.

Rangkaian agenda khidmat sebelum penanaman pohon

Aksi Injourney Green sendiri dimulai dengan iring-iringan penari ke tepian Sungai Sileng yang diikuti oleh masyarakat sekitar Desa Karangrejo, Borobudur, Magelang dan sejumlah tamu undangan. Prosesi dilanjutkan dengan menampilkan tari beksan pinuwunan sebagai bentuk  permohonan, doa, serta kerinduan manusia terhadap anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Iklan

Setelah itu, tembang Kidung Pangaksama pun dinyanyikan. Secara umum, maknanya sebagai nyanyian suci atau tembang pujian yang berisi permohonan maaf, ampunan, dan kepasrahan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tarian di aksi menanam pohon. MOJOK.CO
Tarian dalam aksi menanam 100 pohon gayam. (Sumber: InJourney)

Pohon yang telah ditanam selanjutnya mendapatkan perawatan rutin secara berkala oleh punggawa ili-ili atau petugas pengatur air/lingkungan dari Studio Nawung, guna memastikan pertumbuhan yang optimal. 

Adapun pemupukan pohon gayam dilakukan menggunakan pupuk kompos yang diolah secara mandiri dari limbah organik yang dihasilkan di kawasan destinasi Candi Prambanan.

Sementara itu, Kepala Desa Karangrejo Hely Rofikun menyambut baik kolaborasi lintas pihak ini. Baginya, aksi di Hari Bumi ini menjadi harapan baru bagi keberlanjutan lingkungan desa. Oleh karena itu, ia mengapresiasi langkah Injourney atas kepeduliannya terhadap lingkungan desa dan kawasan sungai yang menjadi sumber kehidupan warga.

“Semoga langkah ini menjadi upaya pemulihan ekosistem yang berakar pada kearifan lokal dan menyambung kembali rantai identitas alam Borobudur yang mulai memudar. Kami berharap kegiatan ini bisa terus berkelanjutan untuk memastikan kelestarian sumber daya air bagi generasi mendatang,” harapnya.

BACA JUGA: Pohon Beringin, “Si Angker” yang Menyelamatkan Sumber Mata Air di Lereng Muria atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 April 2026 oleh

Tags: aksi tanam pohonborobudurgerakan menanam pohonHari BumiInJourneyinjourney greenpohon gayam
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)
Kilas

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO
Kilas

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO
Kilas

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Barongsai di bandara saat imlek. MOJOK.CO
Hiburan

Semangat Tahun Kuda Api bikin Trafik Penumpang Milik InJourney Melambung 10 Persen Saat Imlek 2026

19 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
Aksi tanam 100 pohon gayam di sekitar Candi Borobudur, Magelang. MOJOK.CO

Hubungan Istimewa di Balik Pohon Gayam sebagai “Tanaman Peneduh” dan Candi Borobudur

23 April 2026
Gen Z pilih soft living daripada slow living

Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti

22 April 2026
Mahasiswa UNJ lulus setelah gagal seleksi PTN jalur SNBT

Penyandang Disabilitas Gagal Diterima PTN Jalur SNBT, Kini Lulus Sarjana Pendidikan di UNJ Berkat “Antar Jemput” Ayah

19 April 2026
Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.