Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kuliner

Kisah Patah Hati di Warung Pecel Cepu Blora, Racik Bumbu yang Dirindukan di Amerika hingga Rusia

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
9 Oktober 2024
A A
Warung Pecel Sunti, Warung Legendaris di Cepu Blora yang Kirim Bumbu hingga ke Amerika dan Rusia MOJOK.CO

Ilustrasi - Warung Pecel Sunti, warung legendaris di Cepu Blora yang punya pelanggan di Amerika dan Rusia. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tugas lapangan di Cepu, Blora, membawa saya pada sebuah warung pecel legendaris. Namanya Warung Pecel Sunti, lokasinya di Jl. St. Kota. Warung yang kerap mengirim bumbu hingga ke Amerika dan Rusia.

***

Iklan

Baru pukul 06.00 WIB, tapi suasana Warung Pecel Sunti sudah berjejal para pembeli, Kamis (5/9/2024). Saya baru bisa masuk tak lama kemudian. Itu pun saya masih harus antre dengan pembeli-pembeli lain yang rata-rata memilih membungkus.

Hanya ada satu-dua orang laki-laki berseragam kerja (sepertinya pekerja di pertambangan minyak Cepu, Blora) yang tampak makan di tempat.

“Telas napa mboten, Bu? (Habis apa nggak, Bu?)” Karena nasi dalam boran sudah tinggal sedikit, saya mencoba memastikan.

“Tenang, Mas, masih ada,” jawab ibu-ibu paruh baya itu, yang kemudian saya tahu bernama Tatik (52), sebelum akhirnya lanjut meladeni pembeli-pembeli yang sudah lebih dulu antre.

Pemilik Warung Pecel Sunti grapyak seperti Lek Damis

Tatik terlihat sangat grapyak dengan para pembeli. Tak jarang dia melempar gojlokan ke mereka yang berujung saling gojlok dan gelak tawa.

Kalau teman-teman pernah melihat konten-konten Lek Damis, ya kurang lebih seperti itu lah sosok Tatik. Bagi orang luar Cepu, mungkin akan agak kaget dan mengiranya sebagai ibu-ibu jutek.

Sampai tiba lah giliran saya. Pengelola Warung Pecel Sunti di Cepu, Blora, itu menyodorkan sepiring nasi pecel dengan lauk telur dan tempe.

Warung Pecel Sunti, Warung Legendaris di Cepu Blora yang Kirim Bumbu hingga ke Amerika dan Rusia MOJOK.CO
Suasana Warung Pecel Sunti di Cepu, Blora. (Aly Reza/Mojok.co)

“Mau diguyur lodeh nggak, Mas? Kalau di sini biasanya begitu. Saya tawari dulu barang kali Masnya nggak cocok,” tawar Tatik.

Saya mengangguk, tidak ada salahnya. Karena pada dasarnya saya “bisa makan apa saja”. Yang penting halal dan kenyang. Dia lantas meraih piring saya, mengguyurnya dengan sayur lodeh.

Rasa pecelnya gurih, tak terlalu manis. Apalagi lokasi Warung Pecel Sunti berada di bawah pohon. Sepoi-sepoi angin dari pohon sungguh menyegarkan. Sebab, sepagi itu, suasana di Cepu, Blora, bahkan sudah terasa sangat sumuk.

Warung Pecel Sunti bisa ludes hitungan jam

Sekitar pukul 06.30 WIB, hanya tersisa beberapa lauk di etalase. Nasi dan bumbu pecel pun sudah ludes.

“Untung sampeyan, Mas, karena biasanya jam 6 sudah habis,” kata Tatik setelah dia longgar. Beruntung juga saat memesan sebelumnya, saya sekalian memesan beberapa bungkus untuk teman-teman saya yang masih tertidur di penginapan.

Tatik akan mulai memasak dari pukul 01.00 WIB, dibantu dengan seorang keponakan dan satu adiknya. Warung legendaris di Cepu, Blora, itu lantas akan buka mulai pukul 04.00 WIB.

Persis saat buka itu, kata Tatik, pembeli akan langsung berdatangan. Tak putus-putus. Maka wajar saja kalau jam 6 pagi pecelnya sudah ludes des.

“Wah kalau sehari saya nggak ngitung ya berapa kilogram beras yang saya masak. Tapi pokoknya, sehari bisa habis 10 sampai 12 boran nasi,” terang Tatik.

Di bulan Ramadan, Tatik biasanya akan buka di waktu sahur, kira-kira mulai pukul 02.00 WIB. Itu pun akan langsung diserbu oleh pembeli. Sehingga berapa kilogram beras pun yang ia masak, pasti jaminan habis.

Iklan

Meracik bumbu sejak SMP

Warung Pecel Sunti buka di Cepu, Blora, sejak 1982, oleh seorang perempuan bernama Sunti, ibunya Tatik.

Dulu Sunti masih jualan di rumahnya sendiri, tidak jauh dari lokasi warung sekarang. Pada 1985, baru lah Sunti pindah ke lokasi sekarang karena memang lebih strategis: berada persis di pinggir jalan raya. Bisa dibilang masih di area Cepu kota.

“Hitungannya sejak kecil saya sudah bantu-bantu Ibu. Sejak SMP saya malah bantu jual di sekolah. Jadi bawa dari warung itu 10 sampai 15 bungkus. Banyak guru-guru saya yang beli,” ungkap Tatik dengan ekspresif.

Warung Pecel Sunti, Warung Legendaris di Cepu Blora yang Kirim Bumbu hingga ke Amerika dan Rusia MOJOK.CO
Seporsi nasi pecel sayur lodeh di Warung Pecel Sunti. (Aly Reza/Mojok.co)

Dari SMP itu pula Tatik mulai diajari sang ibu dalam meracik bumbu pecel agar tercipta cita rasa gurih dan tidak kemanisan. Oleh karena itu, lulus SMA dia sudah mulai bantu-bantu sang ibu. Tidak hanya dalam melayani pembeli, tapi juga sejak proses di dapur.

Pada 2003, Sunti jatuh sakit. Alhasil, kendali warung pecel legendaris itu jatuh di tangan Tatik. Lalu ketika Sunti meninggal pada 2005, Warung Pecel Sunti pun secara otomatis diteruskan oleh Tatik.

“Saya kan anak keempat dari delapan bersauadara. Tiga kakak saya sudah meninggal. Jadi itungannya saya jadi yang tertua, maka saya yang meneruskan sama satu adik saya,” jelas Tatik. Sementara tiga adik Tatik sisanya sudah memiliki pekerjaan lain.

Pelanggan turun-temurun, hingga jual bumbu ke Amerika dan Rusia

Tatik mengaku mengenal hampir semua pelanggan di Warung Pecel Sunti. Sebab, pelanggan-pelanggannya ternyata turun-temurun: pelanggan saat ini adalah anak atau bahkan cucu dari pelanggan di era Sunti.

Ada bahkan beberapa pelanggan, yang meskipun sudah pindah daerah, tapi kerap memesan bumbu pecel ke Tatik. Misalnya yang saat ini domisili di Jakarta.

“Pelangganku yang di Jakarta itu malah sering pesen bumbu pecel untuk dikirim ke anaknya yang kuliah di Amerika. Ada juga yang di Rusia. Ya buat obat kangen rasa pecel saja, kan anaknya suka pecel. Dulu pas masih di Cepu juga makannya di sini,” beber Tatik.

Selain itu, Tatik mengaku pelanggannya juga berasal dari beberapa kampus yang kerap melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Cepu, Blora. Misalnya yang paling sering adalah Institut Teknologi Surabaya (ITS) dan UPN Veteran Yogyakarta.

“Jadi mungkin mereka juga turun-temurun ceritanya. Karena kalau ada mahasiswa KKN dari dua kampus itu, pasti kok ke sini,” kata Tatik.

Tentang cinta yang patah

Sebelum tahu kalau seorang laki-laki humoris yang membantu Tatik meladeni pembeli adalah adiknya, saya sempat mengira laki-laki itu adalah anak Tatik.

Tatik mengaku tidak punya anak. Sebab, hingga sekarang berumur kepala lima, Tatik memutuskan untuk tidak menikah.

“Dulu lulus SMA sempat mau nikah, tapi nggak jadi,” ujar Tatik. Dia lantas menceritakan bagaimana momen itu terjadi. Namun, mohon maaf, tidak bisa saya tulis detilnya di sini.

Umumnya pengelola sebuah warung legendaris akan mewariskan warung pada sang anak. Akan tetapi, karena Tatik tidak memiliki anak, besar kemungkinan warung pecel legendaris di Cepu, Blora itu kelak akan diteruskan oleh adik-adiknya.

“Saya sudah ajari adik saya membuat bumbu pecelnya, misalnya nanti dia akan neruskan warung ini,” tutur Tatik.

***

Saat kami hanyut dalam obrolan, adik Sunti sudah tampak beres-beres. Artinya, sebentar lagi warung pecel legendaris di Cepu, Blora, itu sudah harus tutup. Saya lalu menyodorkan nominal uang untuk pesanan saya.

Untuk seporsi nasi pecel+sayur lodeh dengan lauk telur dan tempe harganya Rp10 ribu. Sementara untuk lauk-lauk lain menyesuaikan jenis lauk apa yang dipilih: ada ayam, lele, dan lain-lain.

“Oh bungkusnya pakai daun jati,” gumam saya saat menerima nasi bungkus yang sudah saya pesan di awal.

“Hooh, Mas. Itu ciri khasnya di Cepu, kalau bungkus-bungkus makanan masih banyak pakai daun jati. Karena lebih gurih,” timpal Tatik.

Saat berpamitan, Tatik meminta agar lain waktu saya mampir lagi ke warung pecel legendaris di Cepu, Blora, itu lagi. Dia menegaskan bahwa Warung Pecel Sunti buka setiap hari. Hanya libur saat Tatik sedang capek saja.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pengalaman Pertama Saya Mencoba Kuliner Ekstrem di Jogja, Rasa Tongseng Ular Tak Semenyeramkan Wujudnya

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2024 oleh

Tags: bloracepu blorawarung legendaris di cepuwarung pecel sunti cepu
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Naik Sepeda Jogja Lamongan demi Menunaikan Rindu pada Ibu MOJOK.CO

Menuntaskan 640 Kilometer Jogja Lamongan Bersepeda demi Ziarah Batin dan Menunaikan Rindu pada Ibu

12 September 2025
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin salurkan bantuan ke korban kebakaran minyak di Blora (Pemprov Jateng)

Rp180 Juta untuk Warga Korban Kebakaran Sumur Minyak di Blora 

22 Agustus 2025
Kerja di Blora jauh lebih untung timbang Jakarta. MOJOK.CO

Tak Sanggup Kerja Kantoran di Jakarta, Putuskan Resign dan Tinggal di Cepu dengan Upah Empat Kali Lipat UMK Blora

8 Juli 2025
Bahaya jika Pratama Arhan jadi bupati Blora berkat mertua (Andre Rosiade) MOJOK.CO

Pratama Arhan Memang Lahir di Blora, Tapi Belum Tentu Paham soal Blora kalau Nanti Jadi Bupati, Apalagi Jalur Mertua

26 Mei 2025
Membayangkan Pratama Arhan jadi bupati Blora seperti harapan mertua (Andre Rosiade) MOJOK.CO

Membayangkan jika Pratama Arhan Jadi Bupati Blora, Bikin Program 1 Keluarga 1 Pemain Timnas atau Sekadar Boneka Mertua?

26 Mei 2025
Muhidin M. Dahlan: Merayakan Seabad Pram dengan Touring ke Blora

Muhidin M. Dahlan: Merayakan Seabad Pram dengan Touring ke Blora

25 Februari 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kenangan Honda Astrea Grand 1996 di Surabaya. MOJOK.CO

Astrea Grand 1996 Milik Bapak: Saksi Bisu Ketangguhan Orang Tua Saya, Kini Tetap Slay Menyibak Kemacetan Surabaya

27 Agustus 2026
pegawai BPO

Lulusan Magister Biologi Rela jadi Pegawai BPO di Tanah Rantau Agar Tidak Dianggap Pengangguran dan Bikin Orang Tua Menderita

26 Agustus 2026
Motor Honda Verza tua itu 12 tahun menemani saya mengejar rezeki MOJOK.CO

Jok motor Honda Verza tua itu sudah sobek, tangki penyok, spion patah diserempet truk, tapi menolak pensiun menemani saya 12 tahun mengejar rezeki menembus pegunungan Banjarnegara

27 Agustus 2026
Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Semesta Buku Yogyakarta 2026 MOJOK.CO

Semesta Buku Yogyakarta Hadir Bersama Pasetaky #4 dan Jakal Bookshop Festival 2026: Rayakan Buku, Komunitas, dan Ruang Literasi 

27 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.