Sejumlah pedagang Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM) punya kiat khusus agar mampu bertahan di tengah situasi ekonomi yang pelik. Selain itu, mereka juga dituntut untuk beradaptasi di era digital. Berikut upaya yang bisa dicontoh dari para pedagang:
#1 Pedagang UMKM mengakrabkan diri dengan pelanggan
Salah satu pedagang UMKM yang bertahan dari tahun 1980-an adalah Teguh. Penjual es campur di kantin Politeknik Ahli Usaha Perikanan (UAP) Jakarta itu telah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa dan dosen.
Kini, usaha es campur milik Teguh telah diteruskan oleh anaknya, Muhammad Amin Ma’ruf. Pemuda berusia 26 tahun itu berujar, tak sekadar melanjutkan usaha sang ayah, tapi juga mempertahankan kedekatan dengan mahasiswa dan alumni yang telah lama menjadi pelanggan.

“Itu pesan dari ayah untuk mengingat dan menyapa para alumni sebagai bagian dari identitas usaha keluarga ini,” ucap Amin dikutip dari keterangan resmi DANA, Rabu (3/6/2026).
#2 Banting setir untuk mencari peluang
Berbeda dengan Amin, Lukman secara kebetulan membuat usaha roti kukus pada tahun 2019 karena keinginan sang istri. Ide itu muncul ketika istrinya sedang mengandung dan mengidam roti kukus khas Bandung.
Dari keinginan sederhana itu, Lukman melihat peluang untuk menghadirkan kudapan serupa di Jakarta dan sekitarnya. Berbekal latar belakang pendidikan perhotelan, ia mengembangkan roti kukus dengan pilihan topping premium yang ia beri nama Okurokus.
“Saya memulai usaha roti kukus dari gerobak bekas mie ayam yang saya desain ulang sendiri,” kata Lukman yang sebelumnya bekerja sebagai penjual mie ayam.
Menurut Lukman, masih belum banyak pedagang yang menjual roti kukus dibandingkan mie ayam. Dengan membuat inovasi sedikit saja, ia yakin brand Okurokus miliknya dapat berkembang dan disukai pelanggan.
#3 Pedagang UMKM harus terbuka dengan perkembangan digital
Selain mempertahankan tradisi dan tak berhenti melakukan inovasi, kiat satu ini juga tak kalah penting. Baik Amin maupun Lukman mengaku telah beradaptasi dengan dunia digital guna menjaga usahanya tetap berjalan.
Alih-alih takut dengan perkembangan teknologi yang semakin cepat, Lukman justru terbuka. Baginya, teknologi bukan sekadar mengikuti tren, tetapi bagian dari cara menjaga ritme usaha agar tetap tertata ketika bisnis mulai melibatkan lebih banyak pihak.
Ia pun tak segan untuk memanfaatkan digitalisasi seiring dengan perkembangan Okurokus. Mulai dari memanfaatkan layanan pesan-antar, membuka opsi pembayaran digital, hingga menggunakan catatan transaksi untuk membantu memantau alur pembayaran dengan mitra maupun vendor di berbagai lokasi.
Sementara itu, Amin menganggap adaptasi digital dimulai dari kebutuhan yang paling dekat dengan operasional harian. Misalnya, melayani mahasiswa dan alumni yang semakin terbiasa bertransaksi secara non-tunai.
“Di tengah jam ramai kantin, pembayaran digital membantu proses transaksi berjalan lebih ringkas, mengurangi kendala uang kembalian, serta membuat pemasukan harian lebih mudah dilihat kembali,” ucapnya.
#4 Ragam pemakaian digitalisasi UMKM
Kisah Amin dan Lukman menunjukkan bahwa digitalisasi UMKM tidak harus dimaknai sebagai perubahan besar atau dilakukan dengan cara yang sama.
Bagi usaha kecil, langkah digital bisa dimulai dari kebutuhan sederhana yang paling sering terjadi setiap hari, seperti menerima pembayaran, mencatat pemasukan, atau memantau arus kas.
Dari hal-hal mendasar inilah pelaku usaha dapat membangun kebiasaan pengelolaan keuangan yang lebih rapi dan berkelanjutan.
Director of Communications DANA Indonesia, Olavina Harahap berujar sejak didirikannya dompet digital seperti DANA, pihaknya telah merancang agar pemilik usaha di berbagai skala bisa lebih terbantu dalam menjalankan operasional mereka.
Apalagi, sekitar 40 persen dari jumlah UMKM DANA Bisnis adalah pemilik usaha yang berasal dari kota-kota sekunder. Olavina berujar, dari jumlah tersebut, mereka cenderung belum sepenuhnya paham soal transaksi digital.
“Ketika hal-hal mendasar ini mulai tertata, pelaku usaha memiliki dasar yang lebih kuat untuk mengambil keputusan, menjaga keberlanjutan bisnis, dan secara bertahap mengakses solusi finansial lain yang relevan, baik untuk kebutuhan pribadi maupun usahanya,” ujar Olavina Harahap.
Pada akhirnya, dari kantin kampus hingga gerobak roti kukus, kisah Amin dan Lukman memperlihatkan bahwa usaha kecil tidak pernah benar-benar kecil bagi orang yang menjalaninya. Di balik setiap transaksi, ada keluarga yang dijaga, keputusan harian yang harus diambil, dan harapan agar usaha tetap tumbuh dari hari ke hari.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan